Model bisnis berlangganan adalah model bisnis yang mengharuskan pelanggan untuk membayar sejumlah harga berulang pada interval waktu tertentu untuk memperoleh akses ke suatu produk atau jasa. Model ini dipelopori oleh penerbit buku dan terbitan berkala pada abad ke-17. Saat ini model tersebut sangat umum digunakan untuk produk digital, yang secara lebih alami sesuai dengan model langganan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini mungkin mengandung riset asli. |
Model bisnis berlangganan (bahasa Inggris: subscription business modelcode: en is deprecated ) adalah model bisnis yang mengharuskan pelanggan untuk membayar sejumlah harga berulang pada interval waktu tertentu untuk memperoleh akses ke suatu produk atau jasa. Model ini dipelopori oleh penerbit buku dan terbitan berkala pada abad ke-17.[1] Saat ini model tersebut sangat umum digunakan untuk produk digital, yang secara lebih alami sesuai dengan model langganan.[2]
Langganan dapat menjadi transaksi yang lebih praktis dan tanpa kerepotan bagi konsumen.[2] Namun, karena adanya inersia pada sebagian konsumen, mereka dapat secara tidak sengaja tetap membayar langganan yang tidak lagi mereka hargai karena tidak menyadari bahwa mereka masih berlangganan.[2]
Alih-alih menjual produk secara satuan, langganan menawarkan penggunaan atau akses berkala terhadap suatu produk atau jasa, atau, dalam kasus organisasi yang berorientasi pada pertunjukan seperti perusahaan opera, tiket untuk seluruh rangkaian sejumlah pertunjukan terjadwal tertentu (misalnya, lima hingga lima belas) selama satu musim penuh. Dengan demikian, penjualan satu kali atas suatu produk dapat berubah menjadi penjualan berulang dan membangun loyalitas merek.[3]
Industri yang menggunakan model ini meliputi klub penjualan buku pesanan melalui pos dan klub penjualan musik, penyedia surat elektronik web pribadi, televisi kabel, penyedia televisi satelit dengan saluran televisi berlangganan, penyedia dengan katalog digital yang menawarkan unduhan musik atau buku elektronik, buku audio, radio satelit, perusahaan telepon, operator jaringan seluler, penyedia internet, penerbit perangkat lunak, situs web (misalnya, situs web blog), penyedia solusi bisnis, perusahaan keuangan, pusat kebugaran, layanan pemotongan rumput dan pembersihan salju, farmasi, penyewaan apartemen, pajak properti, serta surat kabar, majalah, dan jurnal akademik tradisional.
Perpanjangan suatu langganan dapat bersifat berkala dan diaktifkan secara otomatis sehingga biaya untuk periode baru secara otomatis dibayarkan melalui penagihan yang telah diotorisasi sebelumnya pada kartu kredit atau rekening giro. Salah satu variasi umum dari model ini dalam permainan daring dan pada situs web adalah model freemium, dengan tingkat pertama konten disediakan secara gratis. Namun, akses ke fitur premium (misalnya, peningkatan kekuatan dalam permainan atau arsip artikel) dibatasi hanya bagi pelanggan berbayar.[4]
Selain model freemium, variasi harga langganan lainnya semakin mendapatkan perhatian. Sebagai contoh, model harga bertingkat sering digunakan pada platform perangkat lunak sebagai layanan (SaaS), yang menawarkan kepada pelanggan tingkat akses dan fitur yang berbeda berdasarkan tingkatan langganan mereka. Model ini sangat efektif untuk menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pelanggan. Pendekatan lainnya adalah model harga berbasis penggunaan, yang menghitung biaya berdasarkan tingkat pemanfaatan layanan atau produk oleh pelanggan. Model ini semakin banyak diterapkan, terutama pada layanan yang tingkat penggunaan pelanggannya sangat bervariasi.[5]
Ada berbagai kategori langganan:
Dalam industri penerbitan, model langganan biasanya melibatkan pembatasan konten berbayar (paywallcode: en is deprecated ), situs berbayar (paysitecode: en is deprecated ), atau sistem "akses berbayar" lainnya (dinamakan demikian sebagai lawan dari akses terbuka). Seiring dengan menurunnya pendapatan dari iklan digital, model langganan berbayar semakin diminati oleh lebih banyak penerbit yang menganggapnya sebagai sumber pendapatan yang relatif stabil.[8]
Dalam bidang penerbitan akademik, model bisnis berlangganan berarti bahwa artikel dari suatu jurnal tertentu atau lokakarya hanya tersedia bagi pelanggan. Langganan biasanya dijual kepada universitas dan lembaga pendidikan tinggi lainnya serta lembaga penelitian, meskipun beberapa penerbit akademik juga menjual langganan perorangan atau akses ke artikel secara individual.
