Sultan Zainul Arifin atau Pangeran Abdullah adalah Sultan Banten yang ke-10.Ia memerintah sekitar tahun 1633 hingga tahun 1650 karena ia diasingkan ke Ambon oleh VOC atas tuduhan permaisurinya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pangeran Abdullah | |
|---|---|
| Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin | |
Sambutan Cornelis de Bruijn oleh Pangeran Abdullah[1] | |
| Sultan Banten ke-10 | |
| Berkuasa | 1733–1750 |
| Pendahulu | Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainul Abidin |
| Penerus | Sultan Syarifuddin Ratu Wakil |
| Kelahiran | Tidak diketahui Kesultanan Banten |
| Kematian | Tidak diketahui Amboina, Hindia Belanda |
| Permaisuri | Ratu Syarifa Fatima |
| Agama | Islam |
| Pekerjaan | Sultan Banten |
Sultan Zainul Arifin atau Pangeran Abdullah adalah Sultan Banten yang ke-10.Ia memerintah sekitar tahun 1633 hingga tahun 1650 karena ia diasingkan ke Ambon oleh VOC atas tuduhan permaisurinya.[2]
Dimasa kepemimpinannya sering banyak pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak senang dengan perilaku VOC yang sudah diluar batas. Dikarenakan VOC selalu memonopoli perdagangan Banten, Apalagi saat itu harga cengkeh di Eropa menurun karena Inggris sudah menanamnya di India, Yang mengakibatkan kerugian bagi VOC. Disamping turunnya harga cengkeh di Eropa, akhirnya Belanda memutuskan memerintah Banten untuk menanam Tebu dan Kopi, Namun hasilnya hanya dijual kepada VOC jangan kebangsa asing.[2]
Disaat yang sama, Di keraton Surosowan muncul kerusuhan dan keributan pemerintahan Banten yang diakibatkan Sultan Zainul Arifin tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh permaisuri nya yaitu Ratu Syarifa Fatima. Salah satu pengaruh Ratu Syarifa Fatima kepada Sultan Zainul Arifin adalah ketika Sultan Zainul Arifin ingin mengangkat Pangeran Gusti sebagai putra mahkota, Namun pengangkatan itu dibatalkan karena pengaruhnya. Lalu Sultan Zainul Arifin dengan pengaruh Ratu Syarifa Fatima mengangkat Pangeran Syarif Abdullah (Menantu dari suami sebelumnua) menjadi putra mahkota atas persetujuan VOC.[3][4][5][6]
Setelah Pangeran Gusti gagal menjadi putra mahkota, ia disuruh oleh Ratu Syarifa Fatima untuk pergi ke Batavia, Namun ditengah perjalanan ke Batavia, Beberapa pasukan VOC atas suruhan Ratu Syarifa Fatima menangkap Pangeran Gusti dan mengasingkannya ke Ceylon Belanda.[2][3][7][8]
Setelah pengasingan Pangeran Gusti dan diangkatnya Pangeran Syarif Abdullah menjadi putra mahkota,Ratu Syarifa Fatima menuduh suaminya sudah gila dan tidak benar. Oleh karena itu VOC menangkapnya lalu mengasingkannya ke Ambon, Hingga ia wafat disana.[8][4][5]
Karena ia diasingkan ke Ambon, Sultan Banten pun digantikan oleh putra mahkota yang sebelumnya diangkat oleh dirinya atas pengaruh Ratu Syarifa Fatima yaitu Pangeran Syarif Abdullah menjadi Sultan Banten yang ke-11. Namun walaupun putra mahkota itu menjadi raja, Tetapi tetap saja Ratu Syarifa Fatima yang menguasai seluruh Banten.[2][3][5]