Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Konoe Fumimaro

Pangeran Fumimaro Konoe adalah seorang politikus Jepang dalam pemerintahan Kekaisaran Jepang yang menjabat Perdana Menteri Jepang ke-34, ke-38, dan ke-39. Ia adalah pendiri/ketua Taisei Yokusankai, dan menjabat perdana menteri ketika Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II.

Wikipedia article
Diperbarui 13 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Konoe Fumimaro
Pangeran
Fumimaro Konoe
近衞 文麿
Konoe pada tahun 1938
Perdana Menteri Jepang ke-34, 38 dan 39
Masa jabatan
22 Juli 1940 – 18 Oktober 1941
Penguasa monarkiShōwa
Sebelum
Pendahulu
Mitsumasa Yonai
Pengganti
Hideki Tōjō
Sebelum
Masa jabatan
4 Juni 1937 – 5 Januari 1939
Penguasa monarkiShōwa
Sebelum
Pendahulu
Senjuro Hayashi
Pengganti
Kiichirō Hiranuma
Pemimpin Taisei Yokusankai
Masa jabatan
12 Oktober 1940 – 18 Oktober 1941
Pengganti
Hideki Tōjō
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1891-10-12)12 Oktober 1891
Tokyo, Kekaisaran Jepang
Meninggal16 Desember 1945(1945-12-16) (umur 54)
Tekigai-sō, Tokyo, Pendudukan Jepang oleh Sekutu
Sebab kematianBunuh diri dengan sianida
Partai politikAsosiasi Asistensi untuk Pemerintahan Kekaisaran (1940–1945)
Afiliasi politik
lainnya
Independen (sebelum 1940)
Suami/istri
Chiyoko Konoe
​
(m. 1896)​
AlmamaterUniversitas Kyoto
Tanda tangan
Penghargaan
  • Order of the Rising Sun, 1st class (en) Terjemahkan
  • Showa Enthronement Commemorative Medal (en) Terjemahkan
  • Capital Rehabilitation Commemorative Medal (en) Terjemahkan
  • Taishō Enthronement Commemorative Medal (en) Terjemahkan
  • Orde Khazanah Suci
  • Knight grand cross of the order of the crown of Italy (en) Terjemahkan
  • 2600th National Anniversary Commemorative Medal (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Find a Grave: 45436221 Modifica els identificadors a Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini
Bagian dari series mengenai
Kokkashugi
Organisasi
  • Taisei Yokusankai
  • Imperial Rule Assistance
    Political Association
  • Yokusan Sonendan
  • National Spiritual Mobilization Movement
  • League of Diet Members Supporting the
    Prosecution of the Holy War
  • Great Japan Youth Party
  • Shōwa Kenkyūkai
  • Kōdōha
  • Young Officers Movement
  • Tōseiha
  • National Foundation Society
  • Black Ocean Society
  • Cherry Blossom Society
  • Japanese Committee on
    Trade and Information
  • Faksi Armada
  • Yūzonsha
Sejarah
  • Insiden Maret
  • Insiden Mukden
  • League of Nations withdrawal
  • Imperial Colors Incident
  • League of Blood Incident
  • Jugun ianfu
  • Insiden 15 Mei
  • Military Academy incident
  • Washington Naval Treaty withdrawal
  • Unit 731
  • Insiden 26 Februari
  • Insiden Jembatan Marco Polo
  • Pembantaian Nanking
  • State General Mobilization Law
  • Pakta Tripartit
  • Perang Dunia II
  • Sook Ching
  • Bataan Death March
  • Hell ship
  • Pertempuran Changde
  • Insiden Kyūjō
  • Pembantaian Manila
  • Purge
Prinsip
  • Emperor-system fascism
  • Fascism
  • Totalitarianism
  • Statism
  • Shintaisei
  • Kokutai
  • Yamato-damashii
  • Bushido
  • Gekokujō
  • Ultranationalism
  • Corporatism
  • State capitalism
  • Militarism
  • State Shinto
  • Greater East Asia Co-Prosperity Sphere
  • Shōwa Restoration
  • Hakkō ichiu
  • Expansionism
  • Propaganda
  • Pan-Asianism
Tokoh
  • Bin Akao
  • Fumimaro Konoe
  • Hideki Tojo
  • Hirohito
  • Sadao Araki
  • Ikki Kita
  • Shūmei Ōkawa
  • Harukichi Shimoi
  • Uesugi Shinkichi
  • Koki Hirota
  • Nobusuke Kishi
  • Nisshō Inoue
  • Tanaka Chigaku
  • Masanobu Tsuji
  • Motoyuki Takabatake
  • Jinzaburō Masaki
  • Kuniaki Koiso
  • Hiranuma Kiichirō
  • Kanji Ishiwara
  • Kingoro Hashimoto
  • Seigō Nakano
  • Otoya Yamaguchi
  • Yukio Mishima
Media
  • Shinmin no Michi
  • How Japan Plans to Win
  • Momotaro: Sacred Sailors
  • Momotarō no Umiwashi
  • Moyuru ōzora
  • The Most Beautiful
  • "Ode of Showa Restoration"
Terkait
  • American cover-up of Japanese war crimes
  • Emperor-system fascism
  • International Military Tribunal for the Far East
  • Japanese history textbook controversies
  • Korean collaborators with Imperial Japan
  • Uyoku dantai
  •  Portal Jepang
  •  Portal Politik
  • l
  • b
  • s
Konoe Fumimaro (April 1939)
Konoe Fumimaro (1938)
Konoe dengan menteri kabinetnya, termasuk Perang Menteri Hideki Tojo, baris kedua, kedua dari kiri (22 Juli 1940)
Sebuah koroner SCAP melakukan postmortem pada Konoe (17 Desember 1945)

