Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Mopolo, Ranoyapo, Minahasa Selatan

Mopolo adalah sebuah desa di Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

desa di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara
Diperbarui 30 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Mopolo, Ranoyapo, Minahasa Selatan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Januari 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Desa in Sulawesi Utara, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Desa in Sulawesi Utara, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Mopolo
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Utara
KabupatenMinahasa Selatan
KecamatanRanoyapo
Kode pos
95999
Kode Kemendagri71.05.03.2004 Suntingan nilai di Wikidata
Luas3000 Ha
Jumlah penduduk1898
Kepadatan-
Peta
Wikipedia | Kode sumber | Tata penggunaan
Koordinat: 0°59′6.65″N 124°31′34.10″E / 0.9851806°N 124.5261389°E / 0.9851806; 124.5261389

Mopolo adalah sebuah desa di Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Letak Geografis

Desa Mopolo terletak dalam posisi memanjang dari timur ke barat, ± 2500 m dan mempunyai 5 lorong yaitu: lorong ke air minum, lorong ke kebun, lorong ke pekuburan, lorong ke SD Gmim dan lorong ke SD Inpres. Desa Mopolo adalah bagian dari Kecamatan Ranoyapo.[1] Jarak dari Kecamatan ± 3,5 km. Letak desa Mopolo berbatasan dengan:

- Bagian Utara berbatasan dengan desa Lompad

- Bagian Selatan berbatasan dengan desa Lindangan

- Bagian Barat berbatasan dengan desa Pontak

- Bagian Timur berbatasan dengan desa Powalutan

Desa Mopolo diapit oleh 2 sungai yakni sungai Oasaan dan sungai Sindoan, serta ada juga pegunungan yang disebut Manembo. Kedudukan tanahnya cukup rata dan memanjang. Luas desa Mopolo adalah ± 3000 Ha, dengan pembagian:

- Luas tanah pemukiman ± 30 Ha

- Luas tanah perkebunan/pertanian ± 2,815 Ha

- Luas hutan ± 155 Ha

Desa ini memiliki pula satu pemukiman (jaga) yang terpisah dengan kampong utama/induk, dan oleh masyarakat dinamakan kampung “Pisah” karena terpisah jauh dari kampung Induk.

Keadaan tanah perkebunan desa Mopolo umumnya rata, sehingga para petani banyak menanaminya dengan kelapa dan jagung selain itu mereka pula menanaminya dengan Vanili, kopi, pala dan buah-buahan. Sedangkan area / pertanian yang letaknya di pegunungan, umumnya ditanami dengan cengki. Dari sedikit petani yang menggunakan pupuk dalam pengolahan lahan pertanian mereka, sebab keadaan tanah disanah masih tergolong subur. Ada pula yang menggarap sawah untuk memenuhi kebutuhan untuk kehidupan mereka. Iklim disana adalah iklim Tropis yang mengenal musim panas dan hujan.

Sejarah

Sebelum orang menemukan lokasi di mana desa Mopolo yang dikenal kini, tentunya keadaan lokasi masih berupa hutan lebat. Desa Mopolo diperkirakan berdiri sekitar abad ke-17. Penduduk asli desa Mopolo berasal dari Minahasa Tengah, tapatnya dari Tompaso Lama. Menurut pendapat dari beberapa orang tua, disekitar daerah ini baru ada perkampungan Pontak dan Tokin. Beberapa orang dari perkampungan Pontak dan Tokin yang asal-usul mereka dari minahasa Tengah sepakat untuk melaksanakan perjalanan mencari lokasi yang lebih baik untuk berburu dan bermukim untuk sementara waktu. Mereka kemudian menuju ke arah Timur melewati sungai yang sekarang ini dikenal dengan nama sungai “Ranoiapo” kurang lebih 700 m perjalanan, mereka beristirahat sebentar sambil menikmati/memantau sekelilingnya. Rupanya mereka mendapat Inspirasi untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat peristirahatan dan pemukiman untuk sementara waktu karena melihatnya baik untuk ditempati. Mereka kemudian mengadakan perombakan dan membersihkannya untuk didiami. Setelah didiami mereka menamakan tempat panggil orang ini “Tumotowa”. Pembukaan pemukiman ini diperkirakan tahun 1700.

