Paok pelangi adalah spesies burung pengicau berukuran kecil dalam genus paok di famili Pittidae, endemik di wilayah utara Australia, yang berkerabat paling dekat dengan paok agung dari Pulau Manus. Burung ini memiliki kepala berwarna hitam beludru dengan garis berangan di atas mata, bagian atas berwarna hijau zaitun, bagian bawah berwarna hitam, perut berwarna merah cerah, dan ekor berwarna hijau zaitun. Sebagai burung endemik Australia, spesies ini hidup di hutan musim dan beberapa hutan eukaliptus yang lebih kering.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Paok pelangi | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Passeriformes |
| Famili: | Pittidae |
| Genus: | Pitta |
| Spesies: | P. iris |
| Nama binomial | |
| Pitta iris Gould, 1842 | |
| Sebaran dalam warna merah | |
Paok pelangi (Pitta iris) adalah spesies burung pengicau berukuran kecil dalam genus paok di famili Pittidae, endemik di wilayah utara Australia, yang berkerabat paling dekat dengan paok agung dari Pulau Manus. Burung ini memiliki kepala berwarna hitam beludru dengan garis berangan di atas mata, bagian atas berwarna hijau zaitun, bagian bawah berwarna hitam, perut berwarna merah cerah, dan ekor berwarna hijau zaitun. Sebagai burung endemik Australia, spesies ini hidup di hutan musim dan beberapa hutan eukaliptus yang lebih kering.
Seperti jenis paok lainnya, paok pelangi adalah burung yang pemalu dan suka bersembunyi. Makanannya terutama terdiri dari serangga, artropoda, dan vertebrata kecil. Pasangan burung ini mempertahankan wilayahnya dan berkembang biak selama musim hujan, karena periode tersebut menyediakan pakan paling melimpah untuk anakannya. Burung betina bertelur tiga hingga lima butir telur bercak di dalam sarangnya yang besar dan berbentuk kubah. Kedua induk mempertahankan sarang, mengerami telur, dan memberi makan anak-anaknya. Meskipun spesies ini memiliki sebaran global yang sempit, burung ini tergolong umum di habitat lokalnya, dan Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) telah menilainya sebagai spesies risiko rendah.
Paok pelangi dideskripsikan oleh ahli ornitologi dan pelukis burung asal Inggris John Gould pada tahun 1842, berdasarkan sebuah spesimen yang dikumpulkan dari Semenanjung Cobourg di Northern Territory, Australia.[2][3] Nama spesifik iris berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti "pelangi";[4] ini juga menjadi asal usul dari nama umumnya.[5]
Spesies ini dulunya dianggap sebagai subspesies dari paok lantang di Australia bagian timur,[6] dan juga pernah dikelompokkan ke dalam sebuah kompleks spesies dengan spesies tersebut, paok elok, dan paok topeng,[7] meskipun klasifikasi tersebut tidak sepenuhnya diterima secara universal.[5] Studi tahun 2006 tentang DNA nuklear burung paok dan burung suboscin Dunia Lama lainnya menemukan bahwa kerabat terdekatnya adalah paok agung dari Pulau Manus di lepas pantai utara Papua Nugini. Studi yang sama mengakibatkan famili paok dipecah dari satu genus menjadi tiga, dengan spesies ini tetap dipertahankan dalam genus Pitta.[8]
Spesies ini telah lama dianggap bersifat monotipe,[5] namun pada tahun 1999, populasi di Australia Barat dipisahkan menjadi subspesies P. i. johnstoneiana oleh Richard Schodde dan Ian J. Mason.[3]

Paok pelangi memiliki panjang 16 hingga 18 cm (6,3–7,1 in),[3] dan berat 52–88 g (1,8–3,1 oz). Betina memiliki berat 67 g (2,4 oz), rata-rata sedikit lebih berat dari jantan, yang memiliki berat 62 g (2,2 oz).[9] Burung ini biasanya berdiri tegak saat mencari makan atau beristirahat, dengan kaki sedikit ditekuk, dan tubuh ditahan pada sudut 60–70°. Ia bergerak dengan cara melompat.[10] Kepala, leher, dada, sisi tubuh dan perut bagian atasnya berwarna hitam beludru, bagian atasnya berwarna hijau zaitun, sedangkan perut bagian bawah dan penutup bawah ekor berwarna merah kirmizi. Sayapnya berwarna hijau dengan kilap keemasan dan memiliki bercak biru mengilap pada penutup sayap kecil, serta bulu terbang dan bagian bawah sayap berwarna hitam. Ekornya berwarna hijau zaitun dengan pangkal hitam dan penutup atas ekor kadang-kadang memiliki pita biru keperakan yang melintang.