Pangeran Fumimaro Konoe (近衛 文麿code: ja is deprecated , Konoe Fumimaro; Konoe juga dieja Konoye, 12 Oktober 1891 – 16 Desember 1945 ) adalah seorang politikus Jepang dalam pemerintahan Kekaisaran Jepang yang menjabat Perdana Menteri Jepang ke-34, ke-38, dan ke-39. Ia adalah pendiri/ketua Taisei Yokusankai, dan menjabat perdana menteri ketika Jepang melibatkan diri dalam Perang Dunia II.

Masa muda

Pangeran Fumimaro Konoe dilahirkan di Tokyo sebagai pewaris keluarga Konoe yang merupakan bagian dari klan Fujiwara. Ayahnya yang bernama Konoe Atsumaro telah lama aktif secara politik, dan pernah mendirikan Ikatan Anti-Rusia pada tahun 1903. Setelah ayahnya meninggal, Fumimaro Konoe mewarisi gelar pangeran, status sosial yang banyak, tetapi ayahnya tidak mewariskan cukup banyak uang.

Pangeran Konoe berhasil melobi agar dirinya diikutsertakan dalam delegasi Jepang yang dikirim ke Konferensi Perdamaian Paris 1919. Pada tahun 1918, sebelum berangkat ke Versailles, ia menerbitkan sebuah esai berjudul Reject the Anglo-American-Centered Peace (Tolak Perdamaian Inggris-Amerika Sentris). Setelah diterjemahkan oleh wartawan Amerika Thomas Franklin Fairfax Millard, penasihat politik Jepang Saionji Kinmochi menulis bantahan dalam jurnal Millard's Review.[1]

Pada tahun 1925, Konoe mendapat perhatian publik yang menguntungkan dirinya setelah mendukung Undang-Undang Pemilihan Umum Jepang. Gelar pangeran yang disandangnya membuatnya mendapat kursi di Dewan Bangsawan Parlemen Jepang. Pada tahun 1933, ia terpilih menjadi Ketua Dewan Bangsawan. Anugerah Grand Cordon Orde Harta Suci diterimanya pada tahun 1934.

