Pendidikan pastoral klinis bermula dari keyakinan bahwa pelayanan pastoral adalah pelayanan gereja yang dibutuhkan di tengah krisis yang bersifat multi-dimensional di Indonesia, baik yang bersifat sosial, seperti konflik antar-kelompok, maupun individual, seperti tekanan jiwa atau stress mental yang dialami banyak orang. Situasi ini mendorong gereja untuk lebih meningkatkan pelayanan pastoralnya dalam upaya menolong orang agar mendapatkan kesembuhan, topangan, bimbingan, dan pendamaian. Sampai saat ini, pelayanan pastoral yang dilakukan gereja-gereja di Indonesia masih belum optimal karena jumlah tenaga yang terbatas dan persiapan secara akademis-teoretis dengan pemahaman refleksi teologis yang tidak berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak tenaga pelayanan pastoral yang hanya menguasai teori tetapi tidak terampil dalam melayani, dan banyak rumusan teologi pastoral yang kurang relevan dengan kebutuhan orang-orang yang dilayani.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2016) |
Pendidikan pastoral klinis bermula dari keyakinan bahwa pelayanan pastoral adalah pelayanan gereja yang dibutuhkan di tengah krisis yang bersifat multi-dimensional di Indonesia, baik yang bersifat sosial, seperti konflik antar-kelompok, maupun individual, seperti tekanan jiwa atau stress mental yang dialami banyak orang.[1] Situasi ini mendorong gereja untuk lebih meningkatkan pelayanan pastoralnya dalam upaya menolong orang agar mendapatkan kesembuhan, topangan, bimbingan, dan pendamaian.[1] Sampai saat ini, pelayanan pastoral yang dilakukan gereja-gereja di Indonesia masih belum optimal karena jumlah tenaga yang terbatas dan persiapan secara akademis-teoretis dengan pemahaman refleksi teologis yang tidak berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari.[2] Akibatnya, banyak tenaga pelayanan pastoral yang hanya menguasai teori tetapi tidak terampil dalam melayani, dan banyak rumusan teologi pastoral yang kurang relevan dengan kebutuhan orang-orang yang dilayani.[2]

Untuk mengatasi kelemahan pendidikan pastoral yang sangat bersifat akademis-teoretis ini, seorang pendeta dan dua orang dokter di Amerika Serikat memulai suatu model pendidikan pastoral baru, yang kemudian disebut dengan Clinical Pastoral Education (disingkat CPE).[2] Pendidikan ini bersifat klinis, artinya langsung melibatkan diri dalam kehidupan orang-orang yang dilayani, jadi dalam pendekatan ini seseorang belajar pastoral pertama-tama dari living human documents (manusia), dan bukan dari buku atau kuliah-kuliah tertentu.[2] Beberapa tokoh yang pada akhirnya disebut sebagai perintis CPE, antara lain: William S. Keller, Anton Boisen, dan Richard C. Cabot.[3] Sebenarnya ketiga tokoh tersebut merintis CPE sebagai reaksi atas pendidikan teologi tradisional di Amerika Serikat pada waktu itu yang masih bersifat intelektualistis.[3] Mereka menyadari bahwa mahasiswa-mahasiswa teologi sebenarnya perlu belajar pastoral secara klinis, dan mahasiswa-mahasiswa teologi ini perlu mempelajari pelayanan pastoral dari living human documents dan tidak hanya dari buku atau kuliah-kuliah saja.[3]
Tujuan umum CPE sama dengan tujuan pendidikan pastoral pada umumnya, yaitu menyiapkan orang untuk dapat melakukan pelayanan pastoral.[3] CPE ini juga memiliki beberapa tujuan khusus, yaitu:[4]
Elemen-elemen dasar program CPE, antara lain::[5]
Ada dua situasi dalam menghadapi orang yang sakit, yaitu situasi lahiriah dan situasi batiniah.[6]
Mengunjungi dan melayani orang sakit yang dirawat di rumah biasanya akan lebih banyak keuntungannya daripada mengunjungi dan melayani orang sakit di rumah sakit, karena pelayan pastoral bertemu dan dapat mengadakan kontak dengan anggota-anggota lain dari keluarga orang yang sakit itu.[6] Akan tetapi mengunjungi dan melayani orang sakit yang dirawat di rumah juga memiliki kesulitan tersendiri, karena kehadiran seorang pendeta atau pelayan pastoral bisa disalahtafsirkan dan disalahgunakan oleh keluarga.[7] Kunjungan dan pelayanan yang dilakukan di rumah sakit juga memiliki kesulitannya tersendiri, bukan karena adanya peraturan dari rumah sakit, tetapi karena situasi di rumah sakit itu sendiri yang memiliki temponya tersendiri, sehingga pelayan pastoral tidak boleh mengganggu tempo tersebut.[7]
Yang dimaksudkan dengan situasi batiniah adalah situasi orang yang sedang sakit itu sendiri.[8] Orang yang sakit adalah orang yang merasa dirinya dibuat menjadi pasif, sehingga memiliki harapan untuk sembuh, dan orang sakit ini memiliki kesulitan fisik serta ketidakstabilan psikis.[8] Orang yang sedang sakit ini bisa saja diibaratkan bahwa orang tersebut sedang mengalami kedukaan, meskipun kedukaan yang dirasakan tidak seperti orang yang mengalami kedukaan saat ditinggal oleh orang yang dikasihinya, karena kedukaan itu sering kali diartikan sebagai penderitaan, dan kata kedukaan ini dapat dikaitkan deengan sesuatu yang kita atau seseorang alami sebagai suatu kerugian.[6]
Ketika hendak melakukan pelayanan kepada orang sakit, baik yang dirawat di rumah maupun di rumah sakit, maka pelayan pastoral harus memperhatikan dan mengenal terlebih dahulu klien atau pasien yang hendak dikunjungi, karena setiap orang itu unik dan memiliki khas masing-masing, jadi dibutuhkan cara dan metode yang berbeda juga ketika hendak melakukan pastoral.[1] William A. Clebsch dan Charles R. Jaekle mengatakan bahwa ada empat fungsi dasar pastoral yang telah dilakukan disepanjang sejarah gereja, yaitu: menyembuhkan (healing), menopang (sustaining), membimbing (guiding), dan mendamaikan (reconciling).[2] Kemudian Howard Clinebell menambahkan fungsi yang kelima, yaitu memelihara (nurturing).[2]