[3] Spesies ini memiliki paruh hitam, kaki merah muda, mata cokelat, dan garis berwarna berangan di sepanjang setiap sisi mahkotanya.[9] Banyak individu yang menampilkan guratan gelap yang merupakan ciri khas famili paok, yang bisa berbentuk panah atau garis-garis, di bagian tengah bulu pada bagian atas tubuhnya; pemeriksaan terhadap kulit spesimen menemukan bahwa sekitar 60% paok pelangi memilikinya. Hal ini agak bervariasi secara regional, karena burung-burung dari Darwin ditemukan tidak memilikinya.[7] Uniknya dalam famili paok, guratan pada spesies ini tidak berwarna gelap atau kehitaman, melainkan berwarna perunggu.[5]
Warna bulunya pada dasarnya sama untuk kedua jenis kelamin; betina mungkin memiliki sedikit lebih banyak warna kuning pucat di sisi tubuhnya dan corak merah yang sedikit berbeda di perut bagian bawah, namun perbedaan ini tidak membuat kedua jenis kelamin dapat dibedakan hanya dari bulunya saja.[9] Subspesies P. i. johnstoneiana sangat mirip dengan ras nominat, kecuali alis berangannya yang lebih besar, begitu pula dengan bercak sayapnya, namun secara keseluruhan ukuran burung ini sedikit lebih kecil.[3]

Paok pelangi merupakan burung endemik di Northern Territory dan Australia Barat, dan ditemukan dari permukaan laut hingga ketinggian 380 m (1.250 ft). Ia adalah satu-satunya spesies paok yang endemik di Australia.[3] Di Northern Territory, burung ini ditemukan di kawasan Top End, dari Darwin ke timur hingga tepi Lereng Curam Arnhem. Lebih jauh ke timur, ia ditemukan di Groote Eylandt[9] dan Kepulauan Wessel.[11] Di Australia Barat, sebarannya terbatas di pesisir Kimberley, dari Ceruk Walcott hingga Pulau Middle Osborn. Burung ini juga ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Bonaparte.[9]
Ia paling umum ditemukan di hutan monsun dan di semak rambat serta hutan galeri yang berdekatan, dan juga terdapat di hutan eukaliptus, hutan bambu, hutan dan semak kayu putih, hutan Lophostemon, dan tepi hutan bakau (namun tidak pernah di dalam hutan bakau itu sendiri). Spesies ini sebagian besar ditemukan di hutan tertutup, tetapi juga dijumpai di hutan yang lebih terbuka.[9] Terkadang burung ini ditemukan di perkebunan pinus introduksi, dan bahkan berkembang biak di habitat tersebut.[3][12] Spesies ini adalah satu dari hanya dua jenis paok yang pernah tercatat mencari makan di halaman rumput terbuka di perkotaan.[7]
Spesies ini bersifat sedenter, sebagian besar pasangan menempati wilayah mereka sepanjang tahun. Beberapa pergerakan lokal ke habitat yang lebih marginal telah tercatat selama musim kemarau. Pergerakannya bisa sulit dilacak selama musim pascaberbiak, karena ia terdiam selama masa pergantian bulu tahunan, dan umumnya pemalu sepanjang tahun. Burung muda menyebar dari wilayah induknya, mencari wilayah mereka sendiri. Seekor burung remaja yang telah dipasangi cincin ditemukan 65 km (40 mi) dari wilayah asalnya.[9]
Paok pelangi memiliki beberapa suara dan peragaan yang digunakannya untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Burung jantan bersuara jauh lebih sering daripada betina,[10] dan keduanya lebih sering bersuara selama musim berbiak. Sepanjang tahun, seekor burung menghabiskan 12% dari harinya untuk bersuara. Vokalisasi dimulai satu jam sebelum fajar, dan paling sering terjadi di sekitar waktu fajar, lalu pada waktu kapan pun sebelum pukul 10 pagi dan setelah pukul 4 sore.[9]
