Obrolan Pak Besut adalah sebuah acara gelar wicara radio berbahasa Jawa yang disiarkan oleh RRI Yogyakarta mulai tanggal 16 Desember 1945 sampai Agustus 1981. Acara ini terutama dibawakan oleh Pancratius Suradi Wardoyo atau Pancratius Wardoyo, seorang wartawan, seniman, dan penyiar radio Indonesia, sebagai Pak Besut. Acara ini dikenal karena membahas bermacam-macam masalah secara kritis dengan sisipan humor.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Genre | Gelar wicara |
|---|---|
| Durasi | 10 menit[1] |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Jawa |
| Stasiun utama | RRI Yogyakarta |
| Menampilkan | Pancratius Wardoyo (sebagai Pak Besut) |
| Tanggal mengudara | 16 Desember 1945 (1945-12-16) sampai Agustus 1981 (1981-08) |
Obrolan Pak Besut adalah sebuah acara gelar wicara radio berbahasa Jawa yang disiarkan oleh RRI Yogyakarta mulai tanggal 16 Desember 1945 sampai Agustus 1981.[2] Acara ini terutama dibawakan oleh Pancratius Suradi Wardoyo atau Pancratius Wardoyo (15 Januari 1910–24 April 1984), seorang wartawan, seniman, dan penyiar radio Indonesia, sebagai Pak Besut. Acara ini dikenal karena membahas bermacam-macam masalah secara kritis dengan sisipan humor.[2][3][4]
Obrolan Pak Besut disiarkan dua kali seminggu, tepatnya setiap Kamis dan Sabtu pada pukul 21.00 WIB[5] (ada yang menyebut pukul 21.20–21.30 WIB).[1] Namun, artikel Panjebar Semangat mencatat acara ini pernah disiarkan tiga kali seminggu karena begitu populer di masyarakat.[6]
Obrolan Pak Besut menampilkan beberapa karakter, di antaranya Pak Besut, Mbok Besut, Mbakyu Santinet, Asmonah, dan Man Jamina.[6]
Obrolan Pak Besut terakhir disiarkan pada Agustus 1981, oleh karena kesehatan Pancratius yang menurun.[5] Kumpulan percakapan dalam acara tersebut kemudian dibukukan dengan nama yang sama pada September 1983 oleh Gadjah Mada University Press.
Pancratius Wardoyo lahir pada tanggal 15 Januari 1910 di desa Celep, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan guru di Ambarawa, dan memulai kariernya sebagai guru swasta di Demak, Purwodadi, Semarang, dan Yogyakarta. Pancratius kemudian menjadi wartawan lepas di harian Nasional pada tahun 1946, serta menjadi redaktur harian asal Yogyakarta Kedaulatan Rakyat pada tahun 1956.[2]
Di tahun 1945, Pancratius tercatat memulai Obrolan Pak Besut di RRI Yogyakarta. Ia juga dikenal sebagai seniman ketoprak dan ludruk, yang ikut mengisi acara kebudayaan di stasiun tersebut.[6]
Pancratius tetap mengisi Obrolan Pak Besut, meski beliau terpilih sebagai anggota DPRD DIY pada tahun 1971. Ia juga mengisi artikel pada majalah berbahasa Jawa Mekarsari milik Kedaulatan Rakyat.[2]
Pancratius kemudian diangkat sebagai pegawai negeri sipil pada tahun 1981, namun pensiun setahun setelahnya.[6] Ia wafat pada tanggal 24 April 1984, dan dimakamkan di Sragen. Ia dikaruniai empat anak, 19 cucu, dan belasan cicit.[5]
Peran Pancratius sebagai penyiar radio dimunculkan dalam film tahun 2012 Soegija.
Pancratius dikenang dalam sebuah patung yang dipajang di Museum Penerangan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.[2]