Muhammad Hikam adalah seorang akademisi Indonesia dari Universitas Indonesia. Beliau merupakan Ketua Program Vokasi Universitas Indonesia yang pertama. Hikam juga dikenal sebagai cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dr. Muhammad Hikam M.Sc | |
|---|---|
| [[Ketua Program Vokasi Universitas Indonesia]] 1 | |
| Masa jabatan 1 April 2008 – 29 Januari 2014[1] | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1960-05-28)28 Mei 1960 Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia |
| Meninggal | 23 Maret 2015(2015-03-23) (umur 54) Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Suami/istri | Ajienk Hikam |
| Anak | Maulida Bellafaransi Dini Bonafitria |
| Almamater | Universitas Indonesia Universitas Simon Fraser |
| Pekerjaan | Dosen |
| Profesi | Ilmuwan Akademisi |
Muhammad Hikam (28 Mei 1960 – 23 Maret 2015) adalah seorang akademisi Indonesia dari Universitas Indonesia. Beliau merupakan Ketua Program Vokasi Universitas Indonesia yang pertama. Hikam juga dikenal sebagai cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU).[2]
Muhammad Hikam merupakan dosen peneliti tetap di Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Topik penelitiannya berkaitan dengan Ferroelectric Materials, Rietveld Analysis for Powder X-ray Diffraction, Struktur Magnetik oleh MXD (magnetic X-ray Dichroism), Computational Crystallographics, dan Synchrotron Radiation. Ia banyak menghasilkan publikasi ilmiah baik skala nasional maupun internasional.
Hikam juga merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Universitas Indonesia. Pada tahun 2008 - 2014, Ia dipercayakan sebagai Ketua Program Vokasi UI yang juga saat itu merupakan anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia. Pada 23 Maret 2015, Ia wafat dengan meninggalkan seorang istri, Ajienk Hikam, dan dua orang anak, Maulida Bellafaransi dan Dini Bonafitria.[2]
| Jabatan akademik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Pejabat Pertama |
Ketua Program Vokasi Universitas Indonesia 1 April 2008 - 29 Januari 2014 |
Diteruskan oleh: Prof. Dr. Ir. Sigit Pranowo Hadiwardoyo, DEA |