Salah satu peragaan yang umum adalah peragaan membungkuk, di mana kaki ditahan lurus dan tubuh ditahan secara vertikal, dengan dada hampir menyentuh tanah. Peragaan ini hanya pernah diamati dilakukan oleh burung jantan. Selama peragaan ini, paok mengeluarkan suara mendengkur yang tidak terdengar di waktu lain. Peragaan ini bersifat teritorial, dan dilakukan oleh burung yang bertetangga di sepanjang batas wilayah, satu burung meragakan setelah burung lainnya. Peragaan dan suara dengkuran tersebut diadaptasikan agar terdengar di bawah cahaya redup lantai hutan namun tidak terlalu mencolok sehingga dapat menarik perhatian pemangsa.[10] Suara yang paling sering dikeluarkan, yaitu "teow-whit, teow-whit" atau "choowip-choowip", kemungkinan juga bersifat teritorial.[3][9]
Perilaku defensif dari spesies ini adalah kibasan sayap, di mana sayap setengah terbuka selama sedetik setiap lima detik. Perilaku ini disertai dengan suara "keow", dan dilakukan ketika pemangsa yang potensial mendekat ke sarang. Burung ini juga akan melakukan peragaan merentangkan sayap ketika pemangsa berada di dekat sarang, berdiri tegak dan tiba-tiba membuka sayapnya secara kilat. Perilaku ini mungkin mengalihkan perhatian pemangsa menjauh dari sarang. Ketika burung dewasa itu sendiri terancam, ia mungkin mengambil postur menunduk, menahan dadanya ke tanah dan ekornya terangkat tinggi.[10]
Pasangan yang bersarang melakukan ritual sederhana saat menggantikan pasangannya selama masa pengeraman. Induk yang tiba akan hinggap di dahan dekat sarang dan mengeluarkan siulan dua suku kata sebanyak dua atau tiga kali. Mendengar hal ini, burung yang sedang mengerami akan pergi tanpa bersuara, dan induk yang menggantikannya akan mengambil tempatnya.[12]
Paok pelangi merupakan burung yang tidak biasa di antara fauna burung di wilayah sebarannya karena mencari makan secara eksklusif di tanah.[13] Makanan paok pelangi didominasi oleh serangga dan larvanya, artropoda lain, siput, dan cacing tanah. Di dekat Darwin, dua pertiga makanannya adalah cacing tanah; makanan ini sebagian besar diambil selama musim hujan dari bulan Oktober hingga April. Serangga dan artropoda lainnya lebih umum dimakan pada musim kemarau;[9] ini termasuk kecoa, kumbang, semut, ulat dan belalang, kelabang, laba-laba, serta kaki seribu.[3] Burung ini juga memakan buah Carpentaria yang jatuh ke tanah, serta katak dan kadal.[9]
Spesies ini mencari makan secara individu dengan melompat-lompat di lantai hutan, lalu berhenti sejenak untuk memindai; daun dan tanah dicakar oleh kakinya dan dedaunan mungkin disingkirkan dengan paruhnya.[9] Saat memakan siput, burung ini memecahkannya dari cangkangnya menggunakan akar sebagai landasan.[9][11] Berbeda dengan paok lantang, burung ini hanya menggunakan akar dan dahan sebagai landasan, bukan batu. Mangsa yang lebih besar seperti kelabang besar akan diguncang dan dijatuhkan, kemudian burung ini mundur selama beberapa detik sebelum mengulangi proses tersebut.[9]
Paok pelangi bersifat monogami selama musim berbiak, namun tidak membentuk ikatan seumur hidup. Sepasang burung mungkin tetap bersama pada tahun berikutnya setelah berbiak, tetapi mereka lebih cenderung mencari pasangan baru.[9] Perkembangbiakan pada spesies ini bersifat musiman, berlangsung dari bulan Desember hingga April. Hujan pertama pada musim hujan tampaknya menjadi pemicu untuk membangun sarang, karena musim berbiak tampaknya berkorelasi dengan ketersediaan cacing tanah, yang merupakan bagian utama dari makanan baik untuk anakan maupun burung dewasa selama periode ini.[12]
Ukuran wilayah berbiak bervariasi dari 16 hingga 31 ha (40–77 ekar); wilayahnya lebih luas di hutan yang lebih kering.[9] Lokasi bersarang ditempatkan secara acak di seluruh wilayah pasangan tersebut, meskipun sarang kedua dalam setahun ditempatkan agak jauh dari sarang yang digunakan sebelumnya pada musim yang sama. Sarang tidak digunakan lebih dari sekali; jika pasangan tersebut mengeluarkan satu sangkak baru dalam satu musim maka sarang yang baru akan dibangun. Berbeda dengan paok lantang, yang sebagian besar menempatkan sarangnya di dekat tanah, paok pelangi sangat jarang menempatkan sarangnya dekat dengan tanah, kemungkinan karena habitatnya lebih mudah banjir. Burung ini menempatkan sarangnya di mana saja mulai dari permukaan tanah hingga setinggi 20 m (66 ft) di atas pohon, dan pasangan yang sama dapat menunjukkan variasi lokasi yang serupa dalam satu musim bersarang. Sarang dapat ditempatkan di percabangan pohon, di puncak pohon palem, pada dahan mendatar, di sela-sela tanaman rambat, atau menempel pada akar banir pohon.[12]
