Minak Indah merupakan salah satu moyang pendiri Tiyuh (Desa) Panaragan, ia dikisahkan sangat sakti dan sulit untuk mengalahkannya. Minak Indah keturunan Tuan Rio Sanak yang berkedudukan di Panaragan, mendapatkan warisan emas dari Ayahnya "Runjung Gelar Minak Tabu Gayau".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Minak Indah merupakan salah satu moyang pendiri Tiyuh (Desa) Panaragan, ia dikisahkan sangat sakti dan sulit untuk mengalahkannya.[1] Minak Indah keturunan Tuan Rio Sanak yang berkedudukan di Panaragan, mendapatkan warisan emas dari Ayahnya "Runjung Gelar Minak Tabu Gayau".[2][3]
Sumber pertama menyatakan Minak Indah dapat dikalahkan oleh Minak Naga Ngumbang yang menggunakan senjata kepunyaan Minak Paduka (Nunyai), karna saat ada yang ingin meminang anak gadis Minak Indah, ia mengajukan syarat agar si peminang untuk menyerahkan emas seberat badan gadis tersebut.[1] Atas dasar syarat tersebut tidak ada dalam peraturan adat yang berlaku, Minak Indah dinilai sombong dan melanggar adat.[1] Berbagai cara dilakukan untuk menumbangkan Minak Indah tapi tak berhasil, apalagi jalinan kerabat Minak Indah diantaranya Minak Sang Menteri, Minak Raja Malaka dan Prajurit Puting Gelang sangat kuat.[1] Dengan tombak subang gading, penuang dan kayas ibung ngelamang batu (milik Minak Paduka) Minak Indah dapat dikalahkan.[1] Kepala Minak Indah lalu dibawa untuk dirayakan serta turut pula ketujuh anak gadis Minak Indah yang diambil oleh orang Kotabumi, Buyut, Surabaya, Mataram, Terbanggi, Bumi Aji dan Lingai.[1] Perayaan tersebut dihadiri 18 Kebuayan yang menetapkan bahwa Adat Lampung tidak dapat diubah lagi.[1][3]
Sumber kedua Minak indah dapat dikalahkan oleh Minak Trio Deso yang mengetahui kelemahannya dari salah satu istri Minak Indah, karna begitu sakti dan tak terkalahkan diberbagai pertarungan, minak indah tumbang dengan bambu yang tumbuh di gundukan tanah dekat benteng.[1] Kepala Minak Indah lalu dibawa untuk dirayakan seperti keterangan sumber pertama.[1]
Untuk mempertahankan kedaulatan Panaragan, kepala Minak Indah berhasil rebut kembali oleh Minak Raja Malaka dan Prajurit Puting Gelang. Kepala tersebut dimakamkan dekat benteng yang sekarang dikenal Keramat Gemol.[1][3]