Margamkali merupakan tari tradisional Umat Kristen Santo Tomas, yang berasal dari Kerala, India. Tarian tersebut umumnya dipraktikkan dan dipopulerkan oleh subetnis komunitas tersebut yang dikenal sebagai Knanaya. Margamkali sendiri merupakan tarian yang digunakan untuk menceritakan kehidupan dan karya misi Rasul Tomas, yang didasarkan pada kitab apokrifa abad ke-3 Kisah Rasul Tomas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari sebuah serial tentang |
| Umat Kristen Santo Tomas |
|---|
Margamkali merupakan tari tradisional Umat Kristen Santo Tomas, yang berasal dari Kerala, India. Tarian tersebut umumnya dipraktikkan dan dipopulerkan oleh subetnis komunitas tersebut yang dikenal sebagai Knanaya.[1][2][3] Margamkali sendiri merupakan tarian yang digunakan untuk menceritakan kehidupan dan karya misi Rasul Tomas, yang didasarkan pada kitab apokrifa abad ke-3 Kisah Rasul Tomas.[2][4]
Berbagai bentuk dan gaya Margamkali telah ada secara praktik selama berabad-abad di dalam komunitas Kristen Suryani di Kerala. Pada masanya, terdapat dua jenis Margamkali yang populer, yakni versi dari Utara Kerala yang dipraktikkan oleh Kristen Santo Tomas, dan versi dari selatan Kerala, yang dipopulerkan oleh Knanaya.[5] Sejarawan Istvan Perczel mencatat bahwa hanya versi yang dipopulerkan oleh Knanaya saja yang masih ada sampai hari ini, di mana praktik dasarnya menggunakan sajak 14 bait yang ditulis oleh pendeta asal Knanaya, Anjilimootil Itti Thomman pada abad ke-17.[6]
Terdapat berbagai pendapat mengenai asal-muasal Margamkali. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa tradisi ini berasal dari tarian dan nyanyian pernikahan orang Yahudi perantauan,[7] khususnya Yahudi Cochin.[7][8] Beberapa sejarawan seperti P.M. Jussya dan Shalva Weil menemukan berbagai kesamaan dalam adat dan ritual dari umat Kristen Knanaya dan Yahudi Cochin.[9][10] Pendapat lain mengemukakan bahwa asal tarian ini diturunkan dari tarian tradisional kasta Brahmana Sangam Kali[11][12] atau Yathra Kali, di mana yang terakhir merupakan tarian yang dipraktikkan oleh Brahmana dari Nambudiri.[13]
Etimologi Margamkali berasal dari kata "Margam", yang dalam bahasa Malayalam berarti "jalan" atau "solusi", di mana dalam konteks tarian ini, kata tersebut dapat berarti "jalan menuju keselamatan". Margakali sendiri mengisahkan kehidupan dan karya misi Rasul Tomas di Malabar melalui tarian dan nyanyian, termasuk mukjizat-mukjizat yang ia lakukan, interaksinya dengan masyarakat Malabar, kemartirannya, dan gereja-gereja yang ia dirikan. Detail-detail ini tercantum dalam nyanyian yang dimainkan dalam Margamkali. Hal ini menjadikan tarian tersebut sebagai elemen penting dalam tradisi umat Kristen Santo Tomas di Pesisir Malabar.[14]
Pada masa prakolonial, Margamkali, bersamaan dengan Parichamuttukali merupakan tarian yang umum dibawakan dalam acara-acara khusus Kristen Santo Tomas. Sinode Diamper pada tahun 1599 kemudian membatasi tradisi tersebut beserta dengan tradisi lain yang mirip dengan tradisi umat Hindu di kawasan tersebut. Selama abad ke-17, tradisi ini mulai dilestarikan oleh pastor dari Knanaya, Itti Thoman Kathanar, yang telah melestarikan berbagai bukti tekstual tradisi tersebut. Diketahui bahwa pada masa itu, Margamkali telah bertransformasi menjadi bentuk yang digunakan saat ini. Meski demikian, kesenian ini tidak banyak dimainkan hingga akhir abad ke-19.[15]
Kepopuleran Margamkali mulai terasa pada awal ke-20 oleh berbagai seniman dari Kerala seperti Kalarikal Unni dan Indumoottil Kutto. Cendekiawan dari Knanaya, Puttanpurikkal Uthuppu Lukose menyusun dan menerbitkan kumpulan lagu yang dikenal sebagai Margamkali Pattukal pada tahun 1910. Pada tahun 1925, kesenian tersebut dibawakan ke Roma dalam Pameran Misi di Vatikan. Meski demikian, umat Kristen Santo Tomas lain, termasuk yang dari utara, menganggap bahwa kesenian tersebut sebagai "pertunjukkan yang tidak sopan" dan "mungkin akan menghina seluruh umat Kristen Santo Tomas".[15]
Pada tahun 1960-an, pakar budaya rakyat Chummar Choondal melakukan survei mengenai Margamkali ini dan mencatat bahwa kesenian ini hanya dipraktikkan oleh komunitas Knanaya.[15] Sejak tahun 1970-an, Choondal bersama dengan imam Knanaya, George Karukaparambil dan Jacob Vellian, melakukan penelitian bersama untuk merevitalisasi tradisi tersebut. Kuriakose Kunnacherry, Eparki Agung Kottayam, membantu penelitian tersebut dan membangun lembaga Hadusa sebagai institusi kebudayaan Kristen Santo Tomas.[3]

Pada umumnya, Margamkali dilakukan oleh dua belas penari yang bernyanyi dan menari mengelilingi Nilavillaku dengan mengenakan pakaian yang dikenal sebagai Chattayum Mundum. Lampu Nilavillaku merepresentasikan Yesus Kristus dan penari yang mengelilinginya merepresentasikan murid-muridnya. Pertunjukkan tersebut dilakukan dalam dua bagian (yang dikenal sebagai "padham") dan dimulai dengan lagu dan tari yang mengisahkan hidup Rasul Tomas. Tarian tersebut kemudian berubah menjadi pertunjukkan bela diri dengan menggunakan pedang dan perisai tiruan. Lagu yang dibawakan dalam Margamkali biasanya menggunakan dua simbal kecil seukuran telapak tangan, yang dimainkan oleh orang yang sama yang menyanyikan lagu. Margamkali sendiri pada awalnya dimainkan oleh pria dewasa. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini juga dilakukan oleh anak laki-laki dan, kemudian, wanita.
Margamkali dan Parichamuttukali merupakan salah satu dari kesenian yang dibawakan dalam Festival Pemuda Negara Bagian Kerala. Seperti Parichamuttukali, Margamkali juga dipentaskan sebagai kompetisi antar siswa. Saat ini, Margamkali lebih banyak dimainkan oleh perempuan dalam pertunjukan budaya dan oleh siswa sekolah dalam berbagai kompetisi.[16]
Media terkait Margamkali di Wikimedia Commons