Motaz Hilal Azaiza adalah fotografer Palestina dari Gaza. Ia dikenal karena meliput agresi Israel ke Palestina pada 2023, yang kemudian menarik banyak pengikut di media sosial. Pada tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai "Pria Tahun Ini" oleh GQ Timur Tengah. Salah satu fotonya yang memperlihatkan seorang gadis terjebak di reruntuhan akibat serangan udara Israel, dinobatkan sebagai salah satu dari 10 foto teratas Time tahun 2023, dan ditampilkan dalam daftar 100 orang paling berpengaruh tahun 2024 versi Time.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

(2024) | |
| Nama dalam bahasa asli | (ar) مُعْتَز عزايزة |
|---|---|
| Biografi | |
| Kelahiran | 30 Januari 1999 Deir al-Balah |
| Data pribadi | |
| Pendidikan | Al-Azhar University – Gaza (en) |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | jurnalis, jurnalis foto |
| Periode aktif | 2023 |
| Bekerja di | United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East |
Penghargaan
| |
Motaz Hilal Azaiza (bahasa Arab: معتز هلال عزايزة; lahir 30 Januari 1999) adalah fotografer Palestina dari Gaza. Ia dikenal karena meliput agresi Israel ke Palestina pada 2023,[1] yang kemudian menarik banyak pengikut di media sosial. Pada tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai "Pria Tahun Ini" oleh GQ Timur Tengah.[2] Salah satu fotonya yang memperlihatkan seorang gadis terjebak di reruntuhan akibat serangan udara Israel, dinobatkan sebagai salah satu dari 10 foto teratas Time tahun 2023, dan ditampilkan dalam daftar 100 orang paling berpengaruh tahun 2024 versi Time.[3]
Azaiza dibesarkan di kamp pengungsian Deir al-Balah di Jalur Gaza yang diduduki Israel. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dalam bidang bahasa dan sastra Inggris di Universitas Al-Azhar di Gaza dan lulus pada 2021.[4] Pada 2023, ia bekerja di UNRWA. Sejak Januari 2024, Azaiza telah meninggalkan Gaza dan sempat bermukim bersama keluarganya di Doha, Qatar.[5]
Pada Maret 2025, ia dikritik oleh sejumlah aktivis dan jurnalis Palestina setelah tampil dalam sebuah iklan perusahaan konsultan layanan paspor MultiCitizenships yang berbasis di Amman, Yordania. Di iklan video tersebut, ia memegang sebuah paspor Dominika dan mengatakan bahwa paspor kedua itu bertujuan untuk mengakhiri penderitaannya. Video itu juga diselingi adegan gedung-gedung yang dibom di Gaza dan petugas tanggap darurat membantu korban luka, sementara Azaiza menjelaskan alasannya memperoleh kewarganegaraan asing. "Ini akan mempermudah hidup saya secara pribadi dan menjamin kehidupan yang bermartabat – jadi mengapa tidak?", ujarnya.[6]
Dalam video lain berdurasi lebih panjang yang pertama kali diunggah pada Desember 2024, Azaiza mengungkapkan bagaimana ia kehilangan kesempatan untuk memamerkan karyanya di Italia karena jaringan internet Gaza yang tidak stabil selama perang. Para pengkritik menyebutnya sebagai pengkhianat karena memandang apa yang ia lakukan sama saja dengan mendukung rencana Trump untuk merelokasi warga Gaza ke luar negeri.[6] Seorang analis politik bernama Yaseen Izeddeen menuduhnya mengambil keuntungan dari "darah warga Palestina" dengan mempromosikan pembelian paspor kedua dari negara Karibia itu.[6]
Sebelumnya pada Maret 2024, ia juga memicu kontroversi besar karena hubungannya dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Abbas, yang kepemimpinannya dimulai pada 2005, telah dikritik karena tidak menyelenggarakan pemilu dan membiarkan korupsi, penindasan, dan kebrutalan di dalam Otoritas Palestina, termasuk penangkapan anak-anak.[7]