PT MNC Sky Vision Tbk, beroperasi dengan merek dagang MNC Vision dan Indovision, adalah sebuah perusahaan penyedia layanan televisi satelit berlangganan di Indonesia. Didirikan pada 8 Agustus 1988 dan mulai beroperasi pada 1 Oktober 1994, anak perusahaan MNC Vision Networks ini telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sejak 29 Juni 2012.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Logo korporat sejak 20 Mei 2015 | |
| MNC Vision Indovision Sebelumnya: Top TV (2008–2017) | |
Nama sebelumnya | PT Malicak Nusa Semesta (1988–1989) PT Matahari Lintas Cakrawala (1989–2006) |
Jenis perusahaan | Publik |
| Kode emiten | BEI: MSKY |
| Industri | Televisi satelit berlangganan |
| Didirikan | 8 Agustus 1988 (1988-08-08) |
| Pendiri | Datakom Asia |
| Kantor pusat | , |
Tokoh kunci | Endang Mayawati (Direktur Utama) Ruby Panjaitan (Komisaris Utama) |
| Pemilik | lihat daftar |
| Induk | Global Mediacom (MNC Asia Holding) |
| Anak usaha | PT Media Citra Indostar |
| Situs web | mncvision indovision |
PT MNC Sky Vision Tbk, beroperasi dengan merek dagang MNC Vision dan Indovision, adalah sebuah perusahaan penyedia layanan televisi satelit berlangganan di Indonesia. Didirikan pada 8 Agustus 1988 dan mulai beroperasi pada 1 Oktober 1994, anak perusahaan MNC Vision Networks ini telah resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sejak 29 Juni 2012.
PT MNC Sky Vision Tbk awalnya didirikan dengan nama PT Malicak Nusa Semesta pada 8 Agustus 1988, yang pada 29 Juli 1989 berubah nama menjadi PT Matahari Lintas Cakrawala.[1] 61% kepemilikan PT Matahari Lintas Cakrawala (disingkat Malicak) awalnya dimiliki oleh PT Datakom Asia, perusahaan patungan sejumlah pengusaha yang terafiliasi dengan elit Cendana.[a] Selain PT Datakom, pemegang saham minoritas lainnya di PT Malicak terdiri dari beberapa individu dan perusahaan, seperti Henry Pribadi dan Sudwikatmono.[2][3][4]
Pada Oktober 1993, PT Malicak mendapatkan izin untuk mengoperasikan televisi berlangganan dengan merek dagang Indovision yang diluncurkan pada 16 Januari 1994, serta mulai beroperasi pada 1 Oktober 1994.[5] Televisi satelit berlangganan pertama di Indonesia ini memulai operasionalnya dengan 5 saluran televisi mancanegara: CNN, HBO, Discovery Channel, ESPN, dan TNT (kemudian Cartoon Network). Kerjasama dengan CNN dan ESPN sudah disepakati sejak Oktober 1991, HBO sejak Oktober 1993,[6] dan saluran lain sejak Maret 1994.[7] Sebelumnya, siaran asing tersebut masih bisa ditangkap bebas dengan antena parabola,[8] yang selanjutnya "diacak" setelah Indovision diluncurkan.[9] Untuk penyiarannya, Indovision awalnya menggunakan jasa satelit Palapa B2P. Target awalnya adalah 150.000 pelanggan pada akhir 1994, tetapi karena harga dekoder dan sewa yang mahal (Rp 1.475.000 untuk dekoder, Rp 82.000/bulan untuk berlangganan),[6] maka layanan ini sempat kurang peminat dan hanya meraih 5.000 pelanggan di tahun awalnya.[10]
