Oom Pasikom adalah karakter kartun editorial ciptaan GM Sudarta yang terbit di harian Kompas sejak 1967. Melalui kartun ini, GM Sudarta mengemas isu-isu aktual yang terjadi di Tanah Air maupun mancanegara ke dalam satire yang sekaligus juga jenaka. Nama Oom Pasikom sendiri tak lepas dari nama harian Kompas. "Pasikom" maksudnya adalah "si Kompas" namun diubah susunan katanya. Sedangkan Oom merupakan bahasa Belanda yang artinya paman. Oom Pasikom juga diterbitkan dalam bentuk buku berjudul 50 tahun Oom Pasikom (2017).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Oom Pasikom adalah karakter kartun editorial ciptaan GM Sudarta yang terbit di harian Kompas sejak 1967. Melalui kartun ini, GM Sudarta mengemas isu-isu aktual yang terjadi di Tanah Air maupun mancanegara ke dalam satire yang sekaligus juga jenaka. Nama Oom Pasikom sendiri tak lepas dari nama harian Kompas. "Pasikom" maksudnya adalah "si Kompas" tetapi diubah susunan katanya. Sedangkan Oom merupakan bahasa Belanda yang artinya paman. Oom Pasikom juga diterbitkan dalam bentuk buku berjudul 50 tahun Oom Pasikom (2017).[1][2]
Oom Pasikom digambarkan adalah sesosok pria dewasa dengan setelan jas compang-camping dengan mengenakan topi pemain golf (pet) bermotif kotak-kotak.[3] Selain itu, juga ada istri Oom Pasikom, yang dikesankan sebagai perempuan konsumtif, suka pamer kemewahan. Lalu ada anaknya yang muda, lugu, mudah berpendapat meski sering kurang dipikirkan. Oom Pasikom, istri, dan anaknya tampil dalam berbagai adegan yang saling melengkapi.
GM Sudarta bergabung dengan harian Kompas pada tahun 1967. Ia dipercaya sebagai pengisi tetap karikatur di Kompas. Dalam buku "Berteriak dalam Bisikan" (Penerbit Buku Kompas, 2018), ia menceritakan bahwa karakter Oom Pasikom muncul secara tidak sengaja. Salah satu inspirasi yang ia gunakan untuk menciptakan karakter tersebut adalah sebuah komik strip Amerika yang ia baca waktu kecil, "Blondie", komik bertema keluarga muda karya kartunis Chic Young pada tahun 1930-an. "Oom Pasikom itu menjadi alter ego saya. Saya bisa memasuki dunia mana saja, bisa meledek siapa saja, bahkan seorang presiden," catatnya dalam buku itu. Penampilan perdana komik Oom Pasikom diterbitkan pada Harian Kompas edisi 12 Juli 1967.[4]
Kompas sempat diberedel pada tanggal 21 Januari 1978. Kabar tersebut diterima tim redaksi melalui sambungan telepon dari Kepala Penerangan Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) Jaya pada sehari sebelumnya, yaitu pada hari Jumat, 20 Januari 1979, pukul 20.45. Sebelum pemberedelan itu, Kompas gencar memberitakan aksi demonstrasi mahasiswa di Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dan daerah lainnya. Setelah menandatangani pernyataan tertulis yang berisi permintaan maaf, Kompas akhirnya diperbolehkan terbit kembali pada 6 Februari 1978. Pada halaman pertama koran edisi tersebut, Oom Pasikom kembali menyapa pembaca dengan ucapan singkat, "Selamat pagi...!"[5]