Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Pasola

Pasola berasal dari kata sola atau hola, yang merujuk pada jenis lembing kayu yang digunakan dalam tradisi saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan pa-, istilah tersebut bermakna permainan. Dengan demikian, pasola atau pahola adalah permainan ketangkasan berupa saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang berlari kencang antara dua kelompok yang saling berhadapan. Pasola merupakan bagian dari rangkaian upacara tradisional masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu, yaitu sistem kepercayaan lokal setempat. Kegiatan ini diselenggarakan di empat wilayah di Kabupaten Sumba Barat, yakni Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap tahun, umumnya berlangsung antara bulan Februari hingga Maret.

Upacara Adat di Indonesia
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pasola
Pasola, 2016

Pasola berasal dari kata sola atau hola, yang merujuk pada jenis lembing kayu yang digunakan dalam tradisi saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan pa- (menjadi pa-sola atau pa-hola), istilah tersebut bermakna permainan. Dengan demikian, pasola atau pahola adalah permainan ketangkasan berupa saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang berlari kencang antara dua kelompok yang saling berhadapan. Pasola merupakan bagian dari rangkaian upacara tradisional masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaan Marapu, yaitu sistem kepercayaan lokal setempat. Kegiatan ini diselenggarakan di empat wilayah di Kabupaten Sumba Barat, yakni Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap tahun, umumnya berlangsung antara bulan Februari hingga Maret.[1]

Sejarah

Menurut cerita rakyat Sumba, asal-usul pasola dikaitkan dengan kisah seorang perempuan bernama Rabu Kaba yang tinggal di Kampung Waiwuang. Ia merupakan istri dari Umbu Amahu, salah satu pemimpin kampung, bersama dua pemimpin lainnya, yaitu Ngongo Tau Masusu dan Bayang Amahu. Ketiganya suatu waktu berpamitan kepada warga untuk melaut, namun sebenarnya pergi ke wilayah selatan Sumba Barat untuk mengambil padi. Dalam waktu yang lama, mereka tidak kembali, sehingga masyarakat menganggap ketiganya telah meninggal dunia dan mengadakan masa berkabung.[2]

Dalam situasi tersebut, Rabu Kaba menjalin hubungan dengan Teda Gaiparona dari Kampung Kodi. Hubungan ini tidak mendapat persetujuan keluarga kedua belah pihak, sehingga keduanya melakukan kawin lari dan menetap di kampung asal Teda Gaiparona. Beberapa waktu kemudian, ketiga pemimpin yang sebelumnya dianggap meninggal kembali ke Waiwuang. Umbu Amahu kemudian mencari istrinya yang telah pergi bersama Teda Gaiparona.[2]

Meskipun Rabu Kaba berhasil ditemukan, ia tidak bersedia kembali karena telah menjalin hubungan dengan Teda Gaiparona. Selanjutnya, ia meminta agar Teda Gaiparona memenuhi kewajiban adat berupa penggantian belis kepada keluarga suami sebelumnya. Belis merupakan bentuk penghargaan dalam perkawinan adat, yang dapat berupa hewan ternak seperti kuda, sapi,kerbau, serta barang berharga lainnya. Permintaan tersebut dipenuhi, dan setelah seluruh belis dilunasi, dilaksanakan upacara pernikahan antara Rabu Kaba dan Teda Gaiparona. Pada akhir peristiwa tersebut, keluarga Umbu Amahu menyampaikan pesan kepada masyarakat Waiwuang agar mengadakan pesta nyale yang diwujudkan dalam bentuk pasola, sebagai bagian dari upaya mengakhiri masa kesedihan yang mereka alami.[2]

Proses upacara

Tradisi nyale merupakan puncak dari segala kegiatan untuk memulai pasola.

Pasola diawali dengan pelaksanaan adat nyale, yaitu upacara yang berkaitan dengan ungkapan syukur atas hasil alam, yang ditandai oleh datangnya musim panen dan kemunculan cacing laut dalam jumlah besar di pesisir. Upacara ini berlangsung pada saat bulan purnama, ketika cacing laut (yang dalam bahasa setempat disebut nyale) muncul di tepi pantai. Para Rato, yaitu pemuka adat, menentukan waktu kemunculan nyale yang umumnya terjadi pada pagi hari setelah fajar. Nyale pertama yang ditemukan oleh Rato kemudian dibawa ke pertemuan para pemuka adat untuk diperiksa, terutama dari segi bentuk dan warna. Nyale yang tampak gemuk, sehat, dan berwarna cerah ditafsirkan sebagai pertanda baik bagi hasil panen, sedangkan kondisi yang kurus dan rapuh dianggap sebagai pertanda kurang baik. Setelah proses ini selesai, masyarakat diperbolehkan melakukan penangkapan nyale. Pelaksanaan pasola tidak dapat dilakukan tanpa adanya nyale.[3][4]

