Palola viridis adalah cacing perairan air laut dari famili Eunicidae, anggota cacing bersekat yang banyak hidup di pantai-pantai Indo-Pasifik beriklim tropis dan subtropis. Jenis cacing ini disebut oleh masyarakat lokal Indonesia sebagai cacing palolo maupun nyale. Cacing wawo atau laor di Maluku juga dapat berarti cacing jenis ini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Palola viridis | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | |
| Spesies: | P. viridis |
| Nama binomial | |
| Palola viridis (Gray, 1840) | |
| Sinonim | |
|
Eunice viridis | |
Palola viridis adalah cacing perairan air laut dari famili Eunicidae, anggota cacing bersekat (filum Annelida) yang banyak hidup di pantai-pantai Indo-Pasifik beriklim tropis dan subtropis. Jenis cacing ini disebut oleh masyarakat lokal Indonesia sebagai cacing palolo (di Samoa)[1] maupun nyale (harfiah berarti "cacing" dalam bahasa Sasak). Cacing wawo atau laor di Maluku juga dapat berarti cacing jenis ini (Pamungkas et al. 2015).[2]
Cacing palolo identik dengan dua moncong, tiga antena dan kepala berbentuk sekop serta tidak adanya mulut pengait.[3] Cacing dewasa berukuran sekitar 40 cm dan terbagi menjadi segmen-segmen yang setiap segmennya memiliki kaki semu serupa rambut.[4] Terdapat juga beberapa tentakel sensor yang tumbuh di bagian kepala.[4] Palolo jantan berwarna merah kecoklatan sedangkan yang betina biru kehijauan.[4] Cacing ini hidup di pantai Pasifik bagian selatan.[5] Cacing ini hidup di bebatuan karang dan untuk berkembang biak, mereka menumbuhkan ekor khusus yang memuat sperma ataupun sel telur.[6] Selama masa perkembangbiakan, ekor khusus cacing ini pecah dan muncul ke permukaan air laut lalu melepaskan telur atau sperma berupa cairan kental.[7]
Cacing palolo dikonsumsi menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat di sekitar kepulauan Fiji, Tonga, Samoa juga pulau-pulau lain yang tersebar di pasifik bagian selatan.[8]