Pekan Heran merupakan salah satu desa di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Desa ini memiliki keberagaman budaya dan tradisi yang dijaga secara turun temurun.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Pekan Heran | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Peta lokasi Desa Pekan Heran | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Riau | ||||
| Kabupaten | Indragiri Hulu | ||||
| Kecamatan | Rengat Barat | ||||
| Kode pos | 29351 | ||||
| Kode Kemendagri | 14.02.02.2005 | ||||
| Luas | 5892 Ha | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Pekan Heran merupakan salah satu desa di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Desa ini memiliki keberagaman budaya dan tradisi yang dijaga secara turun temurun.
Saat ini Pekan Heran dipimpin Suparmanto S.Pd, yang dilantik sebagai Kepala Desa 11 Agustus 2025, menggantikan A's at Habsah, SKM. Programnya, antara lain pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan jalan yang ditujukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas antar desa.
Kebudayaan Melayu Indragiri masih kental di Desa Pekan Heran. Misalnya warga menggunakan bahasa Melayu untuk percakapan sehari-hari. Pada sore hari masih ada anak-anak laki-laki berkumpul dan bermain gasing di halaman rumah. Seni tradisional seperti Gebane, Tari Lukah, dan silat menjadi aset budaya yang tidak hanya memperkaya identitas desa, tetapi juga berpotensi menarik wisatawan.[1]
Pada saat musim hujan Desa Pekan Heran akan kebanjiran. Warga akan menghentikan sementara kegiatan tanam menanam, mereka akan memanfaatkan banjir untuk menjala ikan, maupun belondak (bermain di air).
Nama Pekan Heran itu berasal dari kata Bekam dan Heran. Bekam adalah sebuah batang kayu berukuran kecil yang kuat menahan beban besar. Sedangkan Heran berarti takjub atau kagum. H Abdul Gafar, sesepuh daerah itu menyebut nama Bekam Heran pertama kali diberikan oleh Datuk Perpatih.
Kala itu, Datuk Perpatih bersama rombongan datang ke Indragiri dengan menaiki rakit yang terbuat dari kayu kulim, ketika berhenti di sebuah perkampungan tua yang saat ini bernama Pekan Heran, Datuk Perpatih menambatkan rakit mereka di sebuah batang kayu kecil. Bukannya patah atau tumbang, kayu itu malah kokoh dan membekam. Hal itu membuat Datuk Perpatih heran atau kagum.
Akhirnya Datuk Perpatih memberi nama perkampungan tua itu dengan Bekam Heran. Seiring waktu berjalan, nama Bekam Heran berobah menjadi Pekan Heran. Kata pekan merupakan sebutan untuk pasar tradisioanal yang ada di desa itu. [2]
Karang Taruna “Satria Melayu” menjadi pelopor kegiatan pemuda di Desa Pekan Heran. Organisasi ini aktif dalam bidang olahraga, seni budaya, dan kegiatan lingkungan.
Desa ini rerdiri dari 12 Rukun Tetangga (RT) dan 6 Rukun Warga (RW). Saat ini populasinya 4.772 jiwa, terdiri dari 1.662 laki-laki dan 3.110 perempuan, Desa Pekan Heran menjadi cerminan keberagaman suku dan budaya, karena meskipun merupakan desa lama dengan matoritas penduduk suku Melayu, tetapi suku Minang, Jawa, Batak, Banjar, Bugis, bahkan Cina menjadi warga di sini.
Bahasa yang biasa di gunakan di sana adalah bahasa Melayu karena mayoritasnya adalah Melayu. Meskipun begitu komunikasi antar warga berlangsung baik. Beberapa slogan lokal sering terdengar dalam warga berinteraksi, misalnya "nak kemane tu?", "tak de, ke hulu". Sapaan itu tidak saja di kalangan orang Melayu juga suku-suku lainnya di Pekan Heran.
Durian dengan berbagai produknya merupakan salah satu kearifan lokal Desa Pekan Heran. Desa penghasil durian kampung ini juga memproduksi lempuk, pekasam, dan joghuk.
Mayoritas penduduk Desa Pekan Heran petani sawit. Hampir 98% warganya mempunyai lahan kelapa sawit. Salah satu ketertarikan warga terhadap kelapa sawit karena lebih tahan terhadap banjir luapan Sungai Indragiri.
Pekan Heran berada di ketinggian 15 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 9.250 hektar, memiliki dataran rendah yang subur. Inilah faktor pendukung pertanian, perkebunan, dan pengembangan peternakan. Letaknya yang hanya 5,5 kilometer dari ibu kota kabupaten memberikan keuntungan strategis dalam mendukung aksesibilitas ekonomi dan sosial.[3]
Pembangunan ekonomi di Pekan Heran ditayangkan oleh keadaan pasar desa itu. Meski sekali seminggu, yaitu hari Ahad, pasar yang terletak di depan kantor Kepala Desa itu ramai didatangi penjual dan pembeli.
Salah satu potensi desa ini adalah ikan rawa dan ikan sungai. Terutama di hari pekan berbagai jenis ikan rawa dijual di pasar, misalnya ikan puyu-puyu, gabus, dan lele. Sedangkan ikan sungai antara lain patin kunyit, patin lubuk, baung, dan tapah. Namun usaha tani untuk membudidayakan ikan-ikan tersebut belum lumrah.
Perubahan wajah Pekan Heran tampak pada bangunan pendidikan, terutama pendidikan keagamaan. Beberapa Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) sudah berubah menjadi permanen.
Mudahnya akses komunikasi dan transportasi menjadi salah satu penyebab warga Desa Pekan Heran melakukan mobilisasi. Beberapa orang merantau ke daerah atau kota lain, dengan tujuan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan namun tidak tersedia di Pekan Heran. Terutama generasi muda, meninggalkan sementara desa ini untuk melanjutkan pendidikan.
Salah satu dampak mobilisasi itu, adalah pandangan masyarakat terhadap perantau ada yang prihatin terhadap rumah maupun aset lainnya yang mereka tinggalkan yang tidak terurus, ada juga kagum atas keberanian mereka. Terutama terhadap pencari kerja yang berhasil, maupun terhadap anak muda yang melanjutkan pendidikan. Dampak berikutnya adalah muncul gejala kecemburuan sosial tanpa terbuka, di kalangan warga.
·