Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPabrik Gula Demak Ijo
Artikel Wikipedia

Pabrik Gula Demak Ijo

Pabrik Gula Demakijo adalah salah satu pabrik gula peninggalan masa kolonial Belanda yang berlokasi di Kalurahan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pabrik ini termasuk bagian dari jaringan industri gula yang berkembang pesat di Jawa pada awal abad ke-20. Di sisi lain, Demakijo merupakan panglima perang Kerajaan Mataram pada era Susuhunan Agung Hanyokrokusumo yang ikut menggempur ke Batavia.

Wikipedia article
Diperbarui 10 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pabrik Gula Demak Ijo
Pabrik Gula Demak Idjo

Pabrik Gula Demakijo (bahasa Belanda: Suikerfabriek Demakidjo) adalah salah satu pabrik gula peninggalan masa kolonial Belanda yang berlokasi di Kalurahan Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pabrik ini termasuk bagian dari jaringan industri gula yang berkembang pesat di Jawa pada awal abad ke-20. Di sisi lain, Demakijo merupakan panglima perang Kerajaan Mataram pada era Susuhunan Agung Hanyokrokusumo yang ikut menggempur ke Batavia.[1]

Sejarah

Era Kolonial Belanda

Pabrik Gula Demakijo dibangun pada tahun 1905 (Soerabaijasch Handelsblaad 08-02-1905) oleh N.V. Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan Pendirian bangunan pabrik serta pemasangan mesin dikerjakan oleh Technisch Bureau  E. Rombout, sebuah Biro Konstruksi dan Importir alat-alat Industri dari Rotterdam yang kemudian membuka kantor di Jogja pada tahun 1912, di tahun itu juga Pabrik Gula Demakijo mulai beroperasi secara komersial. Pabrik ini merupakan salah satu dari sembilan pabrik gula yang pernah beroperasi di Kabupaten Sleman, bersama dengan pabrik gula lainnya seperti Pabrik Gula Beran, Pabrik Gula Medari, Pabrik Gula Klatjie (Klaci), Pabrik Gula Rewoeloe (Rewulu), Pabrik Gula Randoegoenting (Randugunting), Pabrik Gula Sendangpitoe (Sendangpitu), dan Pabrik Gula Tandjong (Kalasan), Pabrik Gula Kedaton Plered, Pabrik Gula Wonocatur, Pabrik Gula Barongan, Pabrik Gula Gesikan, Pabrik Gula Gondanglipuro, Pabrik Gula Bantul, Pabrik Gula Sedayu, Pabrik Gula Pundong, Pabrik Gula Sewugalur. Lokasi pabrik dipilih secara strategis di daerah yang memiliki akses transportasi yang baik. Hasil produksi gula dari Pabrik Demakijo diangkut melalui Stasiun Patukan, yang menjadi jalur distribusi utama untuk produk-produk pabrik gula di wilayah tersebut.[2]

Perkembangan pabrik gula di wilayah Yogyakarta dimulai pada 1870-an di mana pemerintah Hindia Belanda mengesahkan Agrarische Wet dengan adanya keterbukaan pihak swasta bagi perekonomian kolonial. Dari undang-undang tersebut, banyak perusahaan swasta yang melakukan tanam modal di wilayah Hindia Belanda. Penaman modal sebagaian besar dilakukan disektor pertanian dan perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dipasar internasional. Wilayah Surakarta dan Yogyakarta memiliki tanah subur ikut menikmati perkembangan industri perkebunan tersebut dengan komoditas unggulannya adalah tanaman tebu.[3]

