Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Mawla

Mawlā atau maulā, jamak mawālī, adalah sebuah polisemi dalam bahasa Arab yang dapat berarti bermacam-macam tergantung konteks dan periode yang dibicarakan. Dalam Al-Qur'an dan hadis kata ini memiliki dua makna: "Tuan" atau "pelindung, orang kepercayaan, penolong." kata tersebut antara lain dugunakan dalam surah al-Anfaal [8] : 40 dan Muhammad [47]: 11.

Wikipedia article
Diperbarui 17 Oktober 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Mawlā atau maulā (bahasa Arab: مَوْلَىcode: ar is deprecated ), jamak mawālī (مَوَالِيcode: ar is deprecated ), adalah sebuah polisemi dalam bahasa Arab yang dapat berarti bermacam-macam tergantung konteks dan periode yang dibicarakan.[1] Dalam Al-Qur'an dan hadis kata ini memiliki dua makna: "Tuan" atau "pelindung, orang kepercayaan, penolong."[1] kata tersebut antara lain dugunakan dalam surah al-Anfaal [8] : 40 dan Muhammad [47]: 11.[2]

Mawali di Arab Pra-Islam

Dalam periode sebelum Islam, kata ini digunakan untuk hubungan antarkabilah.[3] Pada masa awal Islam kata mawla dan mawali digunakan untuk menyebut golongan Muslim non-Arab, ataupun Arab Muslim yang baru masuk Islam. Kata ini digunakan untuk menyebut orang Yunani, Persia, Mesir, Afrika dan Yahudi.[2]

Pada mulanya, istilah mawali digunakan sebagai kata yang menjembatani antara kaum Muslim Arab dengan para orang belaannya yang berasal dari suku luar Arab misalnya Yunani, Persia, Mesir, Afrika, dan Yahudi. Para mawali ini menjadi bagian dari kelompok tersebut secara sukarela maupun berawal dari tawanan perang yang dibebaskan. Beberapa sahabat dan pengikut setia Muhammad terdiri atas mawal. Misalnya Bilal dari Etiopia, dan Shuhaib dari Bizantium, dan Salman dari Persia.[2]

Sekitar 715 M, para Mawali mulai memberikan peran dalam politik dan membentuk pasukan yang terpisah dari pasukan Arab. Mereka pun memiliki peran penting dalam penaklukan wilayah Asia Tengah dan Andalusia. Kaum Mawali pun melahirkan ilmuwan-ilmuwan terkemuka seperti awal terkemuka, seperti Abu Hanifah (767 M), al-Hasan al-Bashri (728 M), Sibawaih (791 M) dan, Ibnu Ishaq (791 M).[2]

Pada Dinasti Abbasiyah, terutama menjelang masa kepemimpinan al-Mu’tashim, istilah mawali yang ditujukan bagi orang muslim non-Arab mulai menghilang. Hal ini terjadi karena mulai terkikisnya elitisme Arab dengan menghilangnya beberapa suku di wilayah urban.[2]

Referensi

  1. 1 2 A.J. Wensinck, Encyclopedia of Islam 2nd ed, Brill. "Mawlā", vol. 6, p. 874.
  2. 1 2 3 4 5 "Mengenal Maula". Republika Online. 2017-01-20. Diakses tanggal 2021-06-12.
  3. ↑ Goldziher, Ignác (1889). Muhammedanische Studien. Halle. hlm. 105.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • İslâm Ansiklopedisi


Ikon rintisan

Artikel bertopik umum ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.


Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik.
  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Mawali di Arab Pra-Islam
  2. Referensi

Artikel Terkait

Ali bin Abi Thalib

Khalifah Kekhalifahan Rasyidin ke-4 (m. 656–661)

Salim bin Ma'qil

Salim bin Ma'qil (julukan: Salim maula Abi Hudzaifah) adalah salah satu sahabat Muhammad yang berasal dari Persia. Ia merupakan bekas budak Abu Hudzaifah

Barirah Mawla Aisha

Barirah Mawla Aisha (bahasa Arab: بريرة مولى عائشةcode: ar is deprecated ) adalah seorang budak perempuan Arab abad ke-7 milik Utbah bin Abu Lahab. Dia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026