Berbeda dengan media lain seperti surat kabar, biaya langganan kepada penerbit akademik umumnya tidak digunakan untuk mendukung pembuatan konten: artikel ilmiah ditulis oleh ilmuwan dan ditelaah oleh ilmuwan lain sebagai bagian dari tugas pekerjaan mereka. Penerbit tidak membayar penulis artikel maupun penelaah. Dalam konteks ini, model langganan disebut tidak diinginkan oleh para pendukung gerakan akses terbuka.
Publikasi akademik yang menggunakan model langganan disebut sebagai "akses tertutup" sebagai lawan dari publikasi akses terbuka.
Perusahaan memperoleh manfaat karena mereka mendapatkan aliran pendapatan yang dapat diprediksi dan stabil dari individu yang berlangganan selama masa perjanjian pelanggan. Hal ini tidak hanya sangat mengurangi ketidakpastian dan risiko usaha, tetapi juga sering kali menyediakan pembayaran di muka (seperti pada majalah dan tiket konser), sekaligus memungkinkan pelanggan menjadi sangat terikat pada penggunaan layanan tersebut dan, dengan demikian, lebih cenderung memperpanjang dengan menandatangani perjanjian untuk periode berikutnya mendekati berakhirnya perjanjian saat ini.[3]
Dalam solusi perangkat lunak terintegrasi, misalnya, struktur harga langganan dirancang agar aliran pendapatan dari langganan berulang jauh lebih signifikan dibandingkan pendapatan dari pembelian satu kali. Beberapa skema langganan (seperti majalah) juga meningkatkan penjualan dengan tidak mengizinkan pelanggan untuk menerima atau menolak edisi tertentu. Hal ini mengurangi biaya perolehan pelanggan dan memungkinkan pemasaran dipersonalisasi atau pemasaran pangkalan data. Namun, sistem tersebut mengharuskan perusahaan memiliki cara yang akurat, andal, dan tepat waktu untuk mengelola serta melacak langganan.
Dari perspektif analis pemasaran, penjual memperoleh manfaat tambahan berupa pengetahuan mengenai jumlah anggota yang saat ini aktif karena langganan biasanya melibatkan perjanjian kontraktual. Situasi yang disebut-sebut sebagai "kontraktual" ini sangat mempermudah manajemen hubungan pelanggan karena analis mengetahui siapa yang merupakan pelanggan aktif dan siapa yang baru saja berhenti berlangganan (churncode: en is deprecated ).[9]
Manfaat tambahan lainnya mencakup nilai rata-rata umur pelanggan (ACLV) yang lebih tinggi dibandingkan model bisnis nonberulang, inersia pelanggan yang lebih besar serta basis pelanggan yang lebih berkomitmen karena beralih dari keputusan membeli menjadi keputusan untuk opt-out, serta potensi yang lebih besar untuk melakukan penjualan tambahan dan penjualan silang atas produk atau layanan lainnya.[10]
Beberapa perusahaan perangkat lunak seperti Adobe dan Autodesk telah beralih dari model lisensi permanen ke model langganan, yang dikenal sebagai "perangkat lunak sebagai layanan". Peralihan ini memiliki implikasi yang signifikan bagi organisasi penjualan dan dukungan pelanggan. Seiring waktu, kebutuhan untuk menutup transaksi besar berkurang, sehingga biaya penjualan menjadi lebih rendah. Namun, ukuran organisasi dukungan pelanggan meningkat agar pelanggan yang membayar tetap merasa puas.[11]
Konsumen dapat menganggap langganan sebagai sesuatu yang praktis jika mereka yakin akan membeli suatu produk secara teratur dan berpotensi menghemat uang. Pelanggan juga menghemat waktu karena pengiriman produk atau layanan dilakukan secara berulang.[3]