Demi menarik pelanggan baru, Indovision meneken kerjasama dengan STAR TV pada 28 Maret 1996[11] untuk menyuplai empat kanal, yaitu Star Sports, Star Plus, Star Movies, dan Channel V, sehingga kini terdapat 25 saluran yang bisa dinikmati dengan harga yang lebih murah (Rp 63.000/bulan).[12] Sayangnya, kerjasama dengan STAR TV kemudian dihentikan pada Desember 1998[13] (diduga karena persengketaan mengenai penyewaan satelit),[14][15] walaupun sebagai penggantinya, per 1 November 1998 Indovision menghadirkan saluran lain seperti Animal Planet, AXN, dan Cinemax, ditambah 5 stasiun televisi swasta yang ada.[12][16] Per April 1996, pelanggan Indovision didominasi industri perhotelan (sekitar 30.000), sedangkan pelanggan rumahan dan individu hanya sekitar 20.000.[12]
Di tahun 1997, Indovision melakukan inovasi dengan mengubah sinyal penayangannya dari analog menjadi digital, yang dimulai dengan 19 saluran di satelit C-Band Palapa C2 yang diresmikan pada 3 Februari (termasuk saluran in-house di bawah nama "Citra TV") dan diklaim sebagai TV berlangganan pertama di Asia yang menawarkan beragam saluran hiburan,[17] serta penambahan 6 saluran domestik pada September.[18] Dengan sistem digital, pelanggan Indovision dapat menikmati kualitas gambar jernih setara laser disc dan audio sejernih CD. Adapun saat itu Indovision hanya menyediakan layanannya, sedangkan dekodernya dijual terpisah (awalnya bermerek Pace dan RCA)[19][20] dengan harga maksimal Rp 1,774 juta. Untuk instalasinya, diperlukan LNB baru (digital-ready) untuk memastikan penerimaan siaran dapat berjalan baik.[21] Menurut Peter F. Gontha sebagai komisaris saat itu, layanan Indovision dianggap merupakan sebuah bisnis yang sangat prospektif karena negara berkembang tengah menggandrungi home entertainment yang tergolong murah dan sudah mengucurkan dana sebesar US$ 70 juta untuk bersiaran secara digital serta memiliki target awal 5% kepemirsaan televisi di Indonesia (atau 1 juta pelanggan).[22]
Pada November di tahun yang sama, diluncurkan satelit Indostar I (atau disebut juga Cakrawarta I) - dikelola oleh anak usaha Datakom bernama PT Media Citra Indostar, yang berarti Indovision tidak perlu menyewa satelit lagi sejak 12 November 1998 (awalnya direncanakan akan meluncurkan tiga satelit lain).[23] Satelit Cakrawarta I membawa 5 transponder aktif dengan 2 cadangan dan menggunakan frekuensi S-Band dengan sistem kompresi 8:1 yang dapat memuat 40 saluran. Adapun kontraknya diteken bersama dengan CTA International pada 8 Desember 1993 dan menelan biaya US$ 271 juta. Dengan adanya sistem baru ini, diharapkan dapat menjangkau populasi yang tidak terlayani siaran televisi terrestrial (32% atau 57 juta) dan radio (20% atau 36 juta). Selain itu, pelanggan hanya memerlukan antena parabola berukuran 70 cm hingga 1 meter untuk dapat menerima siaran dengan kualitas terbaik.[23][18]
Layanan Indovision sebelum krisis ekonomi 1997-1998 ditargetkan meraih 600.000 pengguna, tetapi seiring penurunan ekonomi akibat krismon, angka tersebut diturunkan menjadi 50.000. Tercatat pada 1999-2000 Indovision dapat dinikmati 3,3 juta orang dan memiliki pengguna sekitar 20.000-70.000.[10] Pada awal 1998, Indovision resmi mengoperasikan sistem S-Band, yang dilanjutkan perluasan saluran menjadi 40 per April 1998. Kedua perubahan ini mulai dilaksanakan secara penuh sejak 1999.[18]