Pemimpin yang diangkat mengayomi kehidupan masyarakat di pemukiman Tumotawa ini adalah Opo Wawo Poluan. Setelah cukup lama tinggal di lokasi ini, mereka akhirnya merasakan kesulitan-kesulitan seperti kesulitan mendapatkan air minum, adanya ancaman-ancaman dari desa-desa tetangga dan adanya pencurian-pencurian harta benda rakyat. Mereka tidak aman Sang Tona’as bersama aparatnya berkesimpulan untuk meninggalkan tempat tersebut. Mereka kemudian mengadakan perjalanan ke arah Timur lagi. Ditengah perjalanan mereka menemukan sebuah sungai. Di sekitar sungai ini mereka menemukan keadaan daerahnya yang cukup baik karena datarannya cukup luas. Disini mereka beristirahat sebentar dan makan. Karena mereka makan dipinggir sungai ini, maka mereka menamakan sungai ini “Sindoan” asal kata “Sondoan” yang artinya mengambil makan dengan sendok. Setelah beristirahat mereka kemudian memeriksa kembali secara saksama daerah dataran ini. Setelah diperiksa mereka menemukan lagi sebuah sungai yang sekarang ini di kenal dengan nama sungai “Oasaan” dan sebuah pegunungan yang diberi nama “Manembo”. Merasa lokasi ini sesuai dengan harapan dan keinginan mereka maka diambilah kesepakatan untuk menjadikan dataran ini sebagai tempat pemukiman/perkampungan.

Sekitar tahun 1750 m mereka berusaha mencari lahan-lahan baru yang bisa mereka kelolah, yang dapat membantu perekonomian mereka. Pembukaan kebun baru penduduk sampai pembentukan kebun baru (“Lemoilok”) ini dibantu oleh desa-desa sekitar sebab pada waktu itu terjadi musim kemarau (kira-kira pada bulan Juli–Agustus). Sekitar tahun 1820 m diadakan upacara untuk pendirian kampus. Upacara ini ditandai dengan pematahan sebuah ranting kayu sambil mendengar bunyi burung “Wala” atau Manguni. Pematahan “Lentuk” kayu ini dilakukan oleh Sang Tona’as Wawo sebagai penginisiatif utama pendirian perkampungan ini. Lalu pada tahun 1840 M Tona’as Wawo ini ditetapkan sebagai Hukum Tua pertama. Kampung ini berkembang begitu pesat dan mereka menamakan kampung ini “Mopolo” dari asal kata “Pinolo”. Pinolo artinya mengambil yang diatas, dikurangi yang sudah penuh. Jadi dapat dipahami bahwa Mopolo artinya tempat berdiamnya orang-orang di mana tempat semula sudah banyak penduduknya. Penduduk yang dari Minahasa Tengah ini terutama Tompaso Lama termasuk dalam suku Tontemboan, itulah sebabnya penduduk desa Mopolo termasuk dalam rumpun suku Tontemboan.

Penduduk

Tentu saja dengan perjalanan waktu, jumlah penduduk desa Mopolo sudah semakin bertambah banyak, terlebih karena ada juga perpindahan beberapa anggota masyarakat dan desa-desa tetangga. Walaupun demikian penduduk desa Mopolo belum termasuk dalam populitas padat penduduk. Oleh karena itu, maka dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup (ekonomi) setip anggota masyarakat tidaklah sulit dan sebagian besar penduduk Mopolo tergolong masyarakat mampu dengan kata lain belum mengenal hidup berkekurangan.

Menurut data sensus penduduk tahun 2005 jumlah desa Mopolo per KK (Kepala Keluarga) adalah berjumlah 447 KK. Jumlah penduduk sebanyak 1.633 jiwa. Sebanyak 864 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 764 jiwa berjenis kelamin perempuan.

Referensi

  • l
  • b
  • s
Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara
Desa
  • Beringin
  • Lompad
  • Lompad Baru
  • Mopolo
  • Mopolo Esa
  • Pontak
  • Pontak Satu
  • Poopo
  • Poopo Barat
  • Poopo Utara
  • Powalutan
  • Ranoyapo

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Letak Geografis
  2. Sejarah
  3. Penduduk
  4. Referensi

Artikel Terkait

Daftar kabupaten dan kota di Sulawesi Utara

artikel daftar Wikimedia

Kabupaten Minahasa Utara

kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara

Kabupaten Minahasa Selatan

kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026