Panta bhat atau poita bhat terdiri dari nasi yang dimasak lalu direndam dan difermentasi dalam air. Bagian cairnya dikenal sebagai Torani dalam bahasa Odia. Hidangan ini dibuat dengan merendam nasi, biasanya sisa nasi, dalam air semalaman. Orang biasanya menyajikannya pada pagi hari dengan garam, bawang, cabai dan Aloo Makha atau Alu Pitika. Hidangan ini dikonsumsi di Benggala Barat, Odisha dengan nama Pakhala, Jharkhand, Chhattisgarh, Assam, Tripura dan Bangladesh. Panta bhat dengan ikan ilish menjadi hidangan nasional Bangladesh. Hidangan ini populer saat Pahela Baishakh atau tahun baru Benggala. Catatan abad ke-17 sudah menyebut hidangan ini. Pakhala dari Odisha tercatat sejak abad ke-10 Masehi dan dikenal sebagai asal mula hidangan ini. Panta bhat memiliki lebih banyak mikronutrien dibanding nasi baru dimasak dan secara tradisional dianggap bermanfaat dalam berbagai kondisi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Panta bhat | |
|---|---|
Panta Ilish - a traditional platter of Panta bhat with fried Ilish slice, supplemented with dried fish (shutki), pickle (achar), dal, green chillies and onion - is a popular serving for the Pahela Baishakh festival. | |
| Nama lain | poita bhat (Standard Assamese), ponta bhat (Kamrupi Assamese, Kamtapuri), zokra bhat (Kamrupi Assamese), zokora bhat (Central Assamese), bore basi (Chhattisgarhi, pazhaya Sadam (Tamil), pazhamkanji/pazhakanji (Malayalam) literally old gruel. |
| Sajian | Main course |
| Tempat asal | India Bangladesh |
| Daerah | Bengal region Assam |
| Hidangan nasional terkait | Bengali cuisine Assamese cuisine |
| Bahan utama | Rice, water |
| Aneka | Pakhala |
Panta bhat atau poita bhat terdiri dari nasi yang dimasak lalu direndam dan difermentasi dalam air. Bagian cairnya dikenal sebagai Torani dalam bahasa Odia. Hidangan ini dibuat dengan merendam nasi, biasanya sisa nasi, dalam air semalaman.[1] Orang biasanya menyajikannya pada pagi hari dengan garam, bawang, cabai dan Aloo Makha atau Alu Pitika. Hidangan ini dikonsumsi di Benggala Barat, Odisha dengan nama Pakhala, Jharkhand, Chhattisgarh, Assam, Tripura dan Bangladesh. Panta bhat dengan ikan ilish menjadi hidangan nasional Bangladesh. Hidangan ini populer saat Pahela Baishakh atau tahun baru Benggala.[2] Catatan abad ke-17 sudah menyebut hidangan ini. Pakhala dari Odisha tercatat sejak abad ke-10 Masehi dan dikenal sebagai asal mula hidangan ini. Panta bhat memiliki lebih banyak mikronutrien dibanding nasi baru dimasak dan secara tradisional dianggap bermanfaat dalam berbagai kondisi.
Antropolog Tapan Kumar Sanyal menyatakan bahwa kelompok proto-Australoid di sebagian Asia Selatan makan panta bhat karena mereka memasak sekali sehari pada malam hari. Fray Sebastien Manrique mencatat dari kunjungannya ke Benggala pada abad ke-17 bahwa orang dari semua komunitas puas dengan makanan harian berupa nasi, sering berupa panta bhat, garam dan sayuran hijau. Kelompok masyarakat yang lebih mampu mengonsumsi ghee, mentega, susu, berbagai olahan susu dan manisan.[3]
Peneliti padi Mahabub Hossain dari International Rice Research Institute menjelaskan bahwa pada masa lalu pekerja tani memilih beras berbutir besar dan berwarna coklat karena cocok untuk nasi berair dan memberi nutrisi lebih. Ketika banyak orang pindah ke kota, kebutuhan tenaga tani menurun. Permintaan terhadap beras coklat dan nasi berair ikut turun. Dalam situasi dominasi beras poles, varietas seperti Lal Swarna dan White Swarna tetap populer karena cocok untuk panta bhat.[4]
Waktu pasti kapan Pakhala mulai masuk ke pola makan harian India Timur tidak diketahui. Namun hidangan ini sudah masuk dalam resep di Kuil Jagannath di Puri sekitar abad ke-10. Kata Pakhala muncul dalam puisi Arjuna Das dalam karya Kåḷpålåtā pada periode 1520 sampai 1530 Masehi.[5]