Pemangsaan penyergapan merupakan taktik pemangsaan dari hewan karnivora dengan cara sembunyi-sembunyi atau memikat mangsanya dan menangkapnya secara tiba-tiba. Pemangsa jenis ini memiliki karakteristik seperti pendekatan untuk menerjang mangsanya dalam waktu singkat, akselerasi dan kecepatan tinggi, serta menjaga kontrol terhadap dinamika serangan. Posisi keberadaan pemangsa juga harus luput dari pengamatan mangsa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pemangsaan penyergapan merupakan taktik pemangsaan dari hewan karnivora dengan cara sembunyi-sembunyi atau memikat mangsanya dan menangkapnya secara tiba-tiba. Pemangsa jenis ini memiliki karakteristik seperti pendekatan untuk menerjang mangsanya dalam waktu singkat, akselerasi dan kecepatan tinggi, serta menjaga kontrol terhadap dinamika serangan. Posisi keberadaan pemangsa juga harus luput dari pengamatan mangsa.[1]

Membuat jebakan adalah salah satu strategi yang dilakukan oleh beberapa pemangsa penyergap seperti undur-undur, laba-laba penenun jaring, dan lalat kadis. Pembuatan jebakan memiliki tujuan antara lain adalah membantu menaklukkan mangsa yang lebih besar atau bergerak cepat dan meningkatkan jangkauan serangan pemangsa penyergap.[2]

Mimikri agresif merupakan strategi yang digunakan pemangsa atau parasit untuk menyerupai spesies tidak berbahaya, sehingga dapat menghindari deteksi oleh mangsa atau inang. Mimikri agresif berbeda secara mendasar dengan mimikri defensif. Peniru dalam mimikri defensif diuntungkan karena disangka sebagai makhluk berbahaya. Dalam mimikri agresif, peniru seperti pemangsa atau parasit, menyerupai mangsanya atau organisme lain yang dianggap bermanfaat atau tidak berbahaya oleh mangsa, sehingga memungkinkan mereka mendekati target tanpa dicurigai.[3] Salah satu contoh dari pemangsa penyergap yang memiliki strategi ini adalah belalang anggrek yang berusaha meniru bunga anggrek untuk menarik mangsanya, serangga penyerbuk, untuk datang kepada mereka.[4] Contoh lain pemangsa ini adalah kura-kura aligator yang memanfaatkan lidahnya yang berwarna merah muda dan mampu menggeliat untuk membuat mangsanya mengira bahwa lidah tersebut adalah cacing.[5]
Terdapat berbagai macam metode yang digunakan pemangsa penyergap untuk mendeteksi mangsanya seperti merasakan kehangatan mangsa atau menggunakan sensor mekanis. Ular bandotan berdekik mampu merasakan mangsanya melalui keahliannya dalam mengembangkan reseptor inframerah.[6] Reseptor tersebut berupa sepasang lubang yang berada di posisi bagian depan kepala dan dilengkapi oleh membran sensoris di setiap lubangnya.[7] Di sisi lain, terdapat hewan yang mengandalkan cara yang berbeda dalam mendeteksi mangsa, seperti Bathypterois grallator atau ikan tripod laut dalam yang mengandalkan penempatan sirip dadanya ke atas maupun ke depan untuk mengidentifikasi mangsanya. Ikan tersebut tidak mengandalkan matanya untuk menemukan mangsanya.[8]