Pdt. Mangihut Mangaraja Hezekiel Manullang, dikenal sebagai Mangaraja Hezekiel Manullang atau M.H. Manullang saja, dijuluki oleh Belanda sebagai Tuan Manullang, adalah seorang pendeta di Tanah Batak yang mendirikan Hatopan Kristen Batak. Ia berasal dari Bangkara dari keluarga pengikut Si Singamangaraja. Pada tahun 1918, dalam kongres Hatopan Kristen Batak, Mangaraja Hezekiel Manullang terpilih menjadi ketua dengan Guru Polin Siahaan sebagai wakil ketua. Ia juga merupakan pahlawan perintis kemerdekaan bangsa Indonesia dan pelopor semangat kemandirian Gereja di Tanah Batak yang berkiprah dari tahun 1887 hingga 1979.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Mangihut Mangaraja Hezekiel Manullang | |
|---|---|
| Informasi pribadi | |
| Nama lahir | Mangihut Hezekiel Manullang |
| Lahir | (1887-12-20)20 Desember 1887 Peanajagar, Silindung, Bataklanden, Keresidenan Tapanuli |
| Meninggal | 20 April 1979(1979-04-20) (umur 91) Jakarta |
| Orang tua | Singal Daniel Manullang (ayah) Chaterine Aratua br. Sihite (ibu) |
Pdt. Mangihut Mangaraja Hezekiel Manullang (20 Desember 1887 – 20 April 1979), dikenal sebagai Mangaraja Hezekiel Manullang atau M.H. Manullang saja, dijuluki oleh Belanda sebagai Tuan Manullang, adalah seorang pendeta di Tanah Batak yang mendirikan Hatopan Kristen Batak. Ia berasal dari Bangkara dari keluarga pengikut Si Singamangaraja.[1] Pada tahun 1918, dalam kongres Hatopan Kristen Batak, Mangaraja Hezekiel Manullang terpilih menjadi ketua dengan Guru Polin Siahaan sebagai wakil ketua.[2] Ia juga merupakan pahlawan perintis kemerdekaan bangsa Indonesia dan pelopor semangat kemandirian Gereja di Tanah Batak yang berkiprah dari tahun 1887 hingga 1979.
Mangaraja Hezekiel Manullang lahir di Peanajagar pada 20 Desember 1887. Ayahnya bernama Singal Daniel Manullang, sedangkan ibunya bernama Chaterine Aratua br. Sihite. Mangaraja pernah mengenyam pendidikan di Singkola Anakni Raja di Narumonda, Porsea pada tahun 1903, tetapi diberhentikan pada tahun 1905. Ia diberhentikan karena terlalu kritis terhadap Singkola Anakni Raja. Salah satu kritiknya adalah mempertanyakan masa depan siswa tamatan Singkola Anakni Raja
Tahun 1905, Mangaraja Hezekiel Manullang menerbitkan surat kabar berbahasa Batak "Binsar Sinondang Batak" di Padang. Lewat surat kabar itu, Mangaraja mengawali gerakan membuka mata orang Batak agar memperjuangkan nasibnya sendiri. Ia juga mulai mengkritik tindakan pemerintah kolonial Belanda, yang menyakiti jiwa masyarakat dengan kerja rodi.
Ia melanjutkan pendidikan sekolah di Methodist Senior Cambridge School (MSCS), Singapura, dari tahun 1907 hingga 1910.
Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia melalui SK Menteri Sosial RI No. POL. 677/67/PK, 2 Oktober 1967.