Pada Oktober 2001 induk PT Malicak, PT Datakom Asia diakuisisi oleh Salim Group berpatungan dengan Bhakti Investama (51%), milik Hary Tanoesoedibjo (HT). Inilah awal dari kepemilikan HT di TV berbayar ini sampai sekarang.[24] Kemudian kepemilikan Salim di PT Datakom menghilang, meninggalkan HT sebagai pengendali utama televisi berbayar terbesar di Indonesia ini. Saham PT Malicak (Indovision) masih dikuasai oleh PT Datakom sebesar 96% pada 2006, hingga ketika pada 2006-2008 sahamnya dijual kepada Global Mediacom, Bhakti Investama dan perusahaan lainnya.[4] Dalam hal ini, PT Malicak bisa dikatakan hanya berpindah perusahaan induk, bukan kepemilikan. Pada 3 Juni 2006, seiring proses akuisisi, nama PT Malicak diubah menjadi PT MNC Sky Vision, meskipun produknya tetap menggunakan merek Indovision.[1] Sementara itu, bagi pengelola satelitnya, PT Media Citra Indostar (MCI) awalnya tetap dimiliki oleh PT Datakom, tetapi lewat sebuah perjanjian obligasi konversi,[25] sejak 23 Desember 2016 PT MCI menjadi anak perusahaan PT MNC Sky Vision.[26]
Pada bulan April 2008, PT MNC Sky Vision meluncurkan merek televisi berlangganan lainnya, Top TV. Produk ini menargetkan kalangan masyarakat menengah ke bawah dan daerah rural yang tidak terjangkau siaran televisi terestrial.[27] Per tahun 2012, Top TV memiliki 583.000 pelanggan dengan pangsa pasar 24%[28] yang dilayani 40 saluran,[25] dan di bulan Desember 2016 sudah memiliki 898.000 pengguna.[27]
Beberapa perkembangan lain MNC Sky Vision, seperti pada 16 Mei 2009 meluncurkan satelit Indostar II/Protostar II yang menggantikan Indostar I. Satelit ini memiliki 32 transponder, termasuk 10-transponder aktif dan 3 transponder cadangan yang berfungsi sebagai penguat gelombang frekuensi S-Band.[29][30][31] Kemudian, Indovision juga meluncurkan saluran resolusi tinggi (HD) yang awalnya hanya ada dua (National Geographic Channel HD dan HBO HD).[32][33]
Sejak 9 Juli 2012, PT MNC Sky Vision resmi melepas 20% sahamnya di Bursa Efek Indonesia, dengan harga Rp 1.520/lembar. Pada saat itu, sempat masuk pemodal asing, yaitu dari Saban Capital dan Creador Capital, masing-masing sekitar 17% dan 13%.[34] Pelanggannya terus bertambah hingga mencapai 2,3 juta di akhir 2013, menjadikannya pemain terbesar di industri televisi berlangganan dengan pangsa pasar 74%.[28] Meskipun menjadi pemimpin pasar, kinerja MNC Sky Vision tidak terlalu baik, terlihat dari hutang yang cukup besar (dalam mata uang asing) dan beberapa kali merugi. Hal ini diperkirakan terjadi akibat fluktuasi kurs rupiah dan persaingan yang ketat dengan layanan televisi kabel/IPTV.[35] Di tahun 2014, MNC Sky Vision menyebar perangkat Indovision ke 365 Komando Rayon Militer (Koramil) di daerah terpencil. Diharapkan, kegiatan tersebut memudahkan petugas untuk mendapatkan informasi dan hiburan.[36]
Pada 2016, saham Global Mediacom di MNC Sky Vision kemudian dialihkan kepada anak usahanya, PT Sky Vision Networks.[27] Kemudian, mulai 12 Desember 2017, Indovision dan Top TV (ditambah OkeVision, dikelola oleh perusahaan afiliasi bernama PT Nusantara Vision) resmi berganti nama menjadi MNC Vision. Adapun penggabungan ini dilakukan demi melakukan integrasi pada bisnis televisi satelit MNC Group sebagai sebuah layanan terpadu.[37] MNC Vision tergabung dalam MNC Vision Networks (sebelumnya bernama PT Sky Vision Networks) bersama K-Vision, MNC Play, dan Vision+.
