Pasar Pon adalah pasar tradisional tertua di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur yang diresmikan oleh presiden Joko Widodo pada November 2021.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Pasar Pon adalah pasar tradisional tertua di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur yang diresmikan oleh presiden Joko Widodo pada November 2021.[1]
Nama “Pon” berasal dari salah satu hari dalam penanggalan pasaran Jawa yang menjadi penanda waktu kegiatan ekonomi masyarakat sejak masa lalu. Meskipun pasar ini beroperasi setiap hari, puncak keramaiannya terjadi pada hari Pon, ketika pedagang dari berbagai desa sekitar datang membawa hasil bumi, kerajinan, serta kebutuhan rumah tangga.[butuh rujukan]
Konstruksi Pasar Pon ini dibangun dengan konsep arsitektur perpaduan klasik-victorian dan arsitektur lokal yang memiliki aksen candi dan bata ekspose. Dengan luas lahan 12.000 m2 dan luas bangunan 5.800 m2, Pasar Pon memiliki 479 kios dan 310 los kering.[butuh rujukan]
Pasar Pon ini memiliki karakter khas pasar rakyat: lorong-lorong sempit, kios-kios lama berdampingan dengan lapak musiman, serta interaksi tawar-menawar yang hidup.[butuh rujukan]
Produk utama yang dijual meliputi sayur-mayur dari dataran tinggi Trenggalek, aneka palawija, rempah, pakaian, peralatan rumah tangga, hingga jajanan tradisional seperti cenil, getuk, dan tiwul.[butuh rujukan] Selain menjadi pusat distribusi hasil pertanian lokal, pasar ini juga berfungsi sebagai ruang sosial yang mempertemukan warga desa, petani, dan pedagang antar kecamatan.[butuh rujukan]
Dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Pon mengalami revitalisasi untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus mempertahankan identitas tradisionalnya. Perbaikan sanitasi, penataan zonasi pedagang, dan peningkatan fasilitas menjadi upaya pemerintah daerah agar pasar tetap kompetitif tanpa kehilangan nuansa budaya Jawa yang lekat. Selain itu, pasar ini dibangun dengan menerapkan prinsip green building, agar dapat menghemat biaya operasional dan biaya perawatan. Hingga kini, Pasar Pon tetap menjadi denyut kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat Trenggalek.[2]