Pasola diselenggarakan di padang terbuka dan disaksikan oleh masyarakat dari kedua kelompok peserta, warga umum, serta pengunjung. Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100 orang penunggang kuda yang membawa lembing kayu berujung tumpul dengan diameter sekitar 1,5 cm.[5] Meskipun tidak runcing, penggunaan lembing tersebut tetap berpotensi menimbulkan cedera serius. Dalam kepercayaan Marapu, korban yang terjadi dalam pasola dihubungkan dengan konsekuensi atas pelanggaran adat. Pertandingan berlangsung dengan dua kelompok yang saling berhadapan, menunggang kuda dan melempar lembing ke arah lawan sambil berupaya menghindari serangan. Suasana permainan ditandai oleh gerakan kuda yang cepat, suara hentakan kaki kuda, serta seruan para peserta dan penonton. Darah yang tertumpah selama pasola dipercaya memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kesuburan tanah dan keberhasilan panen. Apabila terjadi kematian, hal tersebut dalam pandangan kepercayaan setempat dikaitkan dengan adanya pelanggaran norma adat yang telah terjadi sebelumnya.[4]

Manfaat

Pasola tidak hanya dipandang sebagai bentuk perayaan, tetapi juga sebagai wujud pengabdian serta pernyataan ketaatan kepada leluhur. Tradisi ini merupakan bagian dari praktik religius yang mencerminkan unsur kepercayaan dalam agama Marapu.[6] Selain itu, pasola berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial, baik antara kelompok yang terlibat langsung dalam pelaksanaan maupun dalam masyarakat secara luas.[7] Tradisi ini juga mencerminkan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat atas hasil panen yang diperoleh. Dalam perkembangannya, pasola turut berperan sebagai daya tarik budaya yang mendukung sektor pariwisata di Sumba. Kegiatan ini telah dikenal oleh wisatawan mancanegara dan sering menarik kehadiran pengunjung dalam setiap penyelenggaraannya. Oleh karena itu, pasola juga dipandang sebagai salah satu aset budaya yang berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah.[8]

Nilai pasola

Pasola adalah tradisi adat masyarakat Sumba yang berakar pada kepercayaan Marapu. Dalam sistem kepercayaan Marapu, dikenal enam nilai dasar yang disebut lii ndai (diartikan sebagai hal purbakala[9][10]). Lii diartikan sebagai sabda Tuhan atau Dewa yang berisi tuturan tulisan tentang ajaran - ajaran , perintah dan larangan . Lii Ndai terdiri dari lii marapu, lii konda lii rato, lii ndewa-lii pahomba, lii la lei-lii manguama, lii heda-lii meti, dan lii kiringu-lii andungu.[11] Nilai-nilai ini menjadi landasan bagi keseluruhan pelaksanaan pasola, yang tidak bersifat tunggal tetapi saling terkait, mencakup aspek ketuhanan, kepemimpinan, pengetahuan, ekonomi, sosial, estetika, dan lingkungan hidup.[12]

Nilai Ketuhanan tercermin dalam pemujaan terhadap Marapu, arwah leluhur, dan kekuatan supranatural. Masyarakat Sumba meyakini bahwa keberkahan dan keselamatan bergantung pada penghormatan terhadap Marapu melalui ritual yang melibatkan tombak suratan (numbu urata), tiang suratan (kabaringu Urata), dan persembahan hewan. Pasola menekankan keseimbangan antara manusia, leluhur, dan Yang Maha Kuasa. Kesalahan dalam pemujaan dapat menimbulkan malapetaka atau kesengsaraan, sehingga ritual selalu diikuti secara disiplin dan penuh etika.[12]

Nilai Kepemimpinan dalam pasola tercermin melalui peran rato, yaitu pemimpin upacara yang bertanggung jawab memandu seluruh rangkaian kegiatan pasola, mulai dari perhitungan nyale hingga pelaksanaan permainan. Rato menjalankan tugasnya dengan prinsip keadilan, bermusyawarah, memberi nasihat, serta menegakkan peraturan tanpa bersikap dendam. Jabatan rato bersifat sakral karena memegang otoritas dalam penerapan hukum adat, ilmu suci, dan pengawasan serta evaluasi pelaksanaan upacara. Dalam menjalankan kepemimpinannya, rato menjadi teladan bagi warga melalui perilaku nyata yang mencerminkan etika, tanggung jawab, dan integritas. Pada akhir upacara, pemimpin secara terbuka dapat menyampaikan permintaan maaf kepada warga apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan selama proses kepemimpinan, menunjukkan prinsip pertanggungjawaban dan keselarasan sosial.[12]

