Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari. Nasi aking biasanya dijual sebagai makanan unggas. Tetapi belakangan masyarakat pun mulai mengonsumsi nasi aking. Nasi aking bukanlah makanan yang layak dikonsumsi manusia; berwarna coklat dan dipenuhi jamur. Namun, masyarakat kelas bawah menjadikannya sebagai makanan pokok pengganti nasi karena tak mampu membeli beras. Untuk menghilangkan bau, nasi aking terlebih dahulu dipisahkan dari kotoran, dicuci, dijemur, lalu diberi kunyit untuk mengurangi rasa asam akibat jamur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari[1]. Nasi aking biasanya dijual sebagai makanan unggas.[1] Tetapi belakangan masyarakat pun mulai mengonsumsi nasi aking.[butuh rujukan] Nasi aking bukanlah makanan yang layak dikonsumsi manusia; berwarna coklat dan dipenuhi jamur. Namun, masyarakat kelas bawah menjadikannya sebagai makanan pokok pengganti nasi karena tak mampu membeli beras. Untuk menghilangkan bau, nasi aking terlebih dahulu dipisahkan dari kotoran, dicuci, dijemur, lalu diberi kunyit untuk mengurangi rasa asam akibat jamur.
Nasi aking adalah sisa nasi yang tidak habis dikonsumsi, kemudian dibersihkan dan dikeringkan di bawah sinar matahari hingga menghasilkan tekstur kering berwarna coklat kekuning-kecoklatan. Proses pengeringan ini sering berlangsung selama lima hingga sepuluh hari tergantung kondisi cuaca, dan warna berubah akibat reaksi Maillard dan aktivitas mikroba.[2] Meski awalnya digunakan sebagai pakan unggas, adapun masyarakat di beberapa wilayah Jawa memanfaatkan nasi aking sebagai pengganti nasi pokok atau sebagai camilan murah. Karena berasal dari sisa makanan dan berisiko terkontaminasi jamur, konsumsi manusia dibatasi dan dianggap bukan pilihan utama pangan manusia.[2]
Pengeringan nasi sisa di lingkungan rumah tangga tanpa standar higienis dapat memunculkan pertumbuhan jamur atau mikotoksin yang membahayakan kesehatan jika dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, badan pangan lokal dan pelaku usaha pakan ternak menyarankan agar nasi aking hanya digunakan untuk pakan ternak dan bukan makanan manusia, kecuali telah melalui proses pengolahan ulang yang memastikan keamanannya.[2] Sejumlah pedagang tradisional menjual nasi aking dalam bentuk paket berat sekitar 1 kg untuk pakan unggas dengan harga terjangkau, namun edaran sebagai pangan manusia masih tanpa regulasi kuat di banyak daerah dan perlu pengawasan agar tidak terjadi penyalahgunaan atau konsumsi yang tidak aman.[3]