Pada tanggal 25 Agustus 1867, Pangeran Mangkoe diangkat menjadi sultan ketujuh (ke-7) Kesultanan Pasir menggantikan Sultan Machmoed Han dengan gelar Sultan Sepoeh Adil Chalifatoel Moeminin.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Pada tanggal 25 Agustus 1867, Pangeran Mangkoe (Mangkoe Boemi) diangkat menjadi sultan ketujuh (ke-7) Kesultanan Pasir menggantikan Sultan Machmoed Han (sultan keenam) dengan gelar Sultan Sepoeh Adil Chalifatoel Moeminin (dikenal dengan gelar Sultan Mohamad Sepoeh).[1] [2] [3]
Sultan Sepoeh Adil Chalifatoel Moeminin merupakan putra dari Adji Kemis (ada yg menyebut Adji Kimas), beliau juga merupakan cucu dari Sultan Sulaiman (sultan ke-2) dan memiliki anak yaitu Adji Miki, Radja Besar, Adji Rina serta mempunyai cucu salah satunya adalah Pangeran Boeroek.[2]
Pada saat pemerintahan Sultan Machmoed Han, pengelolaan pemerintahan sehari-hari dilaksanakan oleh Pangeran Mangkoe (setara dengan Perdana Menteri atau Patih) yang bertanggungjawab secara langsung kepada sultan. Kematian Sultan Machmoed Han pada tanggal 8 Februari 1866, menandai masa transisi ke depan untuk pergantian takhta. Selama masa transisi tersebut Pangeran Mangkoe selain menjalankan pemerintahan sehari-hari juga berfungsi sebagai sultan sementara. Sesuai dengan tradisi kesultanan, para bangsawan dan tokoh terkemuka negeri memilih Pangeran Mangkoe sebagai penerusnya (menjadi sultan ketujuh (ke-7)) kesultanan Pasir pada tanggal 25 Agustus 1867, yang sebelumnya juga sudah ditunjuk oleh sang sultan yang telah meninggal (ditunjuk sebagai pewaris takhta). Pilihan orang tersebut, seorang keponakan dari Sultan Machmoed Han, didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada dari putra-putra yang ditinggalkan yang dapat dipertimbangkan, baik karena usia mereka yang masih muda maupun karena kurangnya kelayakan mereka. [4]

Meskipun telah diangkat menjadi sultan tahun 1867, namun karena berbagai macam hal, menyebabkan pengukuhan sultan secara resmi dalam pemerintahan Hindia Belanda tertunda hingga bertahun-tahun. Baru pada tanggal 18 November 1875 pengangkatan Pangeran Mangkoe sebagai sultan ketujuh (ke-7) bergelar Sultan Sepoeh Adil Chalifatoel Moeminin secara resmi dan pengukuhannya dapat dilaksanakan. Turut hadir dalam pengukuhan tersebut adalah Gerrit Jan Gersen (menjabat sebagai resident zuider- en Oosterafdeling van Borneo mulai tahun 1874-1877), dan pembesar kesultanan, antara lain Mohamad Saleh (Mantri), Raden Mohamad Taher (Mantri), Pangeran kapitan Riouw Abdul Karim (Mantri), Pangeran Bandahara Adjie Noepiah (Mantri Polisi), dan Etah Imam Maas Moeda (kepala pemuka agama). Dokumen tersebut diakui dan disahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johan Wilhelm van Lansberge pada tanggal 14 Mei 1876. [5]
Pada tanggal 13 Desember 1886 Sultan Sepoeh Adil Chalifat’oel Moeminin meninggal dunia. [6]
Mohamad Sepoeh Lahir: N/A Meninggal: 1886 | ||
| Gelar | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Sultan Machmoed Han |
Sultan Sepoeh Adil Chalifatoel Moeminin 1867 ‒ 1886 |
Diteruskan oleh: Sultan Mohamad Alie Adil Chalifat'oel Moeminin |

