Obesitas merupakan kondisi seseorang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 25. Sedangkan IMT kategori normal berada di angka 18,5 sampai 25.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Obesitas merupakan kondisi seseorang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 25. Sedangkan IMT kategori normal berada di angka 18,5 sampai 25.[1]
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tingkat obesitas seseorang dapat ditentukan berdasarkan pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT dilakukan dengan membandingkan antropometri berat badan dan tinggi badan, biasanya dilakukan untuk orang dewasa di atas usia 18 tahun.[1]
Seseorang yang dikatakan obesitas memiliki IMT lebih besar atau sama dengan 27. Sedangkan untuk IMT di antara 25-27 termasuk kategori overweight, IMT antara 18,5 sampai 25 masuk kategori normal, dan IMT lebih rendah dari 18,5 masuk kategori wasting.[1]
Sedikit berbeda dengan acuan Kemenkes, World Health Organization (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai orang dengan IMT di atas 25. Ada dua jenis obesitas yang digunakan WHO, yakni Obesitas I dan Obesitas II. Perbedaan keduanya terletak pada besar IMT. Obesitas I memiliki IMT sebesar 25 hingga 29,9, sedangkan Obesitas II memiliki IMT di atas 30.[1]
Selain Indeks Massa Tubuh (IMT), cara lain untuk mengukur obesitas adalah dari antropometri tubuh, yakni melalui lingkar perut atau lingkar pinggang. Hal inilah yang disebut sebagai obesitas sentral atau obesitas abdominal. Obesitas sentral adalah kumpulan lemak abdominal berlebih yang terdapat di daerah abdomen atau perut. Laki-laki yang termasuk obesitas sentral memiliki lingkar perut di atas 90 cm, sedangkan untuk perempuannya di atas 80 cm.[1]
| Kategoty | BMI (kg/ m2 ) |
|---|---|
| Berat badan kurang | <18,5 |
| Normal | 18,5--24,9 |
| Kegemukan | 25,0--29,9 |
| Obesitas I | 30,0--34,9 |
| Obesitas II | 35,0--39,9 |
| Obesitas III (Ekstrem) | >40 |
Ada banyak faktor risiko untuk kelebihan berat badan dan obesitas. Beberapa faktor risiko bersifat individual seperti pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Faktor risiko lainnya ada di lingkungan Anda, seperti sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sekitar.
Di era digitalisasi sekarang ini, waktu menonton TV, komputer, bermin gim video, atau waktu menonton layar lainnya dalam waktu yang lama membuat banyak individu kurang melakukan aktivitas fisik. Individu dewassa setidknya membutuhkan 150 menit aktivitas fisik dalam seminggu, sedangkan anak-anak membutuhkan 60 menit aktivitas fisik perharinya.[3]
Terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan gula tambahan, minuman manis dengan kandungan gula yang tinggi, makanan cepat saji dengan kadar lemak tinggi, jarang makan makanan berserat seperti buah dan sayuran menjadi faktor risiko terjadinya obesitas.[4]
Faktor genetik pertama yang menjadi penyebab obesitas yaitu usia. Obesitas merupakan akibat dari kelebihan lemak pada tubuh karena tidak adanya keseimbangan antara kalori yang dikonsumsi dan energi yang dikeluarkan dan sering kali menyebabkan gangguan kesehatan. Makin bertambah umur, maka metabolic rate akan menjadi semakin melambat. Setiap 10 tahun sesudah umur 25 tahun, metabolisme sel sel tubuh berkurang 4% dan pada perempuan ketika memasuki periode menopause metabolic rate mulai menurun, sehingga tidak lagi dibutuhkan banyak kalori untuk mempertahankan berat tubuh.[5]
Studi baru yang dirilis oleh Lancet menunjukkan bahwa, pada tahun 2022, lebih dari 1 miliar orang di dunia kini mengalami obesitas. Di seluruh dunia, obesitas di kalangan orang dewasa meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1990, dan meningkat empat kali lipat di kalangan anak-anak dan remaja (usia 5 hingga 19 tahun). Data tersebut juga menunjukkan bahwa 43% orang dewasa mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022.[6]
Masalah obesitas tidak hanya dialami dunia, melainkan juga di Indonesia. Pada tahun 2023, tercatat bahwa prevalensi obesitas Indonesia mencapai 23,4% untuk orang dewasa usia di atas 18 tahun. Angka ini nyaris setengah dari prevalensi status gizi normal di Indonesia yang sebesar 54,4%. Hal ini berarti, sekitar 1 dari 5 penduduk Indonesia mengalami obesitas.[1]
1. Prevalensi obesitas berdasarkan pekerjaan
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023 oleh Kemenkes, prevalensi obesitas tertinggi dialami oleh penduduk yang bekerja sebagai PNS, TNI, Polri, BUMN, maupun BUMD. Mereka yang tidak bekerja juga memiliki prevalensi obesitas yang cukup tinggi, hampir mencapai 30%.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor pekerjaan memiliki pengaruh terhadap kondisi tubuh seseorang. Pekerjaan yang membutuhkan banyak aktivitas fisik cenderung memiliki risiko obesitas yang rendah, sedangkan pekerjaan yang mengharuskan karyawan duduk diam di depan layar selama berjam-jam per harinya memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi.
