Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPapula penis mutiara
Artikel Wikipedia

Papula penis mutiara

Papula mutiara penis adalah benjolan kecil atau bintik jinak pada penis manusia. Ukurannya bervariasi dari 0,5-1 mm, berwarna seperti mutiara atau sewarna daging, halus dan memiliki ujung berbentuk kubah atau filiformis, serta muncul dalam satu atau beberapa baris di sekitar korona, yaitu tepi kepala penis dan terkadang pada batang penis. Benjolan ini tidak menimbulkan rasa sakit, nonkanker, dan tidak berbahaya. Kondisi medis karena memiliki papula ini disebut papilomatosis hirsutoid atau hirsuties papillaris coronae glandis.

Wikipedia article
Diperbarui 9 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Papula penis mutiara
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Papula mutiara penis
Nama lain(papula):
  • Papiloma hirsutoid[1]
  • Papillae coronae glandis (harfiah: 'papila pada korona glans')
(kondisi medis):
  • Papilomatosis hirsutoid
  • Hirsuties papillaris coronae glandis (harfiah: 'hirsutisme papiler pada korona glans')
Glans penis dengan papula mutiara penis
SpesialisasiDermatologi
GejalaNormal, tidak nyeri, benjolan kecil pada tepi glans penis manusia[2]
Awitan umumUsia 20-30 tahun[3]
Metode diagnostikVisualisasi[3]
Diagnosis bandingKutil kelamin, moluskum kontagiosum, hiperplasia sebasea, liken nitidus[2]
PengobatanMeyakinkan pasien dan umumnya tidak memerlukan pengobatan[3] krioterapi, terapi laser,[2] eksisi cukur (shave excision)[3]
PrognosisTidak berbahaya[3]
FrekuensiUmum terjadi[1]

Papula mutiara penis (bahasa Inggris: Pearly penile papules, disingkat PPP; juga dikenal sebagai papiloma hirsutoid atau sebagai papillae coronae glandis,[4] bahasa Latin untuk 'papila pada korona glans') adalah benjolan kecil atau bintik jinak pada penis manusia.[2][3] Ukurannya bervariasi dari 0,5-1 mm, berwarna seperti mutiara atau sewarna daging, halus dan memiliki ujung berbentuk kubah atau filiformis, serta muncul dalam satu atau beberapa baris di sekitar korona, yaitu tepi kepala penis dan terkadang pada batang penis.[2][5] Benjolan ini tidak menimbulkan rasa sakit, nonkanker, dan tidak berbahaya.[2] Kondisi medis karena memiliki papula ini disebut papilomatosis hirsutoid atau hirsuties papillaris coronae glandis (bahasa Latin untuk 'hirsutisme papiler pada korona glans').

Penyebab dan mekanisme

Gambar jarak dekat papula mutiara penis

PPP adalah salah satu jenis angiofibroma.[3] Fungsinya belum dipahami dengan baik.[1] Papula ini biasanya dianggap sebagai sisa-sisa vestigial dari duri penis, yaitu fitur sensitif yang ditemukan di lokasi yang sama pada primata lainnya.[6][7] Papula ini tidak menyebar dan sering kali menyusut secara spontan.[8] Bersama dengan kelenjar Fordyce, PPP mengeluarkan minyak untuk menjaga kulit kepala penis tetap dalam kondisi baik.[9] Smegma dapat menumpuk jika minyak ini diproduksi secara berlebihan atau pencucian di bawah kulup tidak memadai.[9]

Diagnosis

Diagnosis dilakukan melalui visualisasi.[3] Pada dermoskopi, papula berwarna putih-merah muda tampak dalam pola menyerupai batu bulat (cobblestone) dan mengandung pembuluh darah berbentuk titik atau koma di bagian tengah. Tidak terdapat sisik.[1] PPP terkadang disalahartikan sebagai kutil kelamin karena tampilannya yang dianggap mirip.[10] Papula ini juga bisa tampak mirip dengan moluskum kontagiosum, hiperplasia sebasea, dan liken nitidus.[2] Histopatologi menunjukkan jaringan ikat yang padat, fibroblas, dan banyak pembuluh darah.[5]

Penanganan

Sebelum dan sesudah penanganan untuk menghilangkan papula mutiara penis

Secara umum, meyakinkan pasien tentang kondisinya sudah cukup dan tidak ada penanganan medis yang diperlukan.[3][11] Terapi laser atau krioterapi dapat dipertimbangkan bagi pria yang merasa terganggu melihat PPP atau merasa sangat malu.[1]

Laser karbon dioksida umumnya memberikan hasil yang baik dengan proses penyembuhan kulit dalam waktu tujuh hari.[1] Prosedur ini memerlukan anestesi, mungkin perlu dilakukan lebih dari satu kali, dan memiliki risiko pendarahan, jaringan parut, serta perubahan warna kulit.[1] Prosedur lainnya melibatkan penggunaan hifrekator.[12]

Epidemiologi

PPP sangat umum dan terjadi pada 14% hingga 48% pria muda.[1][2] Beberapa penelitian menyebutkan bahwa papula ini kurang umum pada pria yang telah disunat,[2] dan terjadi sekitar setengah kali lebih sering dibandingkan pada pria yang tidak disunat, tetapi beberapa penelitian lainnya melaporkan hal yang sebaliknya.[13]

