Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Djoko, adalah seorang pengusaha Indonesia dan pendiri Blue Bird Group, perusahaan transportasi terkemuka di Indonesia. Ia memulai usahanya dari kondisi yang sulit setelah suaminya meninggal dunia dan berhasil membangun bisnis dari dua mobil bekas menjadi salah satu grup perusahaan transportasi terbesar di Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
Artikel ini berkualitas rendah karena menggunakan kata-kata yang berlebihan dan hiperbolis tanpa memberikan informasi yang jelas. |
| Mutiara Djokosoetono | |
|---|---|
| Lahir | Mutiara Siti Fatimah (1921-10-17)17 Oktober 1921 Malang, Hindia Belanda |
| Meninggal | 10 Juni 2000(2000-06-10) (umur 78) Jakarta, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Almamater | Universitas Indonesia (S.H.) |
| Pekerjaan | Pengusaha |
| Dikenal atas | Pendiri Blue Bird Group |
| Suami/istri | Prof. Djokosoetono, S.H. |
| Anak | 3, termasuk Chandra Suharto dan Purnomo Prawiro |
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono (17 Oktober 1921 – 10 Juni 2000), yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Djoko, adalah seorang pengusaha Indonesia dan pendiri Blue Bird Group, perusahaan transportasi terkemuka di Indonesia. Ia memulai usahanya dari kondisi yang sulit setelah suaminya meninggal dunia dan berhasil membangun bisnis dari dua mobil bekas menjadi salah satu grup perusahaan transportasi terbesar di Indonesia.[1]
Mutiara lahir di Malang pada 17 Oktober 1921 dari keluarga berada. Namun, saat ia berusia lima tahun, keluarganya mengalami kebangkrutan yang mengubah hidupnya secara drastis.[2] Meskipun hidup dalam kesederhanaan, ia bertekad untuk mengejar pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan HBS (setingkat SMA) pada tahun 1930-an dan kemudian lulus dari Europese Kweekschool (Sekolah Guru Belanda).[2]
Dengan tekad yang kuat, ia merantau ke Jakarta dan berhasil diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia menumpang di rumah pamannya di kawasan Menteng selama masa kuliahnya.[2] Ia menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.) dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1952.[2]
Semasa kuliah, ia berkenalan dengan dosennya, Djokosoetono, S.H., yang juga merupakan pendiri dan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Mereka menikah dan dikaruniai tiga orang anak: Chandra Suharto, Mintarsih Lestiani, dan Purnomo Prawiro.[2] Sepanjang tahun 1950-an, keluarga ini hidup sangat sederhana. Sepeninggal suaminya pada tanggal 6 September 1965, ia harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya.[2]
Setelah suaminya wafat, untuk menambah penghasilan keluarga, Mutiara memulai usaha kecil-kecilan. Ia berjualan batik dari rumah ke rumah (door to door) di kawasan Menteng. Usaha batiknya sempat sukses, namun kemudian mengalami penurunan. Ia kemudian beralih berjualan telur dari depan rumahnya, sebuah komoditas yang saat itu masih dianggap eksklusif dan hanya dikonsumsi kalangan menengah ke atas. Ia mencari pemasok telur terbaik dari Kebumen dan usahanya perlahan berkembang.[2]
Pada tahun 1965, sepeninggal suaminya, keluarga Djokosoetono menerima dua buah mobil bekas, yaitu sedan Opel dan Mercedes, dari PTIK dan PTHM. Mobil-mobil inilah yang menjadi cikal bakal bisnis taksi keluarganya.[2] Ia memulai usaha taksi sederhana dari rumahnya di Jalan Cokroaminoto No. 107, Menteng. Taksi ini dioperasikan oleh dua putranya, Chandra Suharto dan Purnomo Prawiro. Karena Chandra yang bertugas menerima telepon dari pelanggan, taksi ini populer dengan nama "Taksi Chandra".[2]
