Mobil Murah Ramah Lingkungan, adalah sebuah varian mobil yang muncul setelah adanya regulasi otomotif baru di Indonesia yang mengecualikan mobil murah dan hemat bahan bakar dari PPnBM, sehingga harga jualnya dapat ditekan serendah mungkin, asalkan mobil ini dirakit di dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertentu. Peluncuran varian mobil ini diharapkan dapat mendorong makin banyak orang memiliki mobil, untuk mengurangi subsidi bahan bakar dan untuk berkompetisi dengan mobil yang diimpor dari Thailand, serta memperbanyak lapangan kerja di dalam negeri. Varian ini mirip dengan kategori mobil kei di Jepang dan program Eco Car di Thailand yang juga menjanjikan potongan pajak untuk mobil yang berukuran kecil dan efisien bahan bakar.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Mobil Murah Ramah Lingkungan (Bahasa Inggris: Low Cost Green Car (LCGC), nama resmi: Kendaraan Bermotor Roda Empat Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2)), adalah sebuah varian mobil yang muncul setelah adanya regulasi otomotif baru di Indonesia yang mengecualikan mobil murah dan hemat bahan bakar dari PPnBM, sehingga harga jualnya dapat ditekan serendah mungkin, asalkan mobil ini dirakit di dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertentu. Peluncuran varian mobil ini diharapkan dapat mendorong makin banyak orang memiliki mobil, untuk mengurangi subsidi bahan bakar[1] dan untuk berkompetisi dengan mobil yang diimpor dari Thailand, serta memperbanyak lapangan kerja di dalam negeri.[2] Varian ini mirip dengan kategori mobil kei di Jepang dan program Eco Car di Thailand yang juga menjanjikan potongan pajak untuk mobil yang berukuran kecil dan efisien bahan bakar.
Kementerian Perindustrian menetapkan bahwa mobil yang dapat digolongkan sebagai varian ini adalah yang memenuhi spesifikasi berikut:[3]
Pada bulan Mei 2013, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, yang pada intinya mengatur bahwa:[4]
Toyota, Daihatsu, Suzuki, dan Honda ditargetkan dapat memproduksi total 500.000 mobil varian ini per tahun dengan prediksi total investasi sebesar $1,8 miliar di Indonesia hingga akhir tahun 2012, pasca pemerintah setuju untuk mengecualikan mobil varian ini dari PPnBM untuk mendorong penjualan di dalam negeri.[5]
Pada tanggal 22 April 2013, Astra Daihatsu Motor telah membuka pabrik baru di Karawang untuk merakit mobil varian ini, walaupun pada saat itu pemerintah belum mengeluarkan peraturan mengenai mobil varian ini. Pabrik inipun merakit 4.000 unit Toyota Avanza dan/atau Daihatsu Xenia per bulan pada tahun pertamanya, dan akan memproduksi 10.000 unit mobil varian ini, seperti Toyota Agya dan Daihatsu Ayla saat peraturan mengenai varian mobil tersebut telah dirilis.[6]
| Produsen | Model | Kapasitas | Penjualan | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 2013 | 2014 | 2015[7] | 2016 | 2017[8] | 2018[9] | 2019 | |||
| Astra Daihatsu Motor | Daihatsu Ayla | 1,0 L, 1,2 L | 19.141[10] | 40.775[11] | 35.084[12] | 39.087[13] | 28.051 | 26.952 | 22.108[14] |
| Toyota Astra Motor | Toyota Agya | 1,0 L, 1,2 L | 22.376[10] | 67.074[15] | 57.646[16] | 45.009[17] | 29.004 | 29.106 | 25.082[18] |
| Honda Prospect Motor | Honda Brio Satya | 1,2 L | 4.958 | 26.683 | 31.820 | 36.470 | 43.378 | 46.900 | 54.659 |
| Nissan Motor Indonesia | Datsun Go Panca | 1,2 L | - | 2.733 | 9.462 | 8.833 | 4.303 | 4.782 | 3.013 |
| Nissan Motor Indonesia | Datsun Go+ Panca | 1,2 L | - | 17.787 | 19.896 | 16.650 | 6.181 | 3.263 | 1.612 |
| Suzuki Indomobil Motor | Suzuki Karimun Wagon R | 1,0 L | 4.705 | 7.068 | 11.526 | 9.905 | 5.408 | 4.564 | 4.148 |
| Toyota Astra Motor | Toyota Calya | 1,2 L | - | - | - | 47.280 | 73.236 | 63.970 | 54.549 |
| Astra Daihatsu Motor | Daihatsu Sigra | 1,0 L, 1,2 L | - | - | - | 31.939 | 44.993 | 50.907 | 52.283 |
| Total | |||||||||
Mulai awal tahun 2014 hingga bulan Februari 2014, penjualan mobil pada semua kategori menurun, kecuali mobil kota non-LCGC yang stagnan, namun LCGC tumbuh signifikan dan menyumbang 73% penjualan mobil kota.[19]
Pada tiga bulan pertama tahun 2014, 43.969 unit mobil varian ini berhasil terjual.[20]
Pada enam bulan pertama tahun 2014, 85.643 unit mobil varian ini berhasil terjual.[21]
Pada tujuh bulan pertama tahun 2014, 41.520 unit Toyota Agya berhasil terjual sehingga menjadikannya mobil terlaris ketiga di Indonesia setelah Toyota Avanza dan Honda Mobilio.[22]
Pada tahun 2013, Indonesia berhasil memproduksi 52.956 mobil varian ini, dan pada tahun 2014 diprediksi dapat memproduksi 150.000 unit. Pada bulan Februari 2014, Daihatsu Ayla mulai diekspor ke Filipina dengan nama Toyota Wigo. Pada tahun 2013, Indonesia telah mengekspor 170.907 unit mobil CBU non-LCGC, dan 105.380 mobil CKD.[23]