Norman Myers CMG adalah seorang enviromentalis asal Inggris yang dikenal karena keahliannya dalam keanekaragaman hayati serta kontribusinya dalam memperkenalkan konsep pengungsi lingkungan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Norman Myers CMG (24 Agustus 1934 - 20 Oktober 2019) adalah seorang enviromentalis asal Inggris yang dikenal karena keahliannya dalam keanekaragaman hayati serta kontribusinya dalam memperkenalkan konsep pengungsi lingkungan.
Norman Myers lahir di Whitewell (yang saat itu termasuk wilayah Yorkshire, kini Lancashire) dan dibesarkan hingga usia 11 tahun di pertanian keluarganya, tanpa listrik, gas, atau toilet dalam rumah. Ia tinggal di kenya selama lebih dari 30 tahun, kemudian menetap di Headington, Oxford, Inggris.[1][2] Myers bersekolah di grammar school dan melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford (sarjana bahasa Prancis dan Jerman, Keble College, 1958; Gelar MA pada 1963). Dari tahun 1958 hingga 1961, ia bekerja sebagai District Officer di masa-masa terakhir administrasi kolonial Kenya. Setelah itu, ia menjadi guru sekolah menengah di Nairobi (1961 - 1966) dan penulis serta penyiar lepas hingga 1969. Ia fasih berbahasa Swahili, Masai, Perancis, dan Jerman. Pada tahun 1972, setelah menempuh studi doktoral di Universitas California, Berkeley (lulus 1973), ia bekerja sebagai konsultan untuk PBB, Bank Dunia, dan berbagai organisasi internasional lainnya, dan tetap tinggal di Kenya hingga awal 1980-an.
Pada tahun 1965, Myers menikah dengan Dorothy Halliman. Mereka berpisah pada 1993 dan resmi bercerai pada 2012.[3] Ia meninggalkan dua anak perempuan, Malindi dan Mara, serta beberapa cucu. Anaknya Mara Yamauchi adalah pelari maraton profesional yang dibesarkan di Kenya hingga usia 8 tahun.
Norman Myers meninggal dunia di Oxford pada 20 Oktober 2019 setelah lama berjuang melawan demensia dan Parkinson.[4][5]
Karya Norman Myers yang banyak dikutip tentang "pengungsi iklim" telah mendapatkan kritik dari para ilmuwan sosial, terutama para peneliti migrasi. Profesor Myers sendiri mengakui bahwa perkiraannya, meskipun dihitung berdasarkan data terbaik yang tersedia saat itu, tetap mengandung ekstrapolasi yang sangat berani.[6] Pada April 2011, dilaporkan bahwa PBB mengambil jarak dari prediksi Myers tahun 2005, yang menyatakan bahwa jumlah total pengungsi akibat perubahan iklim akan mencapai 50 juta orang pada tahun 2010.[7] Seorang akademisi menjelaskan bahwa, "yang saya pahami adalah Norman Myers melihat peta dunia, lalu menentukan wilayah mana yang kemungkinan besar akan terdampak oleh perubahan iklim. Kemudian ia melihat proyeksi jumlah penduduk di wilayah-wilayah tersebut untuk tahun 2010 dan 2050, lalu menjumlahkannya... Dari situlah angka itu muncul, karena ia tidak memperhitungkan bahwa sebagian orang mungkin tidak akan berpindah."[8] Sementara itu, populasi di banyak wilayah terus meningkat, dan salah satu dampaknya adalah munculnya upaya untk bermigrasi. Namun, perkiraan lain menempatkan jumlah pengungsi iklim hanya pada kisaran puluhan ribu orang, jauh lebih rendah daripada estimasi Myers.[9]