Sebagai perdana menteri

Pada bulan Juni 1937, Pangeran Fumimaro Konoe terpilih sebagai Perdana Menteri Jepang. Sebulan setelah menjabat perdana menteri, pasukan Jepang bentrok dengan pasukan Tiongkok dekat Peking dalam peristiwa yang disebut Insiden Jembatan Marco Polo. Konoe mengirim tiga divisi tentara, mengingatkan militer untuk tidak memperburuk konflik. Dalam waktu tiga minggu militer melancarkan serangan umum. Konoe dan kabinetnya takut tentara Jepang tidak akan menghormati segala perjanjian damai. Dia juga tidak yakin bahwa Chiang dapat mengendalikan tentaranya sendiri. Pada bulan Agustus, tentara Tiongkok membunuh dua marinir Jepang di Shanghai. Konoe setuju dengan Menteri Angkatan Darat Jenderal Hajime Sugiyama untuk mengirim dua divisi demi membela kehormatan Jepang. Kabinetnya kemudian mengeluarkan pernyataan, menuduh baik pihak nasionalis dan komunis Tiongkok berperilaku "semakin provokatif dan menghina" Jepang.

Pada bulan Desember 1937, Markas Besar Kekaisaran yang otonom secara struktur dari pemerintah terpilih, memerintahkan tentara Jepang di Tiongkok untuk bergerak menuju ibu kota Nanking. Dalam beberapa minggu Nanking berhasil direbut setelah tentara Angkatan Darat Jepang terlibat dalam Pembantaian Nanking.

Pada bulan Januari 1938, Pemerintah Konoe mengumumkan bahwa Jepang tidak lagi akan berurusan dengan Pemerintah Chiang Kai-shek, dan akan menunggu perkembangan rezim baru. Ketika diminta klarifikasi lebih lanjut, Konoe berkata bahwa maksudnya lebih dari sekadar tidak mengakui rezim Chiang, tetapi "menolaknya" dan akan "menghancurkannya".[2] Sementara itu, Konoe dan pihak militer memaksakan Undang-Undang Mobilisasi Nasional melalui Diet.[3] Undang-undang ini memungkinkan pemerintah pusat untuk menguasai semua sumber daya manusia dan bahan-bahan.

Tentara Jepang memperoleh kemenangan di Hsuchow, Hankow, Kanton, Wuchang, dan Hanyang, tetapi tentara Tiongkok tetap terus melakukan perlawanan. Setelah menyatakan dirinya sudah lelah dijadikan "robot" oleh pihak militer, Konoe mengundurkan diri pada bulan Januari 1939, dan ditunjuk sebagai ketua Dewan Penasihat Kekaisaran Jepang. Kiichirō Hiranuma menggantikannya sebagai perdana menteri. Konoe mendapat penghargaan Orde Matahari Terbit pada tahun 1939.

Masa jabatan kedua Konoe dan kebijakan luar negeri Matsuoka

Ketidakpuasan terhadap Perdana Menteri Mitsumasa Yonai membuat Angkatan Darat Jepang memanggil kembali Konoe sebagai perdana menteri. Pada 23 Juni, Konoe mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Penasihat Kaisar,[4] dan kabinet Yonai bubar pada 16 Juli 1940. Konoe kembali ditunjuk sebagai perdana menteri. Salah satu dari tindakan pertamanya adalah membentuk Liga Anggota Parlemen Realisasi Perang Suci untuk mengimbangi oposisi dari politikus seperti Saitō Takao yang telah menentang Perang Tiongkok-Jepang Kedua di parlemen pada 2 Februari 1940.

Bertentangan dengan saran sekutu politiknya dan juga Kaisar, [butuh rujukan] Konoe menunjuk Yosuke Matsuoka sebagai menteri luar negeri. Matsuoka populer di mata angkatan darat dan publik Jepang setelah menjadikan dirinya tokoh yang membuat Jepang keluar dari Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1933. Kebijakan luar negeri Konoe dan Matsuoka dibuat berdasarkan sebuah dokumen yang ditulis oleh angkatan darat. Sebagai hasil dari kebijakannya, Jepang akan berusaha mengamankan posisinya di Tiongkok, meredam konflik dengan Uni Soviet, memindahkan pasukannya ke Indochina, dan bersiap-siap terhadap respon militer dari Britania dan kemungkinan dari Amerika Serikat.

Setelah jatuhnya Pemerintah Prancis, Jepang menempatkan pasukannya di Indochina Prancis pada September 1940. Pada September 1940, Pakta Tripartit ditandatangani, menjadikan Jepang, Jerman, dan Italia dalam satu poros.

