Nehemia, adalah seorang tokoh penting dalam sejarah pasca-pembuangan orang-orang Yahudi yang dicatat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Ia adalah tokoh sentral dalam Kitab Nehemia, yang menggambarkan sebagai bupati dan berhasil membangun kembali Yerusalem selama periode Bait Suci Kedua sebagai gubernur Yehud Medinata, provinsi otonom Yudea dalam Kekaisaran Akhemenid, di bawah Artahsasta I. Namun, ketika ia mendengar bahwa orang-orang yang tinggal di Yerusalem berada dalam keadaan tercela dan dalam kesulitan besar, ia meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke Yerusalem.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nehemia | |
|---|---|
| Nabi dan Pemimpin Bani Israel | |
| Dihormati di | Gereja Ortodoks Timur |
| Pesta | 13 Juli (Katolik) Minggu Para Leluhur Suci (Orthodox)[1] |

Nehemia (bahasa Ibrani: נְחֶמְיָה, Modern Nəḥemya Tiberias Nəḥemyāh ; "Dihiburkan oleh Yahweh"),[2] adalah seorang tokoh penting dalam sejarah pasca-pembuangan orang-orang Yahudi yang dicatat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Ia adalah tokoh sentral dalam Kitab Nehemia, yang menggambarkan sebagai bupati dan berhasil membangun kembali Yerusalem[3] selama periode Bait Suci Kedua sebagai gubernur Yehud Medinata, provinsi otonom Yudea dalam Kekaisaran Akhemenid, di bawah Artahsasta I (465–424 SM).[2][4][5] Namun, ketika ia mendengar bahwa orang-orang yang tinggal di Yerusalem berada dalam keadaan tercela dan dalam kesulitan besar, ia meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke Yerusalem.
Keabsahan sejarah Nehemia, misinya, dan Memoar Nehemia baru-baru ini menjadi sangat kontroversial dalam kajian akademis, dengan kaum maksimalis memandangnya sebagai catatan sejarah dan kaum minimalis meragukan keberadaan Nehemia.[6] Ia dianggap sebagai santo dalam Gereja Ortodoks Timur, di mana ia diperingati pada Hari Minggu Para Leluhur Suci.

Dalam sebuah sastra rabinik hagadah Nehemia disamakan dengan Zerubabel, yang dianggap sebagai nama samaran Nehemia dan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ia lahir di Babel ("Zera'+ Babel"; Sanh. 38a). Bersama Ezra, ia menandai kebangkitan kembali sejarah nasional Yudaisme.[7] Sebuah mishna dinyatakan oleh para Rabi berasal dari aliran Nehemia [8] Betapapun juga, Nehemia dipersalahkan oleh para rabi karena ungkapannya yang dianggap menyombongkan diri, "Ingatlah akan daku, ya Allahku, untuk selama-lamanya" (Nehemia 5:19, Nehemia 13:31), dan penghinaannya terhadap para leluhurnya (Nehemia 5:15), antara lain Daniel. Para rabi menganggap bahwa kedua kesalahannya ini merupakan alasan mengapa buku ini tidak disebutkan dengan namanya sendiri melainkan diletakkan sebagai bagian dari Kitab Ezra (Sanh. 93b). Menurut B. B. 15a Nehemia menyelesaikan Kitab Tawarikh, yang ditulis oleh Ezra.
Since there are no extrabiblical testimonies for Nehemiah's person or work, one is initially dependent on the biblical data as a source…There is no clarity regarding the background, the concrete form, or the exact dating of Nehemiah's mission. For a long time the history of Nehemiah was reconstructed based on the assumption that Neh *1-7; *11-13 comprised an authentic so-called Nehemiah Memoir dating from the second half of the fifth century BCE. More recently, the historicity, background, and intention of these texts have become highly controversial. The maximalist position evaluates the details of the conflicts, Nehemiah's mission, and the actions initiated by him to be, as far as possible, historical, which then is authentically witnessed by Nehemiah's first-person report (e.g., Rainer Kessler, Titus Reinmuth, Ralf Rothenbusch). The minimalist position, on the other hand, doubts even the historicity of the person of Nehemiah. It does not see the Nehemiah Memoir as an authentic document but as a fictional account of later writers with theological intentions, who stylized Nehemiah as the model political leader. The Nehemiah Memoir is thus understood, as far as possible, to be an archetypal depiction without historical value (e.g., Joachim Becker, Erhard S. Gerstenberger).