Sosial dan budaya

Beberapa pria merasa terganggu melihat PPP karena kemiripannya dengan beberapa infeksi menular seksual.[1][14] Meskipun tidak berkaitan dengan penyakit apa pun, PPP terkadang disalahartikan sebagai kutil HPV.[15] Terdapat juga berbagai pengobatan rumahan untuk "menyembuhkannya", terlepas dari fakta bahwa papula ini tidak menular maupun membahayakan kesehatan.[9][14] Beberapa "pengobatan rumahan" yang ditemukan di internet dan tempat lain menggunakan salep atau krim ringan untuk melembutkan papula, tetapi yang lainnya merupakan teknik menghilangkan papula yang secara fisik berbahaya dan dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diobati.[16]

Karena dokter kulit (dermatolog) memiliki cara yang aman dan efektif untuk mengangkat papula tersebut jika diinginkan, pengobatan rumahan yang melibatkan zat korosif atau pembedahan sendiri harus dihindari, karena dapat merusak fungsi seksual secara permanen. Pengangkatan sebaiknya hanya dilakukan oleh dokter yang menggunakan teknik medis yang telah terbukti.[16][17]

Referensi

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Hirsuties papillaris genitalis.
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aldahan, Adam S.; Brah, Tara K.; Nouri, Keyvan (May 2018). "Diagnosis and Management of Pearly Penile Papules". American Journal of Men's Health. 12 (3): 624–627. doi:10.1177/1557988316654138. ISSN 1557-9883. PMC 5987947. PMID 27316776.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Love, Lauren W.; Badri, Talel; Ramsey, Michael L. (2021). "Pearly Penile Papule". StatPearls. StatPearls Publishing. PMID 28723057.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 James, William D.; Elston, Dirk; Treat, James R.; Rosenbach, Misha A.; Neuhaus, Isaac (2020). "28. Dermal and subcutaneous tumors". Andrews' Diseases of the Skin: Clinical Dermatology (dalam bahasa Inggris) (Edisi 13th). Elsevier. hlm. 616. ISBN 978-0-323-54753-6.
  4. ↑ Harth, Wolfgang; Gieler, Uwe; Kusnir, Daniel; Tausk, Francisco A. (2008). Clinical Management in Psychodermatology. Springer. hlm. 53. ISBN 9783540347187.
  5. 1 2 Johnstone, Ronald B. (2017). "34. Fibrous tumors and tumor-like proliferations". Weedon's Skin Pathology Essentials (Edisi 2nd). Elsevier. hlm. 614. ISBN 978-0-7020-6830-0.
  6. ↑ "Pearly Penile Papules: A Common Cause of Concern". International Journal of STD & AIDS. 10 (11). 1999.
  7. ↑ Kumar P, Das A, Savant SS (2015). "Multiple Shiny Papules on the Shaft of the Penis". Indian Journal of Dermatology (dalam bahasa English). 60 (3): 325. doi:10.4103/0019-5154.156491. PMC 4458986. PMID 26120199. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  8. ↑ Brown, Clarence W (8 July 2020). "Pearly Penile Papules: Background, Pathophysiology, Etiology". Medscape. Diarsipkan dari asli tanggal 30 June 2021. Diakses tanggal 20 October 2021.
  9. 1 2 3 French, Kathy (2009). Sexual Health (dalam bahasa Inggris). Chichester: Wiley-Blackwell. hlm. 31–32. ISBN 978-1-4051-6831-1.
  10. ↑ Li H (28 August 2015). Radiology of Infectious Diseases (dalam bahasa English). Springer. hlm. 405. ISBN 9789401798822. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  11. ↑ Paller, Amy S.; Mancini, Anthony J. (2020). "9. Cutaneous tumors and tumor syndromes". Clinical Pediatric Dermatology: A Textbook of Skin Disorders of Childhood and Adolescence (dalam bahasa Inggris) (Edisi 6th). St Louis, Missouri: Elsevier. hlm. 251. ISBN 978-0-323-54988-2.
  12. ↑ Marwah, Deepak (2019). Final Edge: Image-based Questions (dalam bahasa Inggris) (Edisi 3rd). New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers. hlm. 358. ISBN 978-93-5270-431-6.
  13. ↑ Agha K, Alderson S, Samraj S, Cottam A, Merry C, Lee V, Patel R (November 2009). "Pearly penile papules regress in older patients and with circumcision". International Journal of STD & AIDS. 20 (11): 768–70. doi:10.1258/ijsa.2009.009190. PMID 19833692.
  14. 1 2 Pattman R, Snow M, Handy P, Elawad B. Oxford handbook of genitourinary medicine, HIV, and AIDS. Vol. 13.
  15. ↑ Pye, Laura (2009), "Human papillomaviruse and vaccination", InnovAiT, Royal College of General Practitioners
  16. 1 2 Rapini RP, Bolognia JL, Jorizzo JL (2007). Dermatology: 2-Volume Set. St. Louis: Mosby. ISBN 978-1-4160-2999-1.
  17. ↑ Sonnex C, Dockerty WG (November 1999). "Pearly penile papules: a common cause of concern". International Journal of STD & AIDS. 10 (11): 726–7. doi:10.1258/0956462991913402. PMID 10563558. S2CID 25452350.
Klasifikasi
D
  • ICD-10: N48.89
  • ICD-9-CM: 607.89
Sumber luar
  • eMedicine: article/1058826

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Penyebab dan mekanisme
  2. Diagnosis
  3. Penanganan
  4. Epidemiologi
  5. Sosial dan budaya
  6. Referensi

Artikel Terkait

Penis manusia

organ reproduksi luar bagi laki-laki

Korona glans penis

mana papula penis mutiara berkembang, kondisi yang umum dan tidak berbahaya. Korona glans penis. Korona glans penis Dydoe Corona+of+glans+penis di Kamus

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026