Mikrobioma merujuk pada kumpulan mikroorganisme yang menetap di dalam tubuh manusia, hewan, tumbuhan, dan organisme lainnya. Istilah mikrobioma pertama kali diperkenalkan oleh Joshua Lederberg dalam konteks mendeskripsikan kompleksitas ekologis dari mikroorganisme, yang bisa bersifat komensal, simbion, atau patogen, yang secara langsung menghuni suatu area di dalam tubuh. Terminologi mikrobioma telah meraih penggunaan yang lebih meluas, merujuk kepada kelompok mikroorganisme yang secara khusus terkait dengan tuan rumah (kelompok) tertentu atau diperoleh dari lingkungan sekitarnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Mikrobioma merujuk pada kumpulan mikroorganisme (seperti jamur, bakteri, dan virus) yang menetap di dalam tubuh manusia, hewan, tumbuhan, dan organisme lainnya. Istilah mikrobioma pertama kali diperkenalkan oleh Joshua Lederberg dalam konteks mendeskripsikan kompleksitas ekologis dari mikroorganisme, yang bisa bersifat komensal, simbion, atau patogen, yang secara langsung menghuni suatu area di dalam tubuh. Terminologi mikrobioma telah meraih penggunaan yang lebih meluas, merujuk kepada kelompok mikroorganisme yang secara khusus terkait dengan tuan rumah (kelompok) tertentu atau diperoleh dari lingkungan sekitarnya.[1]


Pada manusia, terdapat sekitar 10-100 triliun mikroorganisme yang membentuk mikrobioma. Untuk setiap 10 miliar sel tubuh manusia, terdapat 10 sel mikroba yang hidup di dalamnya. Meskipun sel manusia mengekspresikan lebih dari 20.000 gen, total ekspresi gen dalam tubuh mencapai jutaan gen, sebagian besar diantaranya disumbangkan oleh mikroba. Istilah mikrobioma merujuk pada komunitas mikroorganisme yang berinteraksi dengan manusia, meskipun istilah mikrobiota juga sering digunakan secara bergantian. mikrobioma manusia terbesar terdapat di dalam usus, dengan bakteri yang mendominasi peran dalam bidang kekebalan tubuh, nutrisi, dan perkembangan manusia. mikrobioma juga berperan dalam mengatur berbagai proses biologis dan fisiologis tubuh. Ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan regulasi inflamasi dapat menjadi penyebab penyakit dan kondisi non-penyakit menular. Mikroorganisme yang hidup di lingkungan bebas memiliki karakteristik yang ekstrem karena terpapar udara yang lembap, berbeda dengan mikrobiota yang hidup di mamalia. mikrobioma dalam tubuh manusia terdiri dari bakteri, eukariota, archaea, dan virus. Setiap individu memiliki variasi mikrobioma yang signifikan, yang berbeda dengan variasi genom manusia. mikrobioma memainkan peran penting dalam ilmu kedokteran, membantu dalam pengambilan keputusan terkait dengan penanganan masalah kesehatan.[5]
mikrobioma merupakan faktor penting dalam proses perkembangan, sistem kekebalan, dan nutrisi manusia. Selain bakteri patogen, bakteri yang ada dalam tubuh manusia umumnya tidak merugikan, bahkan koloni bakteri tersebut cenderung menguntungkan. Penyakit autoimun seperti diabetes, rheumatoid arthritis, distrofi otot, multiple sclerosis, dan fibromialgia ternyata berkaitan dengan disfungsi mikrobioma. Mikroba dengan berbagai ekspresi gennya dapat meningkatkan risiko penyakit. Hal ini disebabkan oleh perubahan aktivitas gen dan proses metabolisme yang memicu tanggapan imun abnormal terhadap zat dan jaringan yang sebelumnya normal dalam tubuh. Penyakit autoimun diduga ditularkan dalam keluarga tidak hanya melalui DNA orang tua, tetapi juga melalui pewarisan mikrobioma keluarga.[6]