2. Prevalensi obesitas berdasarkan jenis kelamin
Kemenkes mencatat bahwa prevalensi obesitas lebih tinggi ditemukan pada perempuan dibanding laki-laki. Pada 2023, tercatat prevalensi obesitas pada wanita sebesar 31,2%, sedangkan pada laki-laki hanya 15,7%.
Menurut Current Obesity Reports, perempuan memang tercatat memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding pria. Perbedaan hormon yang dimiliki perempuan dan laki-laki menjadi salah satu penyebabnya. Tubuh wanita memang cenderung menyimpan lebih banyak lemak, sedangkan laki-laki lebih banyak memiliki otot. Hal ini dikarenakan produksi hormon testosteron yang lebih tinggi pada laki-laki dibanding wanita.
Dengan massa otot yang lebih banyak, pria otomatis membutuhkan lebih banyak kalori. Untuk itulah, ketika pria makan, kalorinya akan diserap oleh otot dan tidak tertimbun. Akibatnya, laki-laki takkan cepat gemuk.
Hal ini berbeda dengan perempuan. Massa otot pada tubuh wanita lebih sedikit, sehingga apabila makan dengan jumlah kalori berlebih, tubuh wanita akan menimbun kalori tersebut, dan akan berubah menjadi lemak. Inilah yang membuat perempuan lebih rentan terhadap obesitas.
Meski begitu, obesitas tidak hanya disebabkan oleh hormon. Gaya hidup dan pola makan juga memengaruhi tingginya obesitas di kalangan masyarakat.
Laki-laki cenderung lebih sering berolahraga ketimbang wanita, yang membuat frekuensi aktivitas fisiknya lebih tinggi dibanding perempuan. Laki-laki juga lebih banyak dipercayakan pekerjaan yang membutuhkan energi besar, berbeda dengan wanita. Hal ini turut menyebabkan risiko obesitas pada wanita lebih tinggi.
3. Prevalensi obesitas berdasarkan status ekonomi
Jika dilihat dari status ekonominya, maka penderita obesitas cenderung berasal dari status ekonomi teratas, dengan prevalensi sebesar 30,5%. Terdapat pola hubungan antara prevalensi obesitas dengan status ekonomi. Semakin tinggi status ekonomi, maka semakin tinggi pula prevalensi obesitas di tanah air, begitu pula sebaliknya.
Lagi-lagi, hal ini berkaitan dengan aktivitas fisik, gaya hidup, serta pola konsumsi sehari-hari. Penduduk dengan status ekonomi teratas cenderung telah memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dengan baik, sehingga tidak perlu lagi melakukan pekerjaan fisik yang melelahkan. Mereka juga lebih banyak bekerja dari tempat masing-masing, mengurangi mobilitas sehari-hari.
Hal ini berbanding terbalik dengan mereka yang berasal dari status ekonomi terbawah, yang prevalensi obesitasnya mencapai 14,3%. Mereka cenderung membanting tulang setiap hari untuk bekerja mengumpulkan rupiah, dan pekerjaan tersebut tidak jarang berhubungan dengan fisik. Untuk itulah, energi yang terpakai juga lebih tinggi, membuat prevalensi obesitas menjadi lebih rendah.[1]