Pada 12 Mei 2023, MNC Vision resmi menghapus 14 kanal dari Warner Bros. Discovery dikarenakan masalah kontrak yang tak lagi dilanjutkan.[38] Memasuki periode ini, kinerja MNC Sky Vision makin tertekan dengan maraknya layanan over-the-top (OTT), yang memangkas pelanggannya menjadi 1,3 juta saja. Jumlah ini sama dengan penurunan 50% dibanding pelanggannya di tahun 2016 yang mencapai 2,5 juta.[1] Akibatnya, mereka mulai membidik pasar di luar kota besar demi mencari peluang baru.[39]
Di tahun 2025, merek MNC Vision mulai dikembalikan lagi ke Indovision. Dalam laporan tahunan MNC Sky Vision 2024, disebutkan bahwa penggantian itu disebabkan karena nama Indovision sudah sangat melekat dan dikenal masyarakat Indonesia. Perubahan nama tersebut juga merupakan strategi untuk menyempurnakan penawaran dan layanan agar tetap relevan.[40] Kehadiran kembali Indovision sebagai merek MNC Sky Vision resmi diumumkan dalam public expose perusahaan di tanggal 23 Juni 2025. Indovision akan mengusung strategi back to basic, mengingat Indovision sudah kadung dikenal sebelumnya, ditambah pasar televisi berlangganan saat ini yang didominasi pemirsa lansia dan anak-anak.[41] Adapun perubahan nama tersebut mulai terlihat di beberapa pengguna dengan logo yang tidak jauh berbeda dari logo sebelumnya.[42][43]
Sebagai permulaan, diluncurkan paket "Indovision" di K-Vision yang menawarkan semua saluran K-Vision dengan harga terjangkau dan berlaku efektif mulai 16 Mei 2025.[44] Bukan kali ini saja MNC Sky Vision dan K-Vision melakukan kerjasama produk, sebelumnya pada 2021 diluncurkan paket "VisionKU" yang dipasarkan oleh MNC Sky Vision dan juga menawarkan semua saluran K-Vision dengan harga terjangkau.[45][46][47] Lalu memasuki Juli 2025, akun media sosial Indovision kembali hadir dan menampilkan promosi yang mengisyaratkan bahwa layanan TV berbayar ini hadir kembali dengan sasaran pelanggan utama dari kalangan pemirsa lansia dan anak-anak, serta penikmat tayangan olahraga yang tidak terjangkau dengan sinyal TV digital terestrial (DVB-T2).[48]
Tak lama setelahnya, dekoder Indovision yang digunakan untuk menerima siaran dari frekuensi Ku-Band (yang menggunakan transponder bersama dengan K-Vision) pun beredar di pasaran dengan tampilan yang menyerupai salah satu seri dari dekoder K-Vision GOL (baik dari segi hardware maupun software), disertai dengan prosedur pemasangan (instalasi) dan aktivasi dekoder yang dapat dilakukan oleh teknisi yang memiliki akun Kawan K-Vision.[49] Sementara untuk pelanggan MNC Vision tipe corporate (hotel, apartemen, dan sejenisnya) diberikan opsi untuk beralih dari frekuensi S-Band[50] ke C-Band dan/atau Ku-Band serta hanya memerlukan instalasi ulang sebelum dilakukan redistribusi siaran secara digital (menggunakan modulasi DVB-T2 atau DVB-C).
Boleh dikatakan, rebranding kembali MNC Vision menjadi Indovision merupakan bagian dari strategi bisnis setelah frekuensi S-Band yang selama ini digunakan nantinya akan dihentikan total menyusul langkah pemerintah untuk mengalihkan alokasi frekuensi 2,6 GHz demi menunjang ketersediaan layanan internet 5G.[51] Setelah transponder dengan frekuensi S-Band dihentikan, Indovision nantinya akan mengudara sepenuhnya menggunakan frekuensi yang digunakan oleh K-Vision (beserta LCN yang digunakan).[52][53][54][55] Adapun pengguna baru Indovision reborn ini akan mendapatkan kemudahan dari transisi tersebut. Mulai dari tidak perlu menyewa perangkat, tarif berlangganan yang murah, dan kemudahan beralih ke K-Vision yang prabayar jika diperlukan.[56]
Sejak Oktober 2025, pelanggan lama MNC Vision mulai diimbau untuk melakukan migrasi perangkatnya ke perangkat bermerek Indovision seiring perubahan sistem satelitnya. Siaran MNC Vision akhirnya dipadamkan pada 31 Desember 2025,[57] digantikan oleh siaran Indovision yang kembali mengudara. Meskipun demikian, hingga saat ini merek MNC Vision masih digunakan pada publikasi (seperti laman web), dan perubahan nama/peluncuran ulang identitas Indovision masih belum diresmikan.
Berikut ini adalah daftar kepemilikan perusahaan berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2025.[58]
| Nama Pemegang Saham | Persentase Kepemilikan (%) |
|---|---|
| PT MNC Vision Networks Tbk | 91,896 |
| Rachmat Nurhadi (Komisaris) | 0,000 |
| Masyarakat/publik (kepemilikan kurang dari 5%) | 8,104 |
| Total | 100% |