Nuiyai dari Ligor adalah seorang putri Ligor yang menjadi selir Raja Buddha Yotfa Chulaloke.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Nuiyai dari Ligor นุ้ยใหญ่แห่งนครศรีธรรมราช (Thai) | |
|---|---|
| Putri Ligor Selir Raja Rattanakosin | |
| Kelahiran | Putri Nui dari Ligor Sebelum tahun 1767 Istana Raja Ligor, Negeri Sri Dharmaraja, Kerajaan Ligor |
| Kematian | Tahun 1827 Istana Depan, Bangkok, Kerajaan Rattanakosin |
| Pemakaman | 5 Mei 1827 |
| Pasangan | Raja Buddha Yotfa Chulaloke (Rama I dari Rattanakosin) |
| Keturunan | Arunothai, Raja Muda Maha Sakdiphonlasep |
| Dinasti | Na Nagara (lahir) Chakri (melalui pernikahan) |
| Ayah | Phat, Raja Muda Ligor |
| Ibu | Putri Nual dari Ligor |
| Agama | Buddha Theravada |
Nuiyai dari Ligor (bahasa Thai: นุ้ยใหญ่แห่งนครศรีธรรมราชcode: th is deprecated ) adalah seorang putri Ligor (Kerajaan Negeri Sri Dharmaraja) yang menjadi selir Raja Buddha Yotfa Chulaloke (Rama I dari Rattanakosin).
Putri Nuiyai dari Ligor, atau yang awalnya bernama Putri Nui dari Ligor, lahir di Negeri Sri Dharmaraja, dari Keluarga Na Nakorn, putri dari Phat, Raja Muda Ligor dan Putri Nual (atau Chum) dari Ligor. Ayahnya adalah putra seorang bangsawan dari Ligor[1][2], dan kemudian menikahi ibunya, yang merupakan putri Noo, Raja Ligor.[2] Kemudian, ayahnya, sebagai menantu raja, diangkat menjadi Raja Muda.
Setelah Raja Muda Phat pergi berperang untuk Raja Taksin, Putri Nual atau Chum, yang merupakan ibu dari Nuiyai, meninggal dunia. Setelah perang usai, Raja Muda Phat datang menemui Raja Taksin pada tahun 1774. Raja Taksin menghiburnya, dengan berkata, "Jangan terlalu sedih. Aku akan mengirimkan adikmu sebagai penggantimu agar dia bisa membesarkan anak-anakmu." Oleh karena itu, Raja Taksin mengirim Putri Prang dari Ligor, selirnya yang merupakan saudara perempuan Putri Nual, untuk menjadi istri Raja Muda Phat, sehingga Putri Nuiyai mendapatkan bibinya sebagai ibu tiri.[3]
Ketika Raja Rama I naik tahta, ia memberikan putri sulungnya, Putri Nuiyai, untuk menjadi selirnya. Lebih jauh lagi, ia juga memberikan putri bungsunya, Putri Nuilek dari Ligor, untuk menjadi selir bagi Bunma, Raja Muda Maha Sura Singhanat.
Putri Nuiyai memiliki seorang putra dengan Raja Rama I, Pangeran Arunothai, yang kemudian diangkat menjadi Raja Muda Maha Sakdiphonlasep oleh Raja Rama III.
Setelah Pangeran Arunothai diangkat menjadi Raja Muda Maha Sakdiphonlasep, Putri Nuiyai menetap di Istana Depan dan akrab dipanggil "Sang Ibu Kerajaan" (bahasa Thai: เจ้าคุณพระชนนีcode: th is deprecated ).[4] Selain itu, Raja Rama IV pernah menyebut Putri Naiyai dalam sebuah surat, menyebutnya sebagai "bibi kerajaanku" (bahasa Thai: เจ้าป้าของหม่อมฉันcode: th is deprecated ).[5]
Putri Nuiyai meninggal pada tahun 1827. Jasadnya dikremasi di bawah perlindungan kerajaan Raja Rama III di Wat Saket pada tanggal 5 Mei 1827. Raja Rama III mempersembahkan peti mati kepada Putri Nuiyai dengan penuh hormat, karena beliau adalah ibu dari Raja Muda.
Abu jenazah Putri Naiyai pertama kali diletakkan di Istana Depan. Namun setelah putranya meninggal, keponakannya, Putri Pattamaraja, memindahkan abu jenazahnya ke Wat Tha Pho, bersama dengan abu jenazah orang tuanya (Raja Muda Phat dan Putri Nual) dan saudara perempuannya (Putri Nuilek dari Ligor).[4]
| 4. Phra Palad | ||||||||||||||||
| 2. Phat, Raja Muda Ligor | ||||||||||||||||
| 1. Putri Nuiyai dari Ligor | ||||||||||||||||
| 6. Noo, Raja Ligor | ||||||||||||||||
| 3. Putri Nual dari Ligor | ||||||||||||||||
| 14. Chinpad | ||||||||||||||||
| 7. Cik Puan Thongniao | ||||||||||||||||