Muara Badak Ulu adalah salah satu desa di kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Muara Badak Ulu | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Kantor desa Muara Badak Ulu | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Kalimantan Timur | ||||
| Kabupaten | Kutai Kartanegara | ||||
| Kecamatan | Muara Badak | ||||
| Kode pos | 75382 | ||||
| Kode Kemendagri | 64.02.05.2003 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Muara Badak Ulu adalah salah satu desa di kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.
Berada di pesisir timur Pulau Kalimantan, Muara Badak Ulu terhitung dengan Pulau Sulawesi melalui Selat Makassar. Muara Badak Ulu dikenal sebagai desa tertua di Kecamatan Muara Badak dan sempat menjadi pusat administrasi Kecamatan Muara Badak. Pada tahun 1991, kantor camat dipindahkan dari Muara Badak Ulu ke Desa Batu-Batu.[1]
Muara Badak Ulu memiliki catatan sejarah yang merekam kerja sama antar negara di masa lalu dan migrasi penduduk berbagai suku. Lontara berbahasa Inggris, Assalena Muara Badak, mengungkap desa Muara Badak Ulu telah dihuni sejak 1806. Pada tahun yang sama, Dato Ismail, yang diduga Muhammad Ismail, putra Raja Bone, berkunjung ke Muara Badak. Kedatangannya disambut Sultan Kutai Aji Muhammad Muslihuddin.[1]
Sultan Ahmad Saleh memerintahkan putranya menawarkan kerjasama keamanan kepada Sultan Kutai Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816). Dato Ismail lalu diizinkan Sultan Kutai menempati kawasan di tepi utara muara anak Sungai Mahakam, yang berbatasan dengan Pulau Letung. Dato Ismail menyarankan Sultan Kutai menamai tempat-tempat yang mereka singgahi selama perjalanan, antara lain Muara Badak yang kemudian hari menjadi kecamatan di masa Indonesia merdeka dan menaungi Desa Muara Badak Ulu.[1]