Masaru Emoto adalah seorang ilmuwan semu dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 yang mengklaim bahwa kesadaran manusia dapat memengaruhi struktur molekul air. Bukunya dari tahun 2004, The Hidden Messages in Water, menjadi buku terlaris New York Times. Gagasannya telah berkembang seiring tahun, dan karya awalnya berfokus pada hipotesis semu bahwa air dapat bereaksi terhadap pikiran positif, dan air yang tercemar dapat dibersihkan melalui doa dan visualisasi positif.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2016) |
Masaru Emoto (lahir 22 Juli 1943 dan meninggal tanggal 17 Oktober 2014) adalah seorang ilmuwan semu dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 yang mengklaim bahwa kesadaran manusia dapat memengaruhi struktur molekul air. Bukunya dari tahun 2004, The Hidden Messages in Water, menjadi buku terlaris New York Times.[1] Gagasannya telah berkembang seiring tahun, dan karya awalnya berfokus pada hipotesis semu bahwa air dapat bereaksi terhadap pikiran positif, dan air yang tercemar dapat dibersihkan melalui doa dan visualisasi positif.[2][3][4]
Emoto mengklaim bahwa ia menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi "indah" dan "mengagumkan" apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi "buruk" dan "tidak sedap dipandang mata" apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat di dalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang dikarangnya sebagai pembuktian kesimpulan nya sehingga hal ini berpeluang menjadi suatu terobosan dalam meyakini keajaiban alam. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut.[5]
Sampai sekarang Emoto dan karyanya masih dianggap kontroversial.[6][7][8][9] Ernst Braun dari Burgistein di Thun, Swiss, telah mencoba dalam laboratoriumnya metode pembuatan foto kristal seperti yang diungkapan oleh Emoto, sayangnya hasil tersebut tidak dapat direproduksi kembali, walaupun dalam kondisi percobaan yang sama.[10]
Pada 2008, Emoto menerbitkan penemuannya di Journal of Scientific Exploration, yaitu sebuah jurnal dari Masyarakat Penjelajahan Ilmiah yang telah dikritik karena telah melayani sains pinggiran (fringe science).[2] Ia menulis sebuah karya bersama dengan Takashige Kizu dari Institut Umum Medis Kesehatan Internasional (IHM) milik Emoto sendiri, dan Dean Radin dan Nancy Lund dari Institut Ilmu Niskala, yang berada pada daftar Quackwatch untuk organisasi yang dipertanyakan, milik Stephen Barrett.[11]
Banyak yang telah mengkritik Emoto karena kontrol eksperimen yang tidak layak, dan karena tidak memberi detail yang cukup mengenai eksperimennya kepada komunitas ilmiah.[12][13] Ia juga telah dikritik karena mendesain eksperimennya dengan cara yang memungkinkan manipulasi atau kelalaian manusia.[12][14] Ahli biokimia dan Direktur Mikroskopi University College Cork, William Reville, menulis bahwa "sangat tidak mungkin terdapat kebenaran dibalik klaim-klaim Emoto".[12] Reville mencatat ketidakhadiran publikasi ilmiah dan menyebut bahwa siapapun yang dapat mencontohkan fenomena semacam itu akan langsung terkenal dan kemungkinan kaya.[12]