Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Nemonte Nenquimo

Nemonte Nenquimo adalah aktivis dan penulis asal Ekuador yang berasal dari Suku Waorani, masyarakat adat di wilayah hutan hujan Amazon. Ia dikenal sebagai pemimpin perempuan pertama Waorani Pastaza (CONCONAWEP) dan salah satu pendiri organisasi Ceibo Alliance serta Amazon Frontlines, dua lembaga nirlaba yang dipimpin masyarakat adat dan berfokus pada perlindungan hutan Amazon, keanekaragaman hayati, dan hak masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.

Wikipedia article
Diperbarui 8 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nemonte Nenquimo (lahir 1985) adalah aktivis dan penulis asal Ekuador yang berasal dari Suku Waorani, masyarakat adat di wilayah hutan hujan Amazon. Ia dikenal sebagai pemimpin perempuan pertama Waorani Pastaza (CONCONAWEP) dan salah satu pendiri organisasi Ceibo Alliance serta Amazon Frontlines, dua lembaga nirlaba yang dipimpin masyarakat adat dan berfokus pada perlindungan hutan Amazon, keanekaragaman hayati, dan hak masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.[1]

Pada tahun 2020, Nenquimo masuk dalam daftar TIME 100 sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia. Ia menjadi satu-satunya perempuan adat dalam daftar tersebut dan orang Ekuador kedua yang pernah mendapat pengakuan tersebut. Di tahun yang sama, ia juga menerima penghargaan “Champions of the Earth” dari UNEP (United Nations Environment Programme) dalam kategori Inspiration and Action atas kontribusinya dalam menjaga lingkungan dan memperjuangkan hak masyarakat adat. Salah satu pencapaian penting Nenquimo adalah keberhasilannya dalam gugatan hukum terhadap Pemerintah Ekuador pada 2019, yang menghasilkan keputusan pengadilan untuk melindungi 500.000 hektare tanah adat Waorani dari eksploitasi minyak bumi.

Kehidupan awal dan keyakinan

Nenquimo lahir di komunitas Nemompare, wilayah Pastaza, di jantung Amazon Ekuador. Ia merupakan keturunan langsung dari keluarga pemburu-pemungut Suku Waorani. Namanya diberikan oleh kakeknya, Piyemo, seorang pejuang legendaris Waorani. Dalam bahasa Wao, “Nemonte Ayebe” berarti “rasi bintang,” “ikan panjang di sungai yang terbelah,” dan “burung bernyanyi.”[2]

Sejak kecil, para tetua suku mendorongnya untuk menjadi pemimpin. Pada usia 12 tahun, ia mengunjungi kerabatnya yang tinggal di dekat sumur minyak, pengalaman yang sangat membekas baginya. Ia menyaksikan langsung dampak sosial dan lingkungan akibat eksploitasi minyak: asap, suara bising, dan perubahan drastis pada alam sekitar. Pengalaman itu menumbuhkan tekadnya untuk melindungi tanah leluhur Waorani. Sejak 1950-an, Suku Waorani telah menghadapi tekanan dari misionaris Kristen dan pemerintah Ekuador yang membuka hutan untuk jalan dan eksploitasi minyak. Sebagian besar wilayah Amazon Ekuador telah dibagi menjadi blok-blok konsesi minyak, termasuk Nemompare, tempat kelahiran Nenquimo. Situasi ini memaksa banyak keluarga Waorani untuk berpindah lebih dalam ke hutan demi mempertahankan kemandirian mereka.[3]

Nenquimo sering menekankan bahwa masyarakat adat sudah merasakan dampak perubahan iklim jauh sebelum dunia membicarakannya, dan bahwa kekuatan perjuangannya bersumber dari ajaran para abuela (perempuan tua bijak Waorani) yang menanamkan nilai cinta tanah dan tanggung jawab menjaga alam.

Aktivisme

Pada 2013, Nenquimo bertemu dengan Mitch Anderson, seorang aktivis asal Amerika yang bekerja mendampingi komunitas Amazon dalam sengketa hukum melawan perusahaan minyak Texaco dan Chevron. Setahun kemudian, mereka mendirikan Ceibo Alliance, sebuah aliansi yang menyatukan empat komunitas adat di Ekuador, Peru, dan Kolombia. Tujuannya adalah membangun representasi kolektif masyarakat adat untuk memperjuangkan hak atas tanah dan sumber daya mereka di hadapan pemerintah.

Pada 2018, Nenquimo terpilih sebagai presiden perempuan pertama CONCONAWEP, organisasi resmi masyarakat Waorani di provinsi Pastaza. Dalam masa kepemimpinannya, ia mengajukan gugatan hukum terhadap pemerintah Ekuador karena menjual wilayah adat kepada perusahaan minyak tanpa konsultasi dan persetujuan masyarakat Waorani. Gugatan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah hukum lingkungan dan hak masyarakat adat di Amerika Latin.[4][5]

Referensi

  1. ↑ Environment, U. N. (2020-12-09). "Nemonte Nenquimo | Champions of the Earth". www.unep.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-07.
  2. ↑ "Ya basta de encender fuegos en la selva amazónica, dice la líder waorani Nemonte Nenquimo, una de las 100 personas más influyentes del mundo para la revista Time". El Universo (dalam bahasa Spanyol). 2020-09-24. Diakses tanggal 2025-11-07.
  3. ↑ León, Carolina Loza. "'We saw it coming': The Indigenous leader fighting climate change". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-07.
  4. ↑ "Nemonte Nenquimo: The 100 Most Influential People of 2020". Time (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-07.
  5. ↑ Nenquimo, Nemonte (2020-10-12). "This is my message to the western world – your civilisation is killing life on Earth". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2025-11-07.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal dan keyakinan
  2. Aktivisme
  3. Referensi

Artikel Terkait

100 Women (BBC)

Vanessa Nakate Ethelreda Nakimuli-Mpungu Nandar Vernetta M Nay Moberly Nemonte Nenquimo Sania Nishtar Phyllis Omido Laleh Osmany Ridhima Pandey Lorna Prendergast

Perubahan iklim dan gender

untuk merencanakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Di Ekuador, Nemonte Nenquimo diangkat sebagai pemimpin perempuan pertama suku Waorani. Ia bersama

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026