Sebuah sarang membutuhkan waktu sekitar seminggu untuk dibangun, dan dibangun oleh kedua induk. Sarang ini dimulai sebagai anjungan ranting, di mana sebuah kubah dibangun di atasnya. Sarang yang tertutup itu kemudian dilapisi dengan kulit kayu dan dedaunan sebelum lapisan akhir berupa serat yang lebih halus, daun paku-pakuan, dan akar-akar kecil ditambahkan.[12] Satu ciri yang tidak biasa dari sarang paok pelangi, yang dalam famili ini hanya dimiliki bersama dengan paok lantang, adalah penambahan pelet kotoran walabi di pintu masuk sarang. Dalam sebuah studi terhadap 64 sarang di Northern Territory, 34% dihias dengan cara ini. Fungsi kotoran tersebut belum dapat dipastikan; ada anggapan bahwa baunya menyamarkan bau telur, anakan, atau burung dewasa yang sedang mengeram dari pemangsa sarang, tetapi para peneliti menemukan bahwa sarang yang dihias dimangsa sama seringnya dengan sarang yang bersih. Pintu masuk juga mungkin dihiasi dengan benda-benda lain seperti bulu rambut dingo atau bulu burung; fungsinya juga tidak diketahui tetapi mungkin untuk berkomunikasi dengan individu lain dari spesies yang sama.[14] Sarang burung paok mungkin berbentuk kubah untuk melindunginya dari pemangsa sarang, namun bukti mengenai hal ini belum konklusif. Sarang dimangsa oleh hewan pengerat dan ular, dan sarang lebih sering diserang di hutan monsun daripada di hutan eukaliptus.[15] Tingkat kegagalan bersarang tergolong tinggi untuk spesies ini; 12% sarang dimangsa di hutan eukaliptus dan 60% sarang di hutan monsun.[9]
Rata-rata satu sangkak telur paok pelangi berisi empat butir telur, tetapi ada yang berisi tiga atau lima butir.[12] Telurnya berbentuk membulat dan berwarna putih dengan bintik-bintik dan bercak-bercak sepia serta tanda abu-abu di bawahnya. Ukuran rata-ratanya adalah 262 mm × 212 mm (10,3 in × 8,3 in).[9] Kedua induk mengerami telur selama 14 hari. Giliran mengeram berlangsung rata-rata 87 menit dan pasangan tersebut mengerami telur mereka selama 90% dari waktu siang hari. Anakan menetas dalam keadaan gundul, dengan kulit hitam dan cakar kuning. Mata mereka terbuka setelah empat hari,[12] dan bulu kapasnya, ketika tumbuh, berwarna abu-abu.[5] Kedua induk memberi makan anak-anaknya, dengan jeda waktu rata-rata antar pemberian makan hanya 7,5 menit. Cacing tanah dipotong-potong sebelum diberikan kepada anakan yang lebih kecil.[9] Anakan meninggalkan sarang setelah 14 hari, sebelum mereka tumbuh sepenuhnya. Mereka terus diberi makan selama antara 15 hingga 20 hari setelah keluar dari sarang, yang setelahnya mereka menjadi mandiri dari induknya, dan bahkan mungkin diusir dari wilayah tersebut oleh induknya. Setelah membesarkan satu seperindukan, beberapa paok pelangi mungkin membangun sarang baru dan menghasilkan seperindukan kedua; dalam sebuah penelitian, dua dari empat pasangan yang diamati secara saksama kembali bertelur. Pasangan tersebut bahkan mungkin membangun sarang berikutnya saat masih memberi makan seperindukan sebelumnya.[12]
Paok pelangi tidak dianggap terancam kepunahan. Spesies ini memiliki sebaran global yang terbatas namun secara umum mudah dijumpai di seluruh wilayah sebarannya. Di Taman Nasional Kakadu, burung ini ditemukan dengan tingkat kepadatan satu ekor per 10.000 m2 (110.000 sq ft). Subspesies asal Australia Barat, P. i. johnstoneiana, mungkin kondisinya tidak sebaik itu, karena sapi liar merusak habitatnya dan tampaknya menyebabkan sedikit penurunan populasi, meskipun keberadaan subspesies ini belum banyak diketahui.[3] Secara keseluruhan, paok pelangi dievaluasi sebagai spesies risiko rendah oleh Daftar Merah Spesies Terancam IUCN.[1]