Multimetodologi atau penelitian multimetode mencakup penggunaan lebih dari satu metode pengumpulan data atau metode penelitian dalam suatu studi penelitian atau rangkaian studi yang saling berkaitan. Penelitian metode campuran lebih spesifik karena melibatkan pencampuran data, metode, metodologi, dan/atau paradigma kualitatif serta kuantitatif dalam satu penelitian atau serangkaian penelitian terkait. Dapat dikatakan bahwa penelitian metode campuran merupakan bentuk khusus dari penelitian multimetode.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Multimetodologi atau penelitian multimetode mencakup penggunaan lebih dari satu metode pengumpulan data atau metode penelitian dalam suatu studi penelitian atau rangkaian studi yang saling berkaitan. Penelitian metode campuran (mixed methods research) lebih spesifik karena melibatkan pencampuran data, metode, metodologi, dan/atau paradigma kualitatif serta kuantitatif dalam satu penelitian atau serangkaian penelitian terkait. Dapat dikatakan bahwa penelitian metode campuran merupakan bentuk khusus dari penelitian multimetode.[1]
Istilah lain yang juga dapat digunakan, meskipun lebih jarang dipakai, untuk penelitian multi atau campuran adalah pluralisme metodologis (methodological pluralism). Semua pendekatan ini — baik dalam penelitian profesional maupun akademik — menekankan bahwa penelitian dengan satu metode (monometode) dapat ditingkatkan kualitasnya melalui penggunaan berbagai sumber data, metode, metodologi penelitian, perspektif, sudut pandang, dan paradigma.
Istilah multimetodologi mulai digunakan pada tahun 1980-an, dan diperkenalkan secara lebih formal melalui buku Multimethod Research: A Synthesis of Styles (1989) karya John Brewer dan Albert Hunter. Sejak tahun 1990-an hingga saat ini, istilah penelitian metode campuran (mixed methods research) menjadi lebih populer, terutama dalam bidang ilmu perilaku, sosial, bisnis, dan kesehatan. Pendekatan penelitian yang bersifat pluralistik ini terus meningkat popularitasnya sejak tahun 1980-an hingga sekarang.[2]
Pragmatisme memungkinkan integrasi antara metode kualitatif dan metode kuantitatif dalam kerangka penelitian metode campuran (mixed methods research). Dalam pendekatan ini, kedua metode dipandang sebagai sistem yang saling terkait secara longgar (loosely coupled systems) yang dapat berinteraksi untuk saling melengkapi dalam menjawab pertanyaan penelitian yang kompleks. Di satu sisi, penelitian kuantitatif dicirikan oleh pendekatan yang terstruktur dan berorientasi pada pengujian hipotesis.[3] Ia mengandalkan uji coba terkontrol secara acak (randomized controlled trials), perumusan pertanyaan penelitian berdasarkan celah yang ditemukan melalui tinjauan pustaka, serta prinsip-prinsip generalisasi, validitas, dan reliabilitas. Tujuannya adalah menghasilkan temuan yang dapat digeneralisasikan dan diuji secara empiris melalui pengukuran yang objektif dan terstandar.
Di sisi lain, penelitian kualitatif berfokus pada realitas yang dibangun secara sosial serta pengalaman hidup individu atau kelompok. Pendekatan ini menekankan makna subjektif, konteks sosial, dan interpretasi manusia terhadap fenomena. Dengan demikian, penelitian kualitatif lebih berorientasi pada pemahaman mendalam (in-depth understanding) daripada pengukuran kuantitatif. Pragmatisme berperan sebagai paradigma epistemologis yang menjembatani perbedaan fundamental antara dua pendekatan tersebut. Alih-alih melihat metode kualitatif dan kuantitatif sebagai paradigma yang saling bertentangan, pragmatisme menganggap keduanya sebagai alat yang dapat digunakan secara fleksibel sesuai dengan tujuan dan konteks penelitian. Dengan prinsip pragmatis, peneliti dapat memilih atau menggabungkan metode yang paling efektif untuk menjawab pertanyaan penelitian, tanpa terikat secara dogmatis pada satu tradisi metodologis tertentu.
Melalui perspektif ini, penelitian campuran dipahami sebagai interaksi sistem terbuka (open systems) yang berhubungan di titik batasnya—artinya, metode kuantitatif dan kualitatif beroperasi secara relatif mandiri, tetapi saling berinteraksi dan memengaruhi di area di mana data, analisis, atau interpretasi bertemu.[4] Dengan cara ini, pragmatisme tidak hanya menekankan pada “apa yang berhasil” dalam praktik penelitian, tetapi juga memberikan dasar filosofis bagi integrasi metodologis yang bersifat adaptif, reflektif, dan kontekstual.