Martinus Petrus Maria Muskens adalah seorang rohaniwan Katolik asal Belanda. Ia menjabat sebagai Uskup Breda sejak ditunjuk pada 23 Juli 1994 hingga mengundurkan diri pada 31 Oktober 2007. Muskens dikenal karena kontribusinya dalam menulis karya-karya tentang sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Muskens pernah ditugaskan oleh Konferensi Waligereja Belanda sebagai delegatus dalam upaya pendirian Pusat Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) dari Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Yang Mulia Martinus Petrus Maria Muskens | |
|---|---|
| Uskup Emeritus Breda | |
Mgr. Muskens pada tahun 2009 | |
| Gereja | Katolik Roma |
| Keuskupan | Breda |
| Penunjukan | 23 Juli 1994 |
Masa jabatan berakhir | 31 Oktober 2007 |
| Pendahulu | Hubertus Cornelis Antonius Ernst |
| Penerus | Johannes Harmannes Jozefus van den Hende |
| Imamat | |
Tahbisan imam | 16 Juni 1962 (1962-06-16) oleh Wilhelmus Marinus Bekkers |
Tahbisan uskup | 26 November 1994 (1994-11-26) oleh Hubertus Cornelis Antonius Ernst |
| Informasi pribadi | |
| Nama lahir | Martinus Petrus Maria Muskens |
| Lahir | (1935-12-11)11 Desember 1935 Elshout, Heusden, Belanda |
| Meninggal | 17 April 2013(2013-04-17) (umur 77) Teteringen, Belanda |
| Makam | Pemakaman Keluarga di Elshout, Belanda |
| Kewarganegaraan | Belanda |
| Denominasi | Katolik Roma |
| Semboyan | Shalom (Damai) |
Martinus Petrus Maria Muskens (11 Desember 1935 – 17 April 2013) adalah seorang rohaniwan Katolik asal Belanda. Ia menjabat sebagai Uskup Breda sejak ditunjuk pada 23 Juli 1994 hingga mengundurkan diri pada 31 Oktober 2007. Muskens dikenal karena kontribusinya dalam menulis karya-karya tentang sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Muskens pernah ditugaskan oleh Konferensi Waligereja Belanda sebagai delegatus dalam upaya pendirian Pusat Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) dari Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI).
Muskens lahir di Elshout, Heusden yang merupakan bagian dari Keuskupan 's-Hertogenbosch. Ia berasal dari latar belakang keluarga yang berprofesi sebagai petani.[1]
Ia ditahbiskan menjadi imam pada 16 Juni 1962 oleh Uskup 's-Hertogenbosch Wilhelmus Marinus Bekkers.[2] Setelah ditahbiskan, ia menempuh studi misiologi di Nijmegen. Disertasi doktoralnya membahas mengenai Indonesia, negara tempat ia tinggal dan bekerja selama delapan tahun sebagai direktur Pusat Dokumentasi Majelis Agung Waligereja Indonesia. Pengalamannya di Indonesia membuatnya meyakini pentingnya dialog antaragama antara umat Kristen dan Muslim. Namun, ia menilai dialog sejati sulit terwujud selama Arab Saudi masih melarang pembangunan gereja.[3]
Pada 1978, Muskens diangkat sebagai rektor Pontificio Collegio Olandese di Roma, sekaligus mengajar sejarah Gereja dalam dua perguruan tinggi internasional. Ia menetap di Roma selama 16 tahun.