Uniknya, sejak awal Bu Djoko sudah menerapkan sistem tarif berdasarkan argometer, yang saat itu belum lazim digunakan di Jakarta. Pelayanan yang luar biasa membuat Taksi Chandra cepat populer, terutama di lingkungan Menteng. Permintaan terus meningkat, sehingga mereka dapat membeli mobil lagi dari keuntungan yang diperoleh.[2]
Memasuki tahun 1971, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, mengumumkan akan memberlakukan izin resmi untuk operasional taksi. Bu Djoko berupaya mengurus izin, namun selalu ditolak karena usahanya dianggap terlalu kecil. Pantang menyerah, ia menghimpun para janda pahlawan yang menitipkan mobil mereka untuk dikelola. Bersama mereka, ia menemui Gubernur Ali Sadikin untuk menyuarakan petisi tentang kemampuan perempuan dalam memimpin usaha. Gubernur Ali Sadikin tersentuh dan akhirnya memberikan izin usaha.[2]
Pada tahun 1972, ia resmi meluncurkan taksi dengan nama "Blue Bird". Nama Blue Bird terinspirasi dari dongeng Eropa berjudul "Bird of Happiness" atau "Burung Pembawa Kebahagiaan", yang selalu membakar semangatnya sejak masa muda. Filosofi ini mencerminkan harapannya agar bisnisnya dapat membawa kebahagiaan bagi banyak orang.[1] Logo awal berupa siluet burung berwarna biru tua yang sedang melesat, merupakan karya pematung Hartono.[2]
Di bawah kepemimpinan Bu Djoko bersama anak-anaknya, Blue Bird tumbuh pesat. Prinsip-prinsip yang ia tanamkan, seperti integritas, kepedulian, pelayanan prima, dan pola pikir berkembang (growth mindset), menjadi fondasi kokoh perusahaan. Ia memimpin dengan asas "tangan besi tapi bersarung tangan sutera", yang berarti tegas dalam prinsip namun lembut dalam cara.[1]
Pada tahun 1985, armada Blue Bird mencapai hampir 2.000 taksi. Memasuki era 1990-an, jumlahnya bertambah hingga hampir 5.000 unit. Inovasi terus dilakukan, seperti peluncuran taksi eksekutif Silver Bird pada tahun 1993 dan pembentukan Pusaka Group pada tahun 1997 yang menaungi taksi Cendrawasih dan Pusaka Nuri. Ekspansi juga dilakukan ke berbagai kota di Indonesia seperti Bali, Surabaya, Bandung, dan Medan.[2]
Mutiara Djokosoetono dikenal sebagai pemimpin yang gigih dan visioner. Ia percaya bahwa pendidikan adalah "harta terbesar dalam hidup manusia karena tidak bisa hilang atau dirampas."[1] Ia juga menekankan pentingnya profesionalisme dalam pelayanan jasa. "Kita bukan perusahaan taksi biasa. Kita adalah armada taksi yang memberikan pelayanan ekstra. Profesionalisme kita yang menentukan perusahaan ini akan maju atau tidak," ujarnya.[1]
Ia selalu memperlakukan para pengemudi seperti anaknya sendiri, dengan keyakinan bahwa mereka yang dididik, dibina, dan dirangkul akan memberikan pelayanan terbaik.[2]
Pada dasawarsa 1990-an, kesehatan Mutiara menurun akibat serangan kanker paru-paru. Ia tetap bersemangat memimpin perusahaan sambil menjalani perawatan. Ia meninggal dunia pada tanggal 10 Juni 2000 di RS Medistra, Jakarta.[2]
Warisan Bu Djoko tidak hanya berupa perusahaan raksasa, tetapi juga nilai-nilai luhur yang terus dijaga oleh keluarga dan seluruh karyawan Blue Bird. Perusahaan terus berkembang menjadi Blue Bird Group yang menaungi berbagai layanan transportasi dan logistik, serta telah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak November 2014. Kisah perjuangannya menjadi inspirasi, terutama bagi perempuan Indonesia, untuk berani bermimpi dan pantang menyerah dalam meraih kesuksesan.