Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Nur Iman Mlangi

Kiai Nur Iman Mlangi atau RM Sandeyo adalah pendiri dari Dusun Mlangi Sleman, Yogyakarta. Nur Iman merupakan Kiai pertama yang mengajarkan agama kepada masyarakat setempat sehingga dusun yang dibangun disebut "Mulangi" atau "Mlangi".

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan
Diperbarui 22 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Nur Iman Mlangi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(November 2025)
Nur Iman Mlangi
Bendara Pangeran Harya Hangabehi
Pangeran Harya Saloring Pasar
G.P.H Kartosuro
KelahiranBendara Raden Mas Sandeya
1708
Kematian4 Juni 1744
Pemakaman
Kompleks Masjid Pathok Negara An-Nur Mlangi
PasanganRaden Ayu Gelang
KeturunanRaden Mas Taptojani, Raden Ayu Mursilah Abdul karim, Kyai Hasan Besari dll
WangsaMataram
AyahAmangkurat IV
IbuBendara Raden Ayu Ratna Susilawati

Kiai Nur Iman Mlangi atau RM Sandeyo (diperkirakan lahir pada sekitar abad ke-18 atau tahun 1708-an) adalah pendiri dari Dusun Mlangi Sleman, Yogyakarta.[1] Nur Iman merupakan Kiai pertama yang mengajarkan agama kepada masyarakat setempat sehingga dusun yang dibangun disebut "Mulangi" atau "Mlangi".[2]

Silsilah

RM Sandeyo adalah putra dari RM Suryaputra yang bergelar Raja Amangkurat IV dengan RA Retno Susilowati, putri dari pahlawan nasional Untung Suropati yang saat itu bergelar Adipati Wiranegoro.[3] RM Sandeyo juga merupakan saudara para tokoh kerajaan Mataram antara lain Pangeran Harya Mangkunegara (ayah dari Raden Mas Said), Raja Pakubuwana II, dan Raja Hamengkubuwana I.[4]

Sejarah

Pada saat terjadi perang saudara antara Pangeran Puger atau Susuhunan Pakubuwana I dengan kakaknya, Sunan Amangkurat II, dan dilanjut dengan Amangkurat III atau Amangkurat Mas, maka putera Pangeran Puger yang bernama RM Suryoputro melarikan diri ke Jawa Timur, tepatnya di daerah Gedangan dan menyamar sebagai seorang santri di Pondok Pesantren Gedangan.[5] Namanya kemudian diubah menjadi M. Ihsan.[6]

M. Ihsan ditunjuk sebagai pimpinan pemuda santri oleh kepala pondok pesantren, Kiai A. Muhsin. Pada suatu hari, Adipati Wironegoro yang tak lain adalah Untung Suropati berkunjung ke pondok dan melihat M. Ihsan. Sang Adipati merasa mengenal sang pemuda dan meyakini bahwa Ihsan bukanlah santri biasa. Aura kebangsawanan memancar dari wajahnya. Atas perkenan Kiai Muhsin, Adipati memanggil Ihsan dan mengajak ke rumahnya. Akhirnya diketahui bahwa Ihsan adalah putra Pangeran Puger. Ihsan yang sebenarnya adalah RM Suryoputro diminta pulang ke Mataram. Namun sebelumnya dinikahkan dengan puteri Adipati Wironegoro, RA Retno Susilowati. Dari hasil pernikahan mereka lahirlah RM Sandeyo yang dititipkan di pondok bersama ibunya sejak masih dalam kandungan. Sementara RM Suryoputro kembali ke Mataram yang masih bergejolak dan dinobatkan sebagai Raja Amangkurat IV atau lebih dikenal dengan nama Amangkurat Jawa.

Setelah dewasa, RM Sandeyo atas perintah ayahnya, dijemput untuk dibawa ke Mataram. Saat itu sedang berkecamuk perang saudara antara ketiga adik RM Sandeyo dari ibu yang berbeda. Untuk mendamaikan, RM Sandeyo mengajukan perjanjiyan Giyanti yang menyatakan bahwa[butuh rujukan]:

  1. Kerajaan Mataram Kartasura dipecah ke dalam dua wilayah, yaitu Prambanan ke arah Timur dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana II dan memiliki ibu kota di Surakarta dan area Prambanan ke arah Barat dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I), beribu kota di Yogyakarta.
  2. Sebuah wilayah kecil di daerah Surakarta dibentuk Puro, disebut Puro Mangkunegoro diserahkan kepada RM Said/Pangeran Sambernyowo.

Setelah situasi tenteram, RM Sandeyo memutuskan untuk tinggal di luar kraton dan membaur bersama penduduk. Kemudian dia tinggal di sebuah desa, berganti nama menjadi Kiai Nur Iman, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh di pesantren. Di situ dia mendirikan pondok pesantren yang selanjutnya dikenal dengan nama Pondok Mlangi, dan tempat tinggalnya pun disebut Mlangi. Area tempat tinggal Kiai Nur Iman merupakan tanah pemberikan Sultan Hamengkubuwono I dan menjadi tanah perdikan yang bebas pajak. Kiai Nur Iman meninggal dan dimakamkan di halaman belakang masjid yang dibangun tahun 1760. Kini masjid dan makam Kyai Nur Iman menjadi tempat ziarah berbagai kalangan dari seluruh pelosok tanah air.

Referensi

  1. ↑ "Kiai Nur Iman Mlangi, Pejuang Revolusi Pendiri Banyak Pesantren". NU Online. Diakses tanggal 2025-05-22.
  2. ↑ "Video Masjid Pathok Negoro Mlangi, Tempat 'Mulangi' Ajaran Islam". Tribunjogja.com. Diakses tanggal 2025-05-22.
  3. ↑ TV, Metro, Wajah Islam Mataraman di Masjid Patok Negara Mlangi Yogyakarta, diakses tanggal 2025-05-22
  4. ↑ Dayanto, Swasto. "Raden Mas Sandeyo Kiai Mlangi 8: Sang Putra Telah Tumbuh Jadi Pemuda yang Arif Bijaksana - Harian Merapi". Raden Mas Sandeyo Kiai Mlangi 8: Sang Putra Telah Tumbuh Jadi Pemuda yang Arif Bijaksana - Harian Merapi. Diakses tanggal 2025-05-22.
  5. ↑ admin_merapi. "Raden Mas Kiai Mlangi 3: Pergi Meninggalkan Kerajaan untuk Mencari Ilmu dan Ketenteraman - Harian Merapi". Raden Mas Kiai Mlangi 3: Pergi Meninggalkan Kerajaan untuk Mencari Ilmu dan Ketenteraman - Harian Merapi. Diakses tanggal 2025-05-22.
  6. ↑ Guru, Dawuh (2025-01-23). "Silsilah Keluarga Kiai Nur Iman Mlangi". Dawuh Guru. Diakses tanggal 2025-05-22.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Silsilah
  2. Sejarah
  3. Referensi

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Soeprapto

Perwira TNI AD (1920 – 1965)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026