Makanan jiwa adalah makanan etnis Afrika-Amerika yang berkaitan erat dengan makanan Amerika Serikat bagian selatan. Ungkapan soul food berasal dari pertengahan 1960-an ketika soul menjadi kata umum yang digunakan untuk menggambarkan budaya Afrika-Amerika. Makanan jiwa menggunakan teknik memasak dan bahan-bahan dari masakan Afrika Barat, Afrika Tengah, Eropa Barat serta pribumi Amerika.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Makanan jiwa (bahasa Inggris: Soul food) adalah makanan etnis Afrika-Amerika yang berkaitan erat dengan makanan Amerika Serikat bagian selatan.[1] Ungkapan soul food berasal dari pertengahan 1960-an ketika soul menjadi kata umum yang digunakan untuk menggambarkan budaya Afrika-Amerika.[2] Makanan jiwa menggunakan teknik memasak dan bahan-bahan dari masakan Afrika Barat, Afrika Tengah, Eropa Barat serta pribumi Amerika.[3]
Makanan jiwa awalnya diremehkan karena kualitasnya yang rendah dan asal-usulnya. Masakan ini dianggap sebagai makanan kelas bawah, dan orang Afrika-Amerika di Utara memandang rendah rekan-rekan mereka yang berkulit hitam di Selatan yang lebih menyukai makanan jiwa.[4] Seiring berjalannya waktu, makanan jiwa yang identik sebagai makanan para budak di Amerika Serikat Selatan kemudian menjadi kebanggaan utama bagi komunitas Afrika-Amerika, termasuk di wilayah utara, seperti di New York City, Chicago, dan Detroit.[5] Bahkan, setiap tahun pada bulan Juni kini diperingati sebagai bulan makanan jiwa nasional.[6]
Menurut sejarawan makanan jiwa, Adrian Miller, perbedaan antara makanan jiwa dan makanan Amerika Serikat Selatan adalah makanan jiwa dibumbui secara intens dan menggunakan beragam daging serta menambahkan beragam saus pedas dan gurih untuk menambah cita rasa yang kuat.[7]
Penggunaan kata "makanan jiwa" paling awal untuk menggambarkan suatu jenis masakan ditemukan dalam memoar seorang mantan budak bernama Thomas L. Johnson yang diterbitkan pada tahun 1909. Dalam memoar tersebut, Johnson menggambarkan tentang sebuah gereja yang menyuguhi jemaatnya makanan. Ia menulis: "Ada beberapa orang, ketika berkhotbah, hanya menyampaikan tiga perempat kebenaran, atau kurang, ketika menyajikan hidangan makanan jiwa untuk memuaskan selera orang-orang yang harus mereka puaskan."[8]
Istilah makanan jiwa menjadi populer selama tahun 1960-an dan 1970-an di tengah gerakan Kekuatan Hitam (Black Power movement). Salah satu penggunaan tertulis paling awal dari istilah ini ditemukan dalam "The Autobiography of Malcolm X", yang diterbitkan pada tahun 1965. LeRoi Jones (yang kemudian dikenal sebagai Amiri Baraka) menerbitkan sebuah artikel berjudul "Makanan Jiwa" yang kemudian menjadi salah satu pendukung utama penetapan makanan tersebut sebagai bagian dari identitas orang Amerika Kulit Hitam.[9]