Mabuk gawai, lalai gawai, cuai gawai, atau gemawai adalah sikap cuai atau abai terhadap lawan bicara atau lingkungan sekitar karena terlalu asyik menggunakan gawai.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini perlu diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. |
Mabuk gawai, lalai gawai, cuai gawai, atau gemawai[1] (bahasa Inggris: phubbingcode: en is deprecated ) adalah sikap cuai atau abai terhadap lawan bicara atau lingkungan sekitar karena terlalu asyik menggunakan gawai.
Istilah phubbing diciptakan oleh Macquarie Dictionary untuk menggambarkan sikap mengabaikan seseorang demi telepon genggam. Pada Mei 2012, biro pengiklanan di balik kampanye, McCann, telah mengundang sejumlah ahli perkamusan, pengarang, dan pensyair menciptakan neologisme untuk menggambarkan perilaku tersebut. Kata "phubbing", lakuran