Maria Guyomar de Pina atau lebih dikenal sebagai Maria Guiomar de Pina, Dona Maria del Pifia atau sebagai Marie Guimar dan Madame Constance dalam bahasa Prancis, Thao Thong Kip Ma adalah seorang wanita berdarah campuran Portugis, Jepang dan Bengali yang lahir dan besar di kerajaan Ayutthaya. Dia adalah penganut Kristen Katolik Roma yang taat dan setia, dia menikah dengan seorang petualang Yunani bernama Constantine Phaulkon. Dia terkenal di Thailand sebagai Ratu Thai Dessert, selain itu dia juga wanita yang berhasil membawa ajaran Kristen Katolik Roma masuk ke kalangan budak-budak yang ada di kerajaan Ayutthaya kala itu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Thao Thong Kip Ma Maria Guyomar de Pina มารีอา กียูมาร์ ดึ ปีญา | |
|---|---|
| Pasangan | |
| Bapak | Fanik Guyomar |
| Ibu | Ursula Yamada |
| Lahir | 1664 (1664) Kerajaan Ayutthaya |
| Meninggal | 1728 (umur 63–64) Kerajaan Ayutthaya |
Maria Guyomar de Pina (Thai: มารีอา กียูมาร์ ดึ ปีญาcode: th is deprecated ; 1664 – 1728) atau lebih dikenal sebagai Maria Guiomar de Pina, Dona Maria del Pifia atau sebagai Marie Guimar dan Madame Constance dalam bahasa Prancis, Thao Thong Kip Ma (Thai: ท้าวทองกีบม้าcode: th is deprecated ) adalah seorang wanita berdarah campuran Portugis, Jepang dan Bengali[1] yang lahir dan besar di kerajaan Ayutthaya (sekarang Thailand). Dia adalah penganut Kristen Katolik Roma yang taat dan setia, dia menikah dengan seorang petualang Yunani bernama Constantine Phaulkon.[2] Dia terkenal di Thailand sebagai Ratu Thai Dessert, selain itu dia juga wanita yang berhasil membawa ajaran Kristen Katolik Roma masuk ke kalangan budak-budak yang ada di kerajaan Ayutthaya kala itu.

Maria lahir di kerajaan Ayutthaya pada masa pemerintahan Raja Narai. Ayahnya dikenal sebagai Fanique atau Phanick, seorang Mestiço dari Goa keturunan campuran Portugis, Bengali, dan Jepang,[3] yang digambarkan sebagai "setengah hitam, setengah Bengali, setengah Jepang[4]," seorang Katolik yang taat namun kurang mampu. Ibunya adalah seorang Kristen Jepang bernama Ursula Yamada, yang diklaim sebagai keturunan dari orang Kristen Jepang pertama yang dibaptis oleh Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1549. Sebuah catatan sezaman menyebutkan bahwa Ursula bukanlah istri yang sangat setia dan melahirkan anak-anak dengan warna kulit yang beragam, termasuk seorang anak (Maria) yang berkulit terang dan ayahnya adalah seorang pastor Yesuit.[5]
Maria Guyomar dibesarkan sebagai seorang Katolik yang taat. Sebelum bertemu dengan Constantine Phaulkon yang kemudian menjadi suaminya, Maria Guyomar de Pinha adalah seorang wanita miskin yang hidup bersama dengan ayahnya Fanik Guyomar dan ibunya Ursula Yamada. Kemudian dia bertemu dengan Constantine Phaulkon seorang petualang Yunani yang merupakan orang kepercayaan dari raja Narai yang saat itu memerintah Ayutthaya.[6] Oleh karena itu, Falcon menunjukkan ketulusannya dengan meninggalkan keyakinan Anglikannya dan berpindah agama menjadi Katolik Roma, mengikuti jejak Maria.[7] Ayah Maria, yang tersentuh oleh cinta Konstantinus kepadanya, menyetujui pernikahan mereka. Raja Narai dan para bangsawan berpangkat tinggi juga menghadiri upacara pernikahan tersebut.[8]
Setelah menikah, Maria terus menjalani kehidupan normal dan sederhana, dan bahkan mendorong suaminya untuk menjalankan agamanya dengan lebih tekun dan konsisten daripada sebelumnya, seperti yang tercatat dalam tulisan Pastor Claude de Bèze:[9]
"...Wanita yang teguh dalam Yesus ini, yang usianya tidak lebih dari enam belas tahun, menolak semua kesenangan yang sangat diinginkan oleh wanita lain seusianya dan dari kalangan sosial yang sama, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan memberikan penghiburan kepada suaminya. Dia tidak pernah meninggalkan rumah kecuali untuk pergi ke gereja...."