Krisis dan Penutupan

Pabrik Gula Demakijo mengalami dampak serius dari krisis ekonomi global atau disebut dengan jaman Mallaise yang terjadi pada tahun 1930. Adanya pasokan gula dipasar dunia berlebihan, sehingga berdampak pada harga gula yang rendah. Setahun sesudahnya, terjadi kesepakatan perdagangan gula yang dikenal dengan Charbourne Agreement. Salah satu perjanjan itu menyebutkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda diharuskan untuk mengurangi  pasokan produksi gula  di Jawa dari sekitar 3 juta ton menjadi 1.4juta ton pertahun. Kondisi ekonomi yang semakin memburuk dan menurunnya permintaan gula di pasar internasional mengakibatkan pabrik ini mengalami kesulitan finansial. Setelah berjuang selama tiga tahun menghadapi krisis, Pabrik Gula Demakijo akhirnya tutup pada tahun 1933. Tinggal delapan pabrik gula saja yang bertahan meliputi, G. Tanjungtirto, PG. Kedaton Pleret, PG. Padokan, PG. Gondanglipuro,PG. Gresikan, PG. Cebongan, PG. Beran dan PG. Medari. Sementara itu Pabrik Gula yang lainyaterpaksa ditutup. Seandainnya saja tidak terjadi Mallaise, direncanakan Pemerintah Hindia Belanda juga akan membangun pelabuhan di daerah pesisir (pantai selatan) D.I. Yogyakarta.[4]

Masa Pendudukan Jepang dan Revolusi

Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), bekas bangunan Pabrik Gula Demakijo tidak lagi beroperasi sebagai pabrik gula. Bangunan yang telah tidak aktif ini kemudian dimanfaatkan untuk keperluan lain pada masa-masa selanjutnya. Pada masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949), bekas pabrik gula ini memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Bangunan bekas pabrik dikonversi menjadi Pabrik Senjata Demakijo, yang berfungsi sebagai fasilitas produksi senjata untuk mendukung perjuangan kemerdekaan. Pabrik senjata ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai peralatan militer seperti granat “gombyok”, mortir, dan tommy-gun selama proses pembangunan laboratorium militer di Yogyakarta. Namun kegiatan pabrik senjata Demakijo dalam menghasilkan dan memodifikasi senjata harus berakhir pada tahun 1948 akibat berlangsungnya Agresi Militer Belanda II.[5]

Lokasi

Suikerfabriek Demak Idjo bij Yogyakarta', fotograaf onbekend, 1906-1925

Pabrik Gula Demakijo terletak di:

  1. Alamat: Jalan Ring Road Barat, Patuk, RT.08/RW.15, Dowangan, Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Koordinat: Berada di wilayah barat Yogyakarta, dengan akses transportasi melalui jalur kereta api via Stasiun Patukan.

Warisan dan Dampak

Keberadaan Pabrik Gula Demakijo memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan ekonomi dan sosial di wilayah Banyuraden dan sekitarnya. Nama "Demakijo" bahkan tetap digunakan hingga saat ini sebagai nama daerah, tecermin dalam berbagai institusi seperti GKJ Demakijo dan SD Negeri Demakijo II.

Meskipun bangunan fisik pabrik sudah tidak ada, warisan sejarahnya tetap menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat setempat, terutama terkait dengan perannya dalam industri gula kolonial dan kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Referensi

  1. ↑ Content, Editor. "Pernah Jadi Pabrik Gula, Pabrik Senjata, hingga Markas Tentara - Radar Jogja". Pernah Jadi Pabrik Gula, Pabrik Senjata, hingga Markas Tentara - Radar Jogja. Diakses tanggal 2025-09-28.
  2. ↑ Media, Harian Jogja Digital. "Sejarah Pabrik Gula di Sleman yang Sempat Berjaya". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-28.
  3. ↑ PSP, Admin (2020-06-09). "Napak Tilas Sejarah Pabrik Gula Di Sleman". Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Diakses tanggal 2025-09-28.
  4. ↑ Rimbawana, A. S. "Pameran Suikerkultuur: Menelusuri Sejarah Pabrik Gula di Yogyakarta". tirto.id. Diakses tanggal 2025-09-28.
  5. ↑ "Vredeburg.id". vredeburg.id. Diakses tanggal 2025-09-28.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Lokasi
  3. Warisan dan Dampak
  4. Referensi

Artikel Terkait

Daftar pabrik gula di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Taman Parkir Ngabean

Setelah itu, stasiun ini sempat digunakan untuk angkutan tetes tebu ke Pabrik Gula Madukismo hingga pertengahan 1980-an. Stasiun Ngabean juga memiliki jalur

Kota Tangerang

kota di Provinsi Banten

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026