Matius 6:10 adalah ayat kesepuluh dari pasal keenam Injil Matius, yaitu kitab pertama dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Ayat ini termasuk ke dalam rangkaian Khotbah di bukit yang diucapkan oleh Yesus Kristus di Galilea, yang dicatat oleh Matius, salah seorang dari keduabelas Rasul pertama. Merupakan salah satu ayat yang paling sering dikutip dari Alkitab Kristen, karena memuat kalimat-kalimat Doa Bapa Kami."Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Matius 6:10
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Matius 6:10 (disingkat Mat 6:10; bahasa Inggris: Matthew 6:10code: en is deprecated ) adalah ayat kesepuluh dari pasal keenam Injil Matius, yaitu kitab pertama dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Ayat ini termasuk ke dalam rangkaian Khotbah di bukit yang diucapkan oleh Yesus Kristus di Galilea (~29 M), yang dicatat oleh Matius, salah seorang dari keduabelas Rasul pertama. Merupakan salah satu ayat yang paling sering dikutip dari Alkitab Kristen, karena memuat kalimat-kalimat Doa Bapa Kami.
"Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Matius 6:10 (Terjemahan Baru)
Ayat ini adalah bagian dari nas Alkitab dalam Matius 6 terutama ayat Matius 6:9–13 yang memuat Doa Bapa Kami. Nas ini merupakan sebagian dari rangkaian pasal Matius 5:1–7:29, yang biasanya disebut Khotbah Kristus di Bukit, berisi penyataan dari prinsip-prinsip kebenaran Allah dengan mana semua orang Kristen harus hidup oleh iman kepada Anak Allah (Galatia 2:20) dan oleh kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam diri orang beriman (Roma 8:2–14; Galatia 5:16–25). Semua orang yang menjadi anggota Kerajaan Allah harus lapar dan haus akan kebenaran yang diajarkan dalam Khotbah Kristus (lihat Matius 5:6).[1]
Ayat ini adalah bagian dari contoh suatu doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Dengan contoh doa ini, Kristus menunjukkan apa saja yang harus menjadi pokok doa orang Kristen. Ada enam permohonan dalam doa itu: tiga yang pertama berkaitan dengan kekudusan dan kehendak Allah; tiga sisanya berkaitan dengan kebutuhan orang beriman sehari-hari. Singkatnya doa ini tidak berarti bahwa orang beriman harus berdoa secara singkat saja mengenai kebutuhannya. Kristus kadang-kadang berdoa sepanjang malam (Lukas 6:12).[1]
Doa melibatkan penyembahan kepada Bapa sorgawi.
Doa orang Kristen haruslah berhubungan dengan Kerajaan Allah di bumi sekarang ini dan dengan perwujudannya pada masa yang akan datang.
Sebagaimana bagian terakhir (Matius 6:13), frasa ini merupakan gema doa Yahudi Qaddish. Doa ini memuat permohonan agar Kerajaan Allah dimulai pada masa hidup pendoa itu. "Kerajaan" ini merupakan metafora Kerajaan Allah yang akan dibawa oleh Mesias Yahudi. Pada beberapa tempat dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus menyatakan bahwa Ia membawa Kerajaan ini, dan Kerajaan ini adalah iman Kristen, bukan kekaisaran duniawi seperti yang dinanti-nantikan. Fowler mencatat bahwa sejumlah orang berargumen bahwa doa ini sudah ketinggalan zaman, karena ditujukan kepada pendengar pra-Kristen, bukan kepada mereka yang hidup pada saat Kekristenan sudah didirikan. Satu respons untuk argumen ini adalah bahwa Kekristen masih jauh dari keadaan universal, dan bahwa frasa ini memohon agar Kerajaan Kristus menyebar bagi mereka yang belum percaya. Bahkan orang-orang yang sudah percaya tidak pernah menjadi orang Kristen sempurna, dan sejumlah bagian hati mereka selalu tidak tersentuh, sehingga ayat ini merupakan permohonan untuk menerima adopsi penuh Kekristenan. Alternatif lain adalah biasa untuk melihat "Kerajaan" memiliki lebih dari satu makna dalam Perjanjian Baru, dan meskipun Yesus telah memulai suatu Kerajaan baru, ayat ini bersifat eskatologis, melihat ke depan kepada akhir zaman.[2]
Berdoa seperti ini berarti bahwa orang beriman sungguh-sungguh menginginkan kehendak dan maksud Allah terwujud dalam kehidupannya dan keluarganya sesuai dengan rencana-Nya yang abadi. Orang beriman terutama dapat mengetahui kehendak Allah di dalam Firman-Nya yang telah dinyatakan, yaitu Alkitab, dan melalui pimpinan Roh Kudus di dalam hatinya (bandingkan Roma 8:4–14). Kehendak Allah terlaksana bila orang beriman berdoa agar "kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya" datang di antara mereka (Matius 6:33).[1]
Frasa "jadilah kehendak-Mu" ini tidak dijumpai pada doa versi Injil Lukas, sehingga Hill menduga bahwa bagian ini dicatat oleh penulis Injil Matius untuk membentuk struktur lipat tiga yang indah pada doa ini.[3]
Masih menjadi perdebatan mengenai ciri eskatologis petisi atau permohonan ketiga ini. Kehendak Allah dapat merujuk kepada kuasa Allah, perwujudan pemerintahan-Nya, dan kemudian permohonan di ayat 13 merupakan suatu addendum atau tambahan agar kuasa Allah diwujudkan di bumi seperti yang nyata di sorga, suatu rujukan jelas kepada akhir zaman. Penafsiran kedua adalah bahwa permohonan ini menyerukan manusia untuk mematuhi kehendak Allah, perintah-perintah-Nya dan ajaran-ajaran etika-Nya. Permohonan untuk tingkah laku manusia yang sepatutunya, bukan untuk intervensi ilahi.
Frasa asli dalam bahasa Yunaninya bersifat rancu. Dapat berarti "hal-hal di dunia seharusnya menjadi seperti sebagaimana di sorga" atau dapat dibaca sebagai pernyataan agar "hal-hal ini seharusnya terjadi di dunia maupun di sorga". Penafsiran pertama lebih umum diterima, dan memberikan informasi yang langka mengenai sorga, menyatakan jelas bahwa dalam keadaan itu kehendak Allah sepenuhnya tergenapi. Tidak jelas apakah frasa ini dimaksudkan sekadar untuk mengubah permohonan terakhir, atau ketiga-tiganya.[4]

Textus Receptus/Novum Testamentum Graece
(*)Umumnya ditulis ἐλθέτω, tetapi ada naskah kuno yang mengeja ἐλθάτω, misalnya Codex Sinaiticus (~330-360 M).
Transliterasi (dengan pranala konkordansi Strong):
Terjemahan harfiah:
Sumber naskah kuno: Codex Sinaiticus, Codex Vaticanus
Teks bahasa Suryani yang terdapat dalam Pesyita dari abad ke-2 M[5]
Vulgata (abad ke-4 M)

| Versi | Matius 6:10 |
|---|---|
| Terjemahan Baru (1974) | Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.[6] |
| BIS (1985) | Engkaulah Raja kami. Semoga Engkau memerintah di bumi dan kehendak-Mu ditaati seperti di surga.[7] |
| Terjemahan Lama (1958) | Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu, seperti di surga, demikian juga di atas bumi.[7] |
| AYT Draft | Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.[7] |
| MILT (2008) | datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu seperti di surga juga di atas bumi.[7] |
| WBTC Draft (2006) | Kami berdoa supaya kerajaan-Mu datang, dan yang Engkau kehendaki terjadi di bumi ini sama seperti yang di surga.[7] |
| FAYH (1989) | Kami mohon kiranya kehendak-Mu terlaksana di bumi ini sama seperti di surga.[7] |
| ENDE (1969) | Datanglah KeradjaanMu, djadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam Surga.[7] |
| Shellabear Draft (1912) | Datanglah kerajaanmu. Jadilah kehendakmu di atas bumi seperti disurga.[7] |
| Shellabear 2000 (2000) | Datanglah kerajaan-Mu. Terlaksanalah kiranya kehendak-Mu di bumi seperti di surga.[7] |
| Melayu BABA (1913) | Datang-lah kraja'an-mu. Jadi-lah kahandak-mu, sperti di shorga bgitu juga di atas bumi.[7] |
| Klinkert 1879 (1879) | Datanglah kiranja karadjaanmoe; kahendakmoe berlakoelah di-atas boemi ini saperti dalam sorga.[7] |
| Klinkert 1863 (1863) | Karadjaan Toehan dateng dan kahendak Toehan djadi, seperti didalem sorga, bagitoe djoega di-atas boemi.[7] |
| Leydekker Draft (1733) | Karadja`anmu datanglah. Kahendakhmu djadilah, seperti di dalam sawrga, demikijenlah di`atas bumi.[7] |
Versi lain:
Versi lain:
Bahasa Jawa Suriname
Versi lain
Versi Katolik:
Versi Protestan:
Versi lain:

Versi Raja James (1610)