Matsuoka mencoba untuk mengamankan posisi Jepang dengan membuat perjanjian netralitas antara Jepang dan Uni Soviet (dengan Molotov dan Stalin). Jepang setuju untuk melepas hak menambang mineral di bagian utara Sakhalin, tetapi tidak memberi konsesi apa pun. Bagi Jepang, pakta itu membuat Amerika Serikat dan Uni Soviet makin sulit untuk bersekutu melawan Jepang. Perjanjian netralitas ini dihormati oleh kedua pihak hingga tahun 1945.

Pada 1944 Konoe mulai berpendapat bahwa pemerintah Jepang harus memulai perundingan untuk menentukan akhir Perang Dunia II. Ia juga memimpin delegasi perdamaian ke Moskow tetapi Vyacheslav Molotov menolak menemuinya.

Konoe menjabat sebagai wakil pimpinan dalam pemerintahan penyerahan pasca perang Jepang. Fumimaro Konoe bunuh diri pada 16 Desember 1945 setelah Jenderal Douglas MacArthur mengumumkan bahwa ia akan diadili karena kejahatan perang.

Referensi

  1. ↑ Kazuo Yagami, Konoe Fumimaro and the Failure of Peace in Japan, 1937–1941: A Critical Appraisal of the Three-time Prime Minister (McFarland, 2006):19.
  2. ↑ Wakabayashi, Bob Tadashi (1991). "Emperor Hirohito on Localized Aggression in China". Sino-Japanese Studies 4 (1), p. 15.
  3. ↑ Takenaka, Harukata (2014-07-02). Failed Democratization in Prewar Japan: Breakdown of a Hybrid Regime. Stanford University Press. doi:10.11126/stanford/9780804763417.003.0003. ISBN 978-0-8047-6341-7.
  4. ↑ The Ambassador in Japan (Joseph C. Grew) to the Secretary of State, 24 June 1940, Foreign Relations of the United States, 1940, vol. IV, p. 962

