Omniscient Reader: The Prophet adalah film fantasi film laga Korea Selatan tahun 2025 yang disutradarai oleh Kim Byung-woo dan dibintangi oleh Lee Min-ho, Ahn Hyo-seop, Chae Soo-bin, Shin Seung-ho, Nana, dan Jisoo.. Film ini diadaptasi dari novel web laris Omniscient Reader's Viewpoint karya Sing Shong. Film ini berkisah mengenai Kim Dokja, satu-satunya pembaca setia novel "Three Ways to Survive in a Ruined World" yang tiba-tiba harus bertahan hidup di tengah dunia yang berubah drastis menjadi seperti dunia dalam novel.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Omniscient Reader: The Prophet | |
|---|---|
Poster rilis layar lebar | |
| Nama lain | |
| Hangul | 전지적 독자 시점code: ko is deprecated |
| Alih Aksara | Jeonjijeok dokja sijeom |
| McCune–Reischauer | Chŏnjijŏk tokcha sijŏm |
| Sutradara | Kim Byung-woo |
| Produser | Won Dong-yeon |
Berdasarkan | Omniscient Reader's Viewpoint karya Sing Shong |
| Pemeran | |
Perusahaan produksi | Realies Pictures |
| Distributor | Lotte Entertainment |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 117 menit |
| Negara | Korea Selatan |
| Bahasa | Korea |
| Anggaran | US$21 juta [1] |
Omniscient Reader: The Prophet (Hangul: 전지적 독자 시점code: ko is deprecated ) adalah film fantasi film laga Korea Selatan tahun 2025 yang disutradarai oleh Kim Byung-woo dan dibintangi oleh Lee Min-ho, Ahn Hyo-seop, Chae Soo-bin, Shin Seung-ho, Nana, dan Jisoo.[2][3]. Film ini diadaptasi dari novel web laris Omniscient Reader's Viewpoint karya Sing Shong. Film ini berkisah mengenai Kim Dokja, satu-satunya pembaca setia novel "Three Ways to Survive in a Ruined World" yang tiba-tiba harus bertahan hidup di tengah dunia yang berubah drastis menjadi seperti dunia dalam novel.
Film ini dirilis di Korea pada 23 Juli 2025 oleh Lotte Entertainment, sementara distribusi untuk negara lain dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain.[4]
Pada hari terakhirnya sebagai pegawai kontrak di Minosoft, Kim Dok-ja adalah satu-satunya pembaca novel web "Three Ways to Survive the Apocalypse" (TWSA) yang menyelesaikan sampai bab terakhir novel tersebut. Dalam bab penutup itu, tokoh utama Yoo Joong-hyuk bertahan hidup sendirian setelah kematian seluruh umat manusia. Merasa kecewa, Dok-ja menulis ulasan kritik kepada sang penulis yang menggunakan nama pena “tls123”. Saat pulang naik MRT bersama rekan kerjanya, Yoo Sang-ah, ia menerima pesan dari penulis tersebut yang menyarankannya untuk menulis akhir cerita versinya sendiri.
Pukul 19.00, kereta tiba-tiba berhenti dan muncul seorang dokkaebi bernama Bi-hyeong. Ia mengumumkan bahwa umat manusia harus menghadapi berbagai skenario yang diberlakukan oleh para konstelasi, dimulai dengan perintah untuk membunuh satu atau lebih makhluk hidup. Menyadari bahwa situasi ini persis seperti episode pertama dalam novel, Dok-ja membunuh seekor semut dari kotak serangga milik seorang anak bernama Lee Gil-yeong demi bertahan hidup. Meskipun ia berusaha menolong orang lain, kepanikan meluas dan berujung pada pertumpahan darah. Ketika skenario berakhir, hanya Dok-ja, Sang-ah, Gil-yeong, dan 14 orang lainnya yang selamat. Semua penyintas diminta memilih sponsor, tetapi Dok-ja menolak. Saat kereta diserang monster, seorang tentara bernama Lee Hyeon-seong—yang dalam novel merupakan salah satu rekan Joong-hyuk—membantu Dok-ja dan yang lain melarikan diri. Dok-ja melihat Joong-hyuk sedang bertarung dan menawarkan diri untuk bekerja sama demi mengubah takdirnya, karena ia tahu Joong-hyuk akan mati saat melawan Fire Dragon. Joong-hyuk menolak dan melempar Dok-ja dari jembatan, hingga ia ditelan seekor Ichthyosaurus. Di dalam perut makhluk itu, Dok-ja membuat kesepakatan dengan Bi-hyeong untuk mendapatkan koin, lalu menggunakan duri dari toko dokkaebi untuk membunuhnya. Ia menukar inti makhluk tersebut dengan sebuah item langka bernama Ether of Faith.
Setelah singgah di sebuah minimarket, Dok-ja menyelamatkan Jeong Hui-won, tokoh minor yang seharusnya tewas dalam novel. Mereka lolos dari serangan monster dan berkumpul kembali di Stasiun Geumho bersama Sang-ah, Hyeon-seong, dan Gil-yeong. Di sana, skenarionya mengharuskan para penyintas membunuh semua monster atau membayar biaya koin harian untuk tetap hidup. Seorang anggota parlemen bernama Cheon In-ho, antagonis utama dalam novel, mendesak Dok-ja untuk membagikan koin miliknya, tetapi Dok-ja segera menyadari tipu dayanya. Kelompok Dok-ja—yang kini bergabung dengan Hui-won—mengetahui bahwa In-ho dan anak buahnya telah membunuh orang lain demi mendapatkan koin. Ketika Sang-ah diculik oleh seekor Ground Rat, Dok-ja membunuh monster itu dengan White Star Pure Energy dan menyelamatkan Sang-ah serta Hyeon-seong.
Kelompok tersebut menerima senjata baru. Dok-ja memperoleh sebuah pedang patah bernama Broken Faith, yang memerlukan Ether of Faith agar dapat dipulihkan sepenuhnya. Pengetahuan Dok-ja tentang alur cerita menimbulkan kecurigaan, sehingga ia berbohong dengan mengaku memiliki kemampuan nubuat. Ia memberi tahu kelompoknya bahwa mereka harus mencegah kematian Joong-hyuk di Chungmu-ro. Namun sebelum itu, mereka harus membunuh monster terakhir di Geumho, yaitu In-ho sendiri, yang telah berubah menjadi monster. Meski In-ho berhasil memasuki Chungmu-ro, ia tewas pada detik terakhir oleh Lee Ji-hye, murid Joong-hyuk. Di Chungmu-ro, skenarionya mengharuskan para penyintas memasuki zona hijau yang jumlahnya terbatas pada setiap putaran, atau akan dibunuh oleh monster. Dok-ja menemukan sebuah zona bonus tersembunyi yang salah satunya telah ditempati Joong-hyuk, hingga kemudian memberikannya kepada Gil-yeong. Dok-ja memakan kristal dari Ground Rat dan terseret ke dalam Illusory Prison, di mana ia menghadapi trauma masa SMA: ia pernah dipaksa untuk bertarung melawan satu-satunya sahabatnya, Ahn Min-seop. Peristiwa itu berujung pada bunuh diri Min-seop. Dok-ja teringat bahwa ia pernah mengatakan kepada penulis TWSA mengenai keinginannya akan sebuah akhir cerita di mana tokoh utama bertahan hidup bersama rekan-rekannya. Melalui kemampuan Dream Conversation, Joong-hyuk menepis harapan idealistis Dok-ja, menyatakan bahwa ia dahulu juga memiliki keyakinan serupa, sebelum sisi gelap manusia dan kehilangan rekan-rekannya membuatnya sadar bahwa manusia tidak dapat dipercaya.
Setelah sadar, Dok-ja mendapati bahwa rekan-rekannya telah melindunginya dan bertahan hidup tanpa zona hijau. Ia pun yakin bahwa mereka bisa bertahan bersama dan memutuskan untuk melawan Fire Dragon tanpa mengorbankan Joong-hyuk. Ketika hanya satu zona hijau yang tersisa yaitu milik Gong Pil-du—pemilik koin terbanyak—Dok-ja menawarkan untuk membelinya. Ji-hye awalnya menolak membantu dan memilih bertahan hidup sendiri, tetapi akhirnya tergerak setelah Dok-ja mengonfrontasinya tentang pembunuhan sahabatnya sendiri pada skenario pertama. Dengan 113.000 koin, Dok-ja membeli dan menghancurkan zona hijau milik Pil-du dengan bantuan Ji-hye, sambil mendorong semua orang untuk bertahan bersama. Ia membayar Pil-du 100.000 koin, memintanya untuk melindungi semua penyintas yang masih hidup. Pil-du setuju membantu dan bertarung bersama tim Dok-ja. Ketika Fire Dragon muncul, kelompok tersebut membuat rencana serangan terkoordinasi: Dok-ja mengorbankan nyawa memecahkan cangkangnya, Sang-ah menahannya, dan Hui-won menusuk intinya untuk memperoleh kemampuan King of No Killing yang dapat menghidupkan kembali Dok-ja. Namun, Joong-hyuk keburu tewas sebelum rencana itu berhasil. Saat dunia mulai runtuh, Dok-ja menerima notifikasi bahwa inti ichthyosaurus miliknya berhasil ditukar dengan Ether of Faith, dengan transaksi yang diprakarsai oleh penulis TWSA “tls123”. Dok-ja menggabungkannya dengan Broken Faith untuk menciptakan sebuah Attribute Weapon, membunuh Fire Dragon, dan menghidupkan kembali Joong-hyuk dengan King of No Killing, sehingga dunia pun terselamatkan.
Joong-hyuk memandang Dok-ja dengan rasa terima kasih ketika mereka dan yang lainnya merayakan kemenangan. Dok-ja kini bertekad menulis sebuah akhir cerita baru dengan bantuan para rekan seperjuangannya.
Dalam adegan pertengahan kredit, Han Myeong-oh—mantan atasan Dok-ja—muncul dan mengungkapkan bahwa Geumho telah hancur dan seluruh penyintas selain dirinya telah tewas. Saat kelompok itu bersiap menghadapi skenario berikutnya, suara kereta bergema dari kejauhan.

Omniscient Reader's Viewpoint merupakan salah satu novel web Korea paling populer di platform Munpia. Karya ini dikenal berkat pembangunan dunia yang kompleks serta struktur naratif yang memadukan unsur fantasi, distopia, dan psikologi. Sejak diterbitkan, seri tersebut meraih kesuksesan baik secara kritis maupun komersial, sehingga memunculkan permintaan untuk adaptasi live-action. Pada April 2019, CEO Munpia, Kim Hwan-cheol, mengumumkan bahwa Omniscient Reader's Viewpoint sedang dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar, menyusul keberhasilannya yang besar dengan lebih dari 10 juta tayangan kumulatif.[5]
Pada tahun 2023, sutradara Kim Byung-woo dipastikan memimpin proyek ini, sementara penulisan naskah mulai dikembangkan di bawah pengawasan Realies Pictures, perusahaan yang dikenal dengan produksi film bergenre berskala besar. Adaptasi tersebut ditujukan untuk mempertahankan struktur berlapis dari karya aslinya sekaligus membuat jalan cerita lebih mudah diakses oleh audiens internasional yang lebih luas.
Pengambilan gambar utama dimulai pada 5 Desember 2023,[6] dan selesai pada akhir Mei 2024 setelah proses syuting selama enam bulan yang melibatkan penggunaan set berskala besar serta adegan dengan efek CGI.[7]
Film ini tayang perdana di bioskop Korea Selatan pada 23 Juli 2025,[8] dengan distribusi oleh Lotte Entertainment (termasuk cabang berbasis di Korea yang beroperasi di Vietnam). Untuk pasar internasional, distribusi dilakukan oleh Purple Plan di Singapura, Malaysia, dan Indonesia; Sahamongkol Films di Thailand; Westec Media di Kamboja; serta Viewer Choices di Filipina.[2]
| Penghargaan | Tahun | Kategori | Penerima | Hasil | Ref. |
|---|---|---|---|---|---|
| Penghargaan Film Blue Dragon | 2025 | Aktor Pendatang Baru Terbaik | Ahn Hyo-seop | Nominasi | [9] |
| Technical Award | Kim Woo-cheol (VFX) | Nominasi |