Nilai Pengetahuan dalam pasola meliputi keterampilan dan wawasan yang diwariskan leluhur. Pengetahuan tersebut mencakup arsitektur rumah adat, perhitungan astronomi untuk menentukan waktu pelaksanaan pasola, serta ketrampilan menenun kain tenun ikat yang menjadi bagian penting dari busana adat peserta. Keterampilan ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika, tetapi juga menentukan ketepatan ritual dan mendukung aktivitas pertanian masyarakat. Nilai Ekonomi terlihat dari tujuan pasola untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan. Darah peserta pasola yang terluka saat permainan dianggap menyuburkan tanah, sedangkan munculnya nyale melambangkan keberlimpahan hasil panen. Kuda yang digunakan dalam pasola menjadi simbol kemakmuran dan status sosial sehingga mendorong peningkatan kualitas ternak dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.[12]

Nilai Sosial menekankan solidaritas, kerjasama, dan gotong royong. Pelaksanaan pasola membutuhkan koordinasi antarwarga, antar-rato, dan antar-kelompok pemain, mulai dari persiapan hingga penyelesaian upacara. Kerja sama ini menumbuhkan rasa kekeluargaan dan keteraturan sosial dalam komunitas. Nilai Estetika terlihat pada busana busana tradisional, hiasan kuda, dan tarian yang menyertai upacara, memperkaya pengalaman visual dan budaya pasola. Nilai Lingkungan Hidup diwujudkan melalui larangan-larangan yang menjaga kelestarian alam, termasuk perlindungan mata air, perawatan ternak, dan habitat nyale. Norma ini memastikan keberlanjutan sumber daya alam sekaligus menjaga kesucian arena pasola.[12]

Referensi

  1. ↑ Boro, Paulus Lete.(1995). Pasola, permainan ketangkasan berkuda lelaki Sumba, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Jakarta. Obor.Hal 1-2.
  2. 1 2 3 (Inggris) Sumba Pasola Festival-Sumba Island, Lombokmarine. Diakses pada 26 Mei 2010.
  3. ↑ Agency, ANTARA News (2017-01-30). "Pasola Sumba Mulai Digelar 18 Februari". Antara News NTT. Diakses tanggal 2026-04-01.
  4. 1 2 Kompasiana.com (2011-01-03). "Pasola". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-04-01.
  5. ↑ Codingest (2019-02-26). ""Nyale & Pasola", Tradisi Unik Kebanggaan Sumba yang Mampu Menghipnotis Mata para Pelancong - Tribrata News - Polres Sumba Barat". Tribrata News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-01.
  6. ↑ Saadah, Sri (2002). Aneka budaya masyarakat Dani (Irja) dan Sumba (NTT). Proyek Pemanfaatan Kebudayaan,Direktorat Tradisi dan Kepercayaan, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata 2. Jakarta. Hal 12-13.
  7. ↑ Najib, Mohammad (1996). Demokrasi dalam perspektif budaya Nusantara, Jilid 2 Demokrasi dalam perspektif budaya Nusantara. Yogyakarta. LPKSM. Hal 45.ISBN 979-8867-01-7, 9789798867019.
  8. ↑ Tradisi Pasola Diarsipkan 2010-03-23 di Wayback Machine., Kompas. Diakses pada 7 Mei 2010.
  9. ↑ Forth, Gregory L. (2012-12-11). Rindi: An Ethnographic Study of a Traditional Domain in Eastern Sumba (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 89. ISBN 978-90-04-28724-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ Kapita, U. H. (1976). Masyarakat Sumba dan adat istiadatnya. Panitia Penerbit Naskah-Naskah Kebudayaan Daerah Sumba, Dewan Penata Layanan Gereja Kristen Sumba. hlm. 203. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ Agama, religi & kepercayaan lokal: penelitian di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2006. hlm. 139. ISBN 978-979-26-2476-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. 1 2 3 4 5 Widiyatmika, Munandjar; Hudiono, Prof. dr. (2013). Pasola. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 9786021749739. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Lihat pula

  • Nyale
  • Sumba
  • Sumba Timur
  • Sumba Barat

Pranala luar

  • (Indonesia) Pemerintah Kabupaten Sumba Barat
  • (Indonesia) Pemerintah Provinsi NTT Diarsipkan 2015-10-19 di Wayback Machine.
  • (Indonesia) Media Informasi Pulau Sumba

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Proses upacara
  3. Manfaat
  4. Nilai pasola
  5. Referensi
  6. Lihat pula
  7. Pranala luar
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026