Pranala luar

  • Biografi Konoe Diarsipkan 2008-10-17 di Wayback Machine.
  • l
  • b
  • s
Jepang Perdana Menteri Jepang
Lambang Perdana Menteri Jepang
  • H. Itō
  • Kuroda
  • Sanjō
  • Yamagata
  • Matsukata
  • H. Itō
  • Kuroda
  • Matsukata
  • H. Itō
  • Ōkuma
  • Yamagata
  • H. Itō
  • Saionji
  • Katsura
  • Saionji
  • Katsura
  • Saionji
  • Katsura
  • Yamamoto
  • Ōkuma
  • Terauchi
  • Hara
  • Uchida
  • Takahashi
  • To. Katō
  • Uchida
  • Yamamoto
  • Kiyoura
  • Ta. Katō
  • Wakatsuki
  • G. Tanaka
  • Hamaguchi
  • Shidehara
  • Hamaguchi
  • Wakatsuki
  • Inukai
  • Takahashi
  • Saitō
  • Okada
  • Goto
  • Okada
  • Hirota
  • Hayashi
  • Konoe
  • Hiranuma
  • N. Abe
  • Yonai
  • Konoe
  • Tōjō
  • Koiso
  • K. Suzuki
  • Higashikuni
  • Shidehara
  • Yoshida
  • Katayama
  • Ashida
  • Yoshida
  • I. Hatoyama
  • Ishibashi
  • Kishi
  • Ikeda
  • Satō
  • K. Tanaka
  • Miki
  • T. Fukuda
  • Ōhira
  • M. Itō
  • Z. Suzuki
  • Nakasone
  • Takeshita
  • Uno
  • Kaifu
  • Miyazawa
  • Hosokawa
  • Hata
  • Murayama
  • Hashimoto
  • Obuchi
  • Aoki
  • Mori
  • Koizumi
  • S. Abe
  • Y. Fukuda
  • Asō
  • Y. Hatoyama
  • Kan
  • Noda
  • S. Abe
  • Suga
  • Kishida
  • Ishiba
  • Takaichi
Standar Perdana Menteri Jepang
Italik kata Pejabat Perdana Menteri
  • l
  • b
  • s
Kokkashugi
Prinsip
  • Antikomunisme
  • Bushido
  • Ekspansionisme
  • Fasisme
  • Gekokujō
  • Hakkō ichiu
  • Korporatisme
  • Militerisme Jepang
  • Pan-Asianisme
  • Shinto negara
  • Sistem kaisar
  • Sonnō jōi
  • Statisme
    • Kapitalisme
  • Totalitarianisme
  • Ultranasionalisme
  • Yamato-damashii
Gerakan
  • Kakushin Kanryō
  • Restorasi Shōwa
Tokoh
Sebelum 1945
  • Hirohito
  • Sadao Araki
  • Inejirō Asanuma
  • Tanaka Chigaku
  • Kingoro Hashimoto
  • Senjuro Hayashi
  • Kiichirō Hiranuma
  • Koki Hirota
  • Nisshō Inoue
  • Kanji Ishiwara
  • Nobusuke Kishi
  • Ikki Kita
  • Kuniaki Koiso
  • Fumimaro Konoe
  • Jinzaburō Masaki
  • Seigō Nakano
  • Tetsuzan Nagata
  • Shūmei Ōkawa
  • Shinkichi Uesugi
  • Hideki Tojo
  • Tsuji Masanobu
Jepang paska-perang
  • Bin Akao
  • Yukio Mishima
  • Otoya Yamaguchi
Lain
  • Subhas Chandra Bose
  • Park Chung Hee
Organisasi & Faksi
Sebelum 1945
  • Faksi Armada
  • Gakutotai
  • Gen'yōsha
  • Kōdōha
  • Kokuryūkai
  • Sakurakai
  • Shōwa Kenkyūkai
  • Taisei Yokusankai
  • Tōhōkai
  • Tōseiha
  • Yokusan Sonendan
  • Yūzonsha
Jepang paska-perang
  • Nippon Kaigi
  • Tatenokai
Lain
  • Asosiasi Konkordia
  • Makapili
Sejarah
1930an
  • Insiden 26 Februari
  • Insiden Liga Darah
  • Insiden Jembatan Marco Polo
  • Insiden Maret
  • Insiden Mukden
  • Insiden Akademi Militer
  • Undang-Undang Mobilisasi Umum Negara
  • Insiden Oktober
  • Penarikan diri dari Trakat Washington
  • Perang Tiongkok-Jepang Kedua
1940-1945
  • Insiden Kyūjō
  • Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya
  • Pakta Tripartit
  • Perang Pasifik
1945-1950
  • Gyaku kōsu
  • Insiden Matsue
  • Insiden Sanmu
  • Pembersihan
Setelah 1950
  • Insiden Mishima
Karya sastra
  • An Investigation of Global Policy with the Yamato Race as Nucleus
  • How Japan Plans to Win
  • Kokutairon and Pure Socialism
  • Momotaro: Sacred Sailors
  • Momotarō no Umiwashi
  • Moyuru ōzora
  • Patriotism
  • Ode of Showa Restoration
  • Shinmin no Michi
  • Sun and Steel
  • The Most Beautiful
Topik terkait
  • The Cleanest Race
  • Fasisme sistem kaisar
  • Kejahatan perang Jepang
  • Kolaborasi dengan Kekaisaran Jepang
  • Konferensi Asia Timur Raya
  • Kontroversi buku pelajaran sejarah Jepang
  • Nasionalisme Jepang
  • Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh
  • Propaganda di Jepang pada Perang Tiongkok-Jepang Kedua dan Perang Dunia II
  • Upaya Amerika menutupi kejahatan perang Jepang
  • Uyoku dantai
Category Kategori
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Italia
  • Republik Ceko
  • Belanda
  • Norwegia
  • Korea
  • Israel
Akademik
  • CiNii
Orang
  • Deutsche Biographie
Lain-lain
  • IdRef
  • SNAC
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Masa muda
  2. Sebagai perdana menteri
  3. Masa jabatan kedua Konoe dan kebijakan luar negeri Matsuoka
  4. Referensi
  5. Pranala luar

Artikel Terkait

Konoe

halaman disambiguasi Wikimedia

Hideki Tojo

Perdana Menteri Jepang (1941–1944)

Kiichiro Hiranuma

keadilan dan pimpinan Dewan Penasehat Kaisar (Sūmitsu-in). Ia menggantikan Fumimaro Konoye sebagai PM pada Januari 1939 tetapi pemerintahannya hanya bertahan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026