Phaulkon dan Maria memiliki dua putra, George "Jorge" Phaulkon dan Constantin "João" Phaulkon, dan menjalani kehidupan yang makmur karena Phaulkon menjadi sangat berpengaruh di istana kerajaan raja Narai.[10] Namun sebelum itu, Phaulkon memiliki seorang putri yang lahir dari seorang dayang istana yang diberikan kepadanya oleh Putri Sudawadi untuk mengikat Phaulkon ke istana kerajaan. Setelah pernikahan, Maria mengirim gadis itu ke Phitsanulok.[10][11] Namun, ada yang mengatakan bahwa Maria membesarkan gadis itu seperti anak perempuannya sendiri.[9] Selain itu, Maria dan suaminya menjadi pelindung bagi lebih dari 120 anak yatim piatu yang telah memeluk agama Katolik.[12]
Selama periode perbaikan hubungan antara Prancis dan istana Siam, Maria Guyomar de Pinha, bersama suaminya Phaulkon, dijanjikan perlindungan Prancis dengan dianugerahi gelar bangsawan Countess Prancis.
Hingga pada tahun 1688 raja Narai digulingkan dari tahta oleh kerabatnya sendiri dan Constantine Phaulkon dihukum mati dengan tuduhan mengkhianati kerajaan Siam oleh penguasa yang baru raja Phetracha (sekalipun dari abad ke abad tuduhan ini diragukan oleh banyak pihak karena Constantine Phaulkon dianggap merupakan orang yang sangat setia kepada raja Narai).
Setelah kematian Constantine Phaulkon, Maria Guyomar de Pinha sempat melarikan diri dari Ayutthaya bersama kedua puteranya yang masih kecil karena takut mereka akan dibunuh oleh penguasa yang baru. Ia berhasil melarikan diri dari Ayutthaya dengan bantuan seorang perwira Prancis bernama Sieur de Sainte-Marie dan berlindung di antara pasukan Prancis di Bangkok pada tanggal 4 Oktober, tetapi Komandan benteng Prancis, Jenderal Desfarges, mengembalikannya ke Siam di bawah tekanan dari penguasa baru, perampas kekuasaan Phetracha, untuk pertukaran sandera pada tanggal 18 Oktober.[13] Kemudian, dia ditangkap dan dijadikan budak di dapur kerajaan raja Phetracha.[14] Awalnya Maria Guyomar de Pinha diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh orang-orang di istana, tetapi di tengah keadaannya yang demikian, dia malah mengambil kesempatan itu untuk memperkenalkan tentang YESUS Kristus kepada budak-budak lain yang ada di istana, melalui dirinya Kekristenan berhasil masuk di kerajaan Ayutthaya pada waktu itu meskipun di kalangan para budak-budak kerajaan.
Dan karena talentanya yang luar biasa dalam membuat dessert dan masakan, raja Phetracha mengangkatnya menjadi kepala dapur di istana, padahal sebelumnya raja Phetracha hanya menganggapnya sebagai budak rendahan yang tidak berarti. Karena kesetiaannya dan ketekunannya, raja Phetracha kemudian menjadikannya Racha Mantri dan dia diangkat menjadi pengawas orang-orang Kristen di Ayutthaya dan pejabat yang bertanggung jawab atas gudang-gudang kerajaan. Orang-orang Kristen di Ayutthaya semakin bertambah di kalangan para budak-budak karena kesetiaan dari Maria Guyomar de Pinha yang terus-menerus sepanjang hidupnya mewartakan injil kepada mereka.
Di masa tuanya, Maria, bersama dengan menantunya Louisa Passagna (janda João), terus menggugat Perusahaan Hindia Timur Prancis untuk mendapatkan kembali uang yang telah dipinjamkan suaminya, Phaulkon, kepada perusahaan tersebut. Ia dibebaskan dari tuduhan pada tahun 1717 melalui dekrit dari Dewan Negara di Prancis, yang memberinya tunjangan hidup.[15] Maria meninggal pada tahun 1728.
Peran Maria Guyomar ditampilkan dalam serial drama sejarah TV tahun 2018 Love Destiny (judul asli Bupphesanniwat) dan serial drama sejarah TV tahun 2023 Love Destiny 2. Dia diperankan oleh aktris Anglo-Thailand Susira Naenna.