Disertasi Muskens berjudul Indonesië. Een strijd om nationale identiteit. Nationalisten, Islamieten, Katholieken (1971), yang membahas tentang peran Gereja Katolik dalam pergulatan identitas bangsa, mendapat sambutan positif dari pimpinan Gereja Katolik di Indonesia. Sebagian besar karyanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Sejarah Gereja Katolik Indonesia: Pengintegrasian di Alam Indonesia (1973) dan menjadi Jilid 4 dari seri Sejarah Gereja Katolik Indonesia (SGKI).[4]
Selain menulis, Muskens berperan besar dalam penyusunan Jilid 3a dan 3b SGKI. Ia menyadari bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat secara adil dan akurat menulis sejarah Gereja di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, ia menginisiasi kerja kolaboratif dengan melibatkan para imam di setiap keuskupan untuk menuliskan sejarah keuskupannya masing-masing. Hasilnya, Jilid 3a memuat sejarah Gereja di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi–Maluku, dan Papua, sementara Jilid 3b membahas Nusa Tenggara, Jawa, dan Jakarta. Muskens sendiri menulis bagian tentang Keuskupan Agung Jakarta. Meskipun karya ini memiliki keterbatasan, seperti ruang penulisan yang sempit, sudut pandang yang lebih menonjolkan sumber arsip resmi, dan keterikatan pada garis kebijakan hierarki, SGKI tetap dapat menjadi gambaran panoramik tentang perkembangan Gereja Katolik di Indonesia.[4]
Muskens juga membawa suatu kerangka berpikir, bahwa sejarah Gereja tidak sekadar kronologi peristiwa, melainkan harus dilihat dalam "bingkai" kebudayaan. Ia menekankan bahwa umat Katolik Indonesia adalah bagian dari bangsa yang tengah mencari identitas kulturalnya, dan bahwa Gereja Katolik ikut serta dalam peziarahan bangsa tersebut bukanlah untuk mencari identitas sendiri, melainkan untuk membangun identitas kebangsaan bersama. Dengan perspektif ini, Muskens membedakan diri dari penulis sejarah Gereja sebelumnya maupun sesudahnya, karena ia secara sadar menempatkan perjalanan Gereja Katolik Indonesia dalam konteks pergulatan kultural bangsa secara menyeluruh, serta membandingkannya dengan pengalaman Gereja di negara Asia lain.[4]
Pada 23 Juli 1994, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Uskup Breda. Ia menerima tahbisan episkopal pada 26 November 1994 di Gereja Sint-Gertrudiskerk, Bergen op Zoom. Pendahulunya, Hubertus Cornelis Antonius Ernst menjadi uskup penahbis utama, dengan Uskup Agung Leo Soekoto, S.J. dari Keuskupan Agung Jakarta, dan Uskup Agung Peter Kodwo Appiah Turkson dari Keuskupan Agung Cape Coast sebagai ko-konsekrator.
Sebagai uskup, Muskens dikenal aktif; namun pada 2001 ia mengalami dua serangan ringan stroke yang membuatnya mengurangi kegiatan. Pada peringatan 150 tahun Keuskupan Breda tahun 2003, ia berencana menggalang dana untuk mengadakan sinode keuskupan, tetapi membatalkannya setelah mendapat keberatan dari Vatikan. Ia juga pernah berbeda pendapat dengan para uskup lainnya, antara lain ketika mendukung penggunaan kondom untuk pencegahan HIV/AIDS.
Sebagai uskup, Muskens juga dikenal karena keterlibatannya dalam bidang sosial. Muskens kerap melakukan aksi solidaritas, seperti tidur bersama tunawisma di bawah jembatan di Amsterdam dan menjadi relawan di panti jompo.
Ia memutuskan untuk mengundurkan diri lebih awal karena kondisi kesehatannya. Pada 9 September 2006, Mgr. Johannes Harmannes Jozefus van den Hende diangkat sebagai uskup koajutor untuk Keuskupan Breda dan ditahbiskan oleh Muskens pada 25 November 2006. Van den Hende menggantikannya sepenuhnya ketika pengunduran diri Muskens diterima secara resmi oleh Paus Benediktus XVI pada 31 Oktober 2007.
Muskens kemudian menetap dalam sebuah komunitas Benediktin di Teteringen, dan dikenal sebagai Bruder Martinus. Ia meninggal dunia di Teteringen pada tanggal 17 April 2013 dalam usia 77 tahun. Ia dimakamkan di makam keluarga di Elshout. Dalam hidupnya, ia melayani sebagai imam selama hampir 51 tahun dan sebagai uskup selama lebih dari 18 tahun.
Ia menimbulkan kontroversi pada sebuah acara televisi VPRO ketika menyatakan bahwa seorang miskin yang benar-benar tidak mampu membeli makanan, tidak berbuat salah jika mengambil roti dari sebuah toko.[5] Pernyataan ini membuat istilah "roti Muskens" menjadi ungkapan terkenal di Belanda. Reaksi keras datang dari ketua partai liberal VVD, Frits Bolkestein, yang secara terbuka menegurnya dan meninggalkan forum tanpa mendengarkan jawaban Muskens.