Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiMakam Bukit Batu
Artikel Wikipedia

Makam Bukit Batu

Kompleks Makam Bukit Batu adalah salah satu situs sejarah penting yang berada di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kompleks makam ini dikenal sebagai makam keluarga Kerajaan Melayu Bentan yang juga dikenal sebagai makam 7 Puteri Kerajaan Bintan, dan merupakan bagian dari sejarah panjang perkembangan masyarakat Melayu di Pulau Bintan. Meskipun makam ini belum ditetapkan secara resmi sebagai situs cagar budaya oleh pemerintah daerah, makam ini telah diinventaris oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar dengan nomor 10/BCB-TB/C/03/2010. Keberadaan Kompleks Makam Bukit Batu pertama kali dicatat pada tahun 1872 oleh Johanes Elias Teysman, seorang ahli botani dari Kebun Raya Bogor, yang dimuatnya dalam Laporan Sebuah Ekspedisi Botani ke beberapa daerah yaitu Daerah Bangka, Riau, dan Lingga. Enam tahun kemudian pada tahun 1883, seseorang berkebangsaan Belanda Selanjutnya, pada tahun 1883, J.G. Schot juga melaporkan makam ini dalam tulisannya berjudul Bijdrage tot Kennis van Oud Bintan, yang membahas sejarah Bintan lama.

Wikipedia article
Diperbarui 21 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Makam Bukit Batu
Kompleks Makam Bukit Batu,Bintan
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Cagar budaya Indonesia
PeringkatProvinsi
KategoriSitus
No. Regnas
KB003755
Lokasi
keberadaan
Jalan Tok Telani – Bintan Buyu, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau 29133, Indonesia
No. SK10/BCB-TB/C/03/2010
Tanggal SK8 Agustus 2019
PemilikPemerintah Kabupaten Bintan
PengelolaBalai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV


Kompleks Makam Bukit Batu adalah salah satu situs sejarah penting yang berada di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kompleks makam ini dikenal sebagai makam keluarga Kerajaan Melayu Bentan yang juga dikenal sebagai makam 7 Puteri Kerajaan Bintan, dan merupakan bagian dari sejarah panjang perkembangan masyarakat Melayu di Pulau Bintan. Meskipun makam ini belum ditetapkan secara resmi sebagai situs cagar budaya oleh pemerintah daerah, makam ini telah diinventaris oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar dengan nomor 10/BCB-TB/C/03/2010. Keberadaan Kompleks Makam Bukit Batu pertama kali dicatat pada tahun 1872 oleh Johanes Elias Teysman, seorang ahli botani dari Kebun Raya Bogor, yang dimuatnya dalam Laporan Sebuah Ekspedisi Botani ke beberapa daerah yaitu Daerah Bangka, Riau, dan Lingga. Enam tahun kemudian pada tahun 1883, seseorang berkebangsaan Belanda Selanjutnya, pada tahun 1883, J.G. Schot juga melaporkan makam ini dalam tulisannya berjudul Bijdrage tot Kennis van Oud Bintan, yang membahas sejarah Bintan lama.[1]

Sejarah dan Tokoh-tokohnya

Nama-nama tokoh di Makam Bukit Batu

Di dalam kompleks Makam Bukit Batu terdapat enam makam utama, yaitu Budayana, Wan Pok (Wan Empuk), Wan Malani, Wan Sri Beni, Tok Telani, dan Tok Hile (Tok Kelaun). Wan Pok dan Wan Telani merupakan dua orang perempuan yang berasal dari Bukit Seguntang Mahameru bukit bersejarah di Palembang, Sumatera Selatan.Wan Pok dan Wan Telani sampai ke Bintan mengikuti suami (Nila Pahlawan dan Krisna Pendeta) yang merupakan sahabat Sang Sapurba dan Demang Lebar Daun yang merupakan penguasa Sriwijaya. Wan Pok dan Wan Telani melakukan hijrah ke Bintan pada Abad ke XII. Selanjutnya, Tok Telani adalah putra Demang Lebar Daun yang merupakan juga salah satu daerah di Palembang, Sumatera Selatan. Beliau memangku jabatan setelah Bintan membuka negeri baru di Tumasik (Singapura). Sedangkan Wan Sri Beni adalah puteri Bintan yang menikah dengan Sang Nila Utama, putera Sang Sapurba. Sedangkan Tok Hile merupakan kerabat dekat Budayana (permaisuri) yang membantu dalam menjalankan pemerintahan setempat.[2] Bahkan di salah satu nisan terdapat tanda tahun 974 Hijriyah (1566 M), yang menunjukkan bahwa keberadaan kompleks makam sudah ada sejak masa akhir abad ke-16.

Tradisi Ziarah

Dalam setiap momentum Isra Miraj menjadi penting bagi sebagian masyarakat Bintan yang secara rutin menggelar doa bersama di Makam Bukit Batu. Dalam kebiasaan ziarah makam umumnya dilakukan setiap tanggal 27 bulan Rajab dan jika peziarah melakukan ziarah makam di luar dari hari tersebut dalam artian peziarah dapat melakukan ritual pada hari apa saja, namun waktu yang diyakini oleh masyarakat melayu di Desa Bintan yaitu 27 bulan Rajab. Terdapat beberapa prosesi ziarah yang dilakukan oleh masyarakat Bintan yang menjadi budaya atau kebiasaan bagi para masyarakat. Contohnya yaitu meletakkan pulut kuning dan telur merah di area makam, membakar aroma wewangian seperti kemenyan, dan kemudian melakukan prosesi ziarah pada umumnya seperti berdoa dan berzikir bersama. Setelah pembacaan doa selesai barulah pulut dan telur merah diambil lagi untuk dimakan, dan hal ini ditandai sebagai penutup ziarah yang dilaksanakan yaitu dengan makan bersama para peziarah.[3]

Referensi

  1. ↑ admin (2022-03-15). "KOMPLEK MAKAM BUKITBATU". Diakses tanggal 2026-01-04.
  2. ↑ Bintankab. "Warisan Budaya". bintankuindonesia.bintankab.go.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-01-04.
  3. ↑ Desti, Rita Sintiya (2 Oktober 2022). "TRADISI ZIARAH MAKAM PADA MASYARAKAT MELAYU DI DESA BINTAN BUYU KABUPATEN BINTAN" (PDF). ) JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN HUMANIORA. Volume 13. ;

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah dan Tokoh-tokohnya
  2. Tradisi Ziarah
  3. Referensi

Artikel Terkait

Bukit Seguntang

gunung di Indonesia

Makam Raja Ahmad

Makam Sultan Ahmad, yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan gelar Marhum Bukit Batu, merupakan sebuah situs cagar budaya penting yang terletak di

Daftar taman makam pahlawan di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026