Muhammad Atallah al-Kasm adalah salah satu ulama Islam paling penting di Damaskus pada abad ke-20. Ia merupakan Mufti Agung Suriah pertama setelah kemerdekaannya pada tahun 1918 dari Kekaisaran Utsmaniyah dan memegang jabatan tersebut hingga meninggal pada tahun 1938.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Muhammad Atallah al-Kasm (bahasa Arab: محمد عطا الله الكسمcode: ar is deprecated ; lahir 1844–7 Agustus 1938) adalah salah satu ulama Islam paling penting di Damaskus pada abad ke-20. Ia merupakan Mufti Agung Suriah pertama setelah kemerdekaannya pada tahun 1918 dari Kekaisaran Utsmaniyah dan memegang jabatan tersebut hingga meninggal pada tahun 1938.
Muhammad Atallah al-Kasm lahir di Damaskus pada tahun 1844 dalam sebuah keluarga kaya yang terdiri dari ulama, pedagang, dan ilmuwan, yang garis keturunannya yang terhormat ditelusuri hingga Ali bin Abi Talib. Di kota asalnya, Damaskus, Atallah mempelajari fikih dan dididik oleh sejumlah ulama terkemuka pada masa itu, seperti Sheikh Muhammad al-Tantawi, Sheikh Abdullah al-Rikabi al-Sukkari, dan Sheikh Salim al-Attar. Sejak usia muda dan selama bertahun-tahun dalam hidupnya, Atallah bekerja di sekolah Maktab Anbar serta menjadi pengajar di Masjid Umayyah dan Masjid Yalbugha.[1]
Pada saat Perang Dunia Pertama pecah, Atallah merupakan salah satu ulama paling dihormati di seluruh wilayah Syam. Di pertengahan perang, muncul perselisihan antara dirinya dan penguasa militer Utsmaniyah, Djemal Pasha, setelah ulama Damaskus tersebut secara terbuka mengecam keputusan untuk mengeksekusi sejumlah tokoh terkemuka dan anggota parlemen di Lapangan Marjeh pada 6 Mei 1916. Mereka yang dieksekusi termasuk anggota parlemen, intelektual, dan pengacara seperti Shafiq Mayad al-Azm, Rushdi al-Shama'a, Rafiq Rizq Sallum, Abdul Wahhab al-Anglizi, serta pemimpin nasionalis lain dalam masyarakat Suriah saat itu, yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan dan konspirasi. Atallah merupakan salah satu dari banyak ulama Arab, tokoh agama, dan intelektual yang bangkit menentang kekuasaan Utsmaniyah, bersimpati pada nasionalisme Arab, dan mendukung pemberontakan Arab 1916–1918.
Setelah perang berakhir dan jatuhnya Damaskus pada September 1918, Atallah al-Kasm menyatakan kesetiaannya kepada Pangeran Faisal bin al-Hussein sebagai penguasa Arab yang sah atas Suriah, yang mewakili ayahnya, Hussein bin Ali, pemimpin Pemberontakan Besar Arab melawan Kekaisaran Utsmaniyah. Ia kemudian diangkat sebagai kepala Komite Wakaf dan anggota Dewan Negara Damaskus, yang bertanggung jawab atas peradilan syariah. Pada 11 Mei 1919, Faisal menunjuknya sebagai Mufti Agung kota tersebut, menggantikan Sheikh Abu al-Khair Abdin, yang telah menimbulkan kemarahan para ulama karena membahas isu merokok.[2]
Mufti Atallah al-Kasm tetap menjabat selama masa pemerintahan Faisal, serta menyerukan jihad melawan Tentara Prancis yang bergerak menuju Damaskus dari pesisir Suriah pada musim panas 1920. Pada Maret 1924, ia terlibat dalam pendirian Jam'iyyah Khilafah Islamiyah, sebuah organisasi yang bertujuan mencari khalifah yang sah bagi umat setelah Presiden Turki Mustafa Kemal Atatürk menghapus jabatan tersebut yang telah berlangsung selama berabad-abad di bawah keluarga Osmanoğlu. Organisasi ini mencakup sejumlah tokoh, seperti Menteri Badi Mayid al-Azm, Sheikh Ahmad al-Hasibi, dan Emir Muhammad Said al-Jazari, cucu dari mujahid Aljazair, Emir Abdul Qadir al-Jazari.[3]
Pada pertengahan 1920-an, Atallah al-Kasm bergabung dengan Jam'iyyah al-Irshad al-Islami, yang didirikan oleh salah satu muridnya, Sheikh Mahmud Yassin, dan turut berpartisipasi dalam acara publikasi yang diadakan di markas Akademi Arab. Mahmud Yassin menjabat sebagai ketua organisasi tersebut dan berupaya membangun jaringan sekolah Islam untuk mendidik anak-anak buta huruf serta anak yatim dari para pejuang pemberontak. Atallah, sebagai mufti, mendukung proyek ini, tetapi intelijen Prancis kemudian menutupnya karena keterlibatannya dalam aktivitas anti-kolonial.[4]
Mufti Agung Atallah al-Kasm meninggal pada 7 Agustus 1938 pada usia 94 tahun. Setelah menjabat selama dua puluh tahun, ia digantikan oleh Muhammad Shukri al-Istany. Sepanjang hidupnya, Atallah al-Kasm menulis sejumlah buku dan karya penelitian. Karya-karyanya yang paling penting antara lain “Risalah Fasl tentang Perempuan dan Kewajiban Hijab” dan “Ucapan yang Memuaskan sebagai Tanggapan terhadap Wahhabisme”.