Langganan yang bertujuan mendukung klub dan organisasi menyebut para pelanggannya sebagai "anggota" dan mereka diberikan akses ke suatu kelompok dengan minat yang serupa.[3]
Penetapan harga langganan dapat mempermudah pembayaran untuk barang-barang mahal karena sering kali dapat dibayar secara bertahap sehingga membuat produk tampak lebih terjangkau. Di sisi lain, sebagian besar langganan surat kabar dan majalah dibayar di muka, yang dapat menghalangi sebagian pelanggan untuk berlangganan. Harga tetap dapat menjadi keuntungan bagi konsumen yang sering menggunakan layanan tersebut. Namun, hal itu dapat merugikan pelanggan yang berencana menggunakan layanan secara sering tetapi kemudian tidak jadi melakukannya. Komitmen untuk membayar suatu paket bisa jadi lebih mahal dibandingkan pembelian satu kali. Selain itu, model langganan meningkatkan kemungkinan terjadinya ketergantungan pada penyedia (vendor lock-incode: en is deprecated ), yang dapat menimbulkan implikasi bisnis yang sangat krusial bagi pelanggan apabila usahanya bergantung pada ketersediaan perangkat lunak: misalnya, tanpa koneksi daring ke server lisensi untuk memverifikasi status lisensi secara berkala, perangkat lunak dengan model langganan biasanya akan berhenti berfungsi atau kembali ke fungsi versi freemium, sehingga tidak memungkinkan (untuk terus) menggunakan perangkat lunak tersebut di lokasi terpencil atau lingkungan dengan keamanan tinggi tanpa akses internet, setelah penyedia menghentikan dukungan terhadap versi atau perangkat lunak tersebut, atau bahkan telah menghentikan usahanya sehingga pelanggan tidak memiliki kesempatan untuk memperpanjang langganan dan mengakses data atau rancangan yang disimpan dengan perangkat lunak tersebut (dalam beberapa bidang usaha, penting untuk memiliki akses penuh bahkan terhadap berkas lama selama beberapa dekade). Selain itu, konsumen dapat menganggap pembayaran berulang sebagai beban.[3]
Model langganan sering kali mengharuskan atau memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan sejumlah besar informasi dari pelanggan (seperti daftar alamat pengiriman majalah), dan hal ini menimbulkan persoalan privasi.[3]
Model langganan dapat menguntungkan pembeli perangkat lunak jika model tersebut mendorong pemasok untuk terus meningkatkan produknya. Dengan demikian, suatu fenomena psikologis dapat terjadi ketika pelanggan memperpanjang langganan, yang mungkin tidak terjadi dalam transaksi satu kali: apabila pembeli tidak puas dengan layanan tersebut, ia dapat membiarkan langganannya berakhir dan mencari penjual lain.[12]
Karena pelanggan mungkin hanya membutuhkan atau menginginkan sebagian dari barang yang diterima, hal ini dapat menimbulkan pemborosan dan dampak negatif terhadap lingkungan, bergantung pada produknya. Volume produksi yang lebih besar, konsumsi sumber daya alam dan energi yang lebih tinggi, serta biaya pembuangan yang lebih besar pun terjadi.[butuh rujukan]
Model langganan juga dapat menimbulkan efek sebaliknya. Hal ini dapat diilustrasikan melalui langganan layanan pemotongan rumput. Penggunaan efektif satu mesin pemotong rumput meningkat ketika digunakan untuk memotong rumput di sejumlah rumah; alih-alih setiap keluarga memiliki mesin pemotong rumput yang tidak digunakan sesering mesin milik penyedia layanan, penggunaan sumber daya untuk memproduksi mesin pemotong rumput pun berkurang sementara rumput tetap terawat.[butuh rujukan]