Sabuk Kuiper adalah cakram di tepi Tata Surya, membentang dari orbit Neptunus pada 30 satuan astronomi (SA) hingga sekitar 50 SA dari Matahari. Sabuk ini mirip dengan sabuk asteroid tetapi jauh lebih besar—20 kali lebih lebar dan 20–200 kali lebih masif. Isinya terutama benda kecil sisa pembentukan Tata Surya. Berbeda dari banyak asteroid yang berbatu atau logam, objek Sabuk Kuiper umumnya terdiri dari volatil beku seperti metana, amonia, dan air. Sabuk ini juga menjadi rumah bagi banyak planet kerdil seperti Orcus, Pluto, Haumea, Quaoar, dan Makemake. Beberapa bulan di Tata Surya, seperti Triton milik Neptunus dan Phoebe milik Saturnus, kemungkinan juga berasal dari wilayah ini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Sabuk Kuiper (bahasa Inggris: Kuiper beltcode: en is deprecated )[2] adalah cakram di tepi Tata Surya, membentang dari orbit Neptunus pada 30 satuan astronomi (SA) hingga sekitar 50 SA dari Matahari.[3] Sabuk ini mirip dengan sabuk asteroid tetapi jauh lebih besar—20 kali lebih lebar dan 20–200 kali lebih masif.[4][5] Isinya terutama benda kecil sisa pembentukan Tata Surya. Berbeda dari banyak asteroid yang berbatu atau logam, objek Sabuk Kuiper umumnya terdiri dari volatil beku (atau "es") seperti metana, amonia, dan air. Sabuk ini juga menjadi rumah bagi banyak planet kerdil seperti Orcus, Pluto,[6] Haumea,[7] Quaoar, dan Makemake.[8] Beberapa bulan di Tata Surya, seperti Triton milik Neptunus dan Phoebe milik Saturnus, kemungkinan juga berasal dari wilayah ini.[9][10]
Sabuk Kuiper dinamai dari astronom asal Belanda, Gerard Kuiper, yang mengusulkan keberadaannya pada 1951.[11] Ide serupa juga diajukan peneliti lain, misalnya Kenneth Edgeworth pada 1930-an.[12] Prediksi paling langsung datang dari Julio Ángel Fernández, yang pada 1980 mengusulkan sabuk komet di luar Neptunus[13][14] yang dapat menjadi sumber komet periode pendek.[15][16]
Pada tahun 1992, planet minor 15760 Albion ditemukan—objek Sabuk Kuiper (KBO) pertama setelah Pluto (1930) dan Kharon (1978).[17] Sejak itu, ribuan KBO berhasil ditemukan, dan diperkirakan ada lebih dari 100.000 KBO berdiameter di atas 100 km.[18] Awalnya Sabuk Kuiper dianggap sumber utama komet periodik (orbit <200 tahun), tetapi sejak pertengahan 1990-an diketahui sabuk ini stabil, dan sumber komet sebenarnya adalah cakram tersebar—zona dinamis yang terbentuk akibat pergerakan Neptunus 4,5 miliar tahun lalu.[19] Objek cakram terserak seperti Eris memiliki orbit sangat lonjong, hingga 100 SA dari Matahari.
Sabuk Kuiper berbeda dari Awan Oort yang masih bersifat hipotesis, jauh lebih jauh dan berbentuk hampir bola. Objek Sabuk Kuiper, bersama objek cakram terserak serta kandidat Awan Hills atau Awan Oort, disebut objek trans-Neptunus (TNO).[20] Pluto adalah anggota terbesar dan terberat di Sabuk Kuiper serta TNO terbesar kedua setelah Eris. Status Pluto yang berada di sabuk ini membuatnya diklasifikasikan ulang sebagai planet katai pada 2006. Komposisinya mirip objek Sabuk Kuiper lainnya, dan orbitnya khas kelompok "plutino" yang berbagi resonansi 2:3 dengan Neptunus.
Sabuk Kuiper dan Neptunus sering dianggap batas luar Tata Surya, selain alternatif seperti heliosfer atau jarak saat gravitasi Matahari seimbang dengan bintang lain (diperkirakan 50.000–125.000 SA).[21]
Astronom pertama yang mengemukakan keberadaan sabuk ini adalah Frederick C. Leonard pada 1930 dan Kenneth E. Edgeworth tahun 1943. Pada tahun 1951, Gerard Kuiper mengemukakan bahwa sabuk tersebut merupakan sumber dari komet berumur pendek (komet yang memiliki periode orbit kurang dari 200 tahun). Sabuk dan objek-objek di dalamnya dinamai sesuai dengan nama Kuiper setelah penemuan (15760) Albion.