Masjid El Bey, secara resmi dikenal sebagai Masjid Hussein Bey, adalah masjid yang terletak di Konstantin, Aljazair. Bangunan ini awalnya dikenal sebagai Masjid Souk al-Ghazal yang berkaitan dengan pasar wol di sekitarnya. Masjid tersebut selesai dibangun pada tahun 1730 M pada masa pemerintahan Ottoman. Pada periode kolonial Prancis, bangunan ini diubah menjadi gereja Katolik dengan nama Katedral Bunda Maria Tujuh Duka Konstantinus dan digunakan antara tahun 1838 hingga 1962. Setelah kemerdekaan Aljazair, bangunan ini dikembalikan fungsinya sebagai masjid dan dikenal dengan nama Masjid El Bey.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| El Bey Mosque | |
|---|---|
مسجد البايcode: ar is deprecated | |
Masjid pada tahun 1950 | |
Koordinat: 36°22′2.02800″N 6°36′42.33600″E / 36.3672300000°N 6.6117600000°E / 36.3672300000; 6.6117600000Lihat peta diperbesar Koordinat: 36°22′2.02800″N 6°36′42.33600″E / 36.3672300000°N 6.6117600000°E / 36.3672300000; 6.6117600000Lihat peta diperkecil | |
| Agama | |
| Afiliasi | Sunni Islam |
| Status keagamaan atau organisasi | |
| Status | Aktif |
| Lokasi | |
| Lokasi | Konstantin, Provinsi Qusnathinah |
| Negara | Aljazair |
| Arsitektur | |
| Tipe | Arsitektur Islam |
| Gaya | Utsmaniyah |
| Dibangun oleh | Hussein Bey ibn Muhammad |
| Rampung | 1730 Masehi |
| Spesifikasi | |
| Kapasitas | 1,000 jemaah |
| Kubah | 1 |
| Menara | 2 |
| [1] | |
Masjid El Bey (bahasa Arab: مسجد الباي, Masjid al-Bāy), secara resmi dikenal sebagai Masjid Hussein Bey, adalah masjid yang terletak di Konstantin, Aljazair.[2] Bangunan ini awalnya dikenal sebagai Masjid Souk al-Ghazal yang berkaitan dengan pasar wol di sekitarnya. Masjid tersebut selesai dibangun pada tahun 1730 M pada masa pemerintahan Ottoman. Pada periode kolonial Prancis, bangunan ini diubah menjadi gereja Katolik dengan nama Katedral Bunda Maria Tujuh Duka Konstantinus dan digunakan antara tahun 1838 hingga 1962. Setelah kemerdekaan Aljazair, bangunan ini dikembalikan fungsinya sebagai masjid dan dikenal dengan nama Masjid El Bey.
Masjid ini pada awalnya dikenal sebagai Masjid Souk al-Ghazal, yang berarti “masjid pasar tenun”. Penamaan tersebut berkaitan dengan keberadaan pasar di sebelah barat bangunan yang menjadi tempat penjualan wol dan bahan untuk kegiatan penenunan. Masjid terletak di antara Jalan Kerman dan Jalan Didouche Mourad. Di sebelah utara terdapat Lapangan Shushan Abdel-Baqi, di sebelah barat berbatasan dengan Istana Ahmed Bey, dan di sebelah timur dengan Jalan Didouche Mourad.
Pembangunan masjid berlangsung pada masa pemerintahan Hussein Kalyan, yang juga dikenal sebagai Abu Kamiya, penguasa wilayah tersebut pada periode 1713–1736. Masjid ini kemudian dikenal sebagai Masjid Hussein Bey untuk menghormati pendirinya, Hussein Bey ibn Muhammad. Ia lahir sekitar tahun 1073 H (1662/1663 M) dan berasal dari Turki.
Keterangan mengenai pembangunan masjid tercatat dalam prasasti yang kini berada di Istana Ahmed Bey. Prasasti tersebut berupa lempengan marmer putih berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 1,25 × 0,62 meter yang ditempatkan pada dinding utara paviliun bey. Tulisan pada prasasti memuat informasi mengenai pembangunan bangunan dan nama pendirinya. Sejumlah penelitian oleh sarjana Prancis, termasuk Cherbonneau, yang merujuk pada dokumen dari Sheikh Mustafa bin Jalul, menyebutkan bahwa pembangunan awal masjid didanai oleh seorang tokoh bernama Abbas. Setelah kematiannya, nama tersebut diganti dengan nama penguasa setempat dalam prasasti peringatan.
Pada tahun 1838, setelah pendudukan Prancis di Aljazair, bangunan masjid dialihfungsikan menjadi gereja Katolik Roma dengan nama Notre-Dame des Sept-Douleurs (Bunda Maria Tujuh Duka Konstantinus). Bangunan ini kemudian digunakan sebagai katedral dan menjadi tempat kedudukan uskup Konstantinus.[3] Fungsi tersebut berlangsung hingga tahun 1962. Setelah Aljazair memperoleh kemerdekaan, bangunan tersebut dikembalikan kepada komunitas Muslim dan kembali digunakan sebagai masjid dengan nama Masjid El Bey.[4]
Denah Masjid El Bey berbentuk persegi panjang dan sebagian fasad utara serta baratnya menyatu dengan kompleks Istana Ahmed Bey serta mengikuti kontur lereng tanah di sekitarnya. Masjid memiliki dua pintu masuk utama di sisi selatan yang didahului tangga batu. Pada bagian ini terdapat pintu modern yang dipasang untuk melindungi pintu asli. Pintu asli terbuat dari kayu dengan dua daun pintu besar yang dilengkapi kait logam dan dibuka dari bagian dalam.
Bangunan memiliki sejumlah jendela berbingkai yang menghadap ke luar. Pada sisi selatan terdapat sebelas jendela dengan bagian atas dihiasi ornamen plester. Sisi timur dan barat masing-masing memiliki tiga jendela berbentuk lengkung. Pada bagian kubah terdapat tiga jendela pada setiap sisi yang berfungsi sebagai sumber pencahayaan alami bagi ruang salat.
Dari bagian luar, kubah masjid berbentuk bulat dan ditempatkan di kedua sisi menara yang berada di sisi barat bangunan. Selain kubah utama, terdapat kubah dangkal dengan rongga yang lebih sedikit dibandingkan kubah tengah. Susunan kubah ini membentuk komposisi arsitektur yang khas pada bangunan masjid di kawasan tersebut.
Ruang salat memiliki bentuk persegi panjang dan terletak di depan dinding kiblat. Interior ruangan dihiasi setengah kubah dari plester dengan motif bunga dan pola geometris. Bagian dalam kubah dilapisi ubin keramik berwarna. Di kedua sisi mihrab terdapat dua kolom marmer berwarna hitam dan putih yang menjadi elemen struktural sekaligus dekoratif.
Mimbar masjid terbuat dari kayu dengan ukuran sekitar 3,45 × 3,45 meter dan tinggi sekitar 0,96 meter. Mimbar tersebut memiliki sebelas anak tangga dan dihiasi elemen dekoratif pada kedua sisinya. Pada bagian atas mimbar terdapat tempat duduk bagi khatib. Struktur ruang salat ditopang oleh sekitar tiga puluh kolom, termasuk kolom yang menyatu dengan dinding. Kolom-kolom tersebut berdiri di atas alas melingkar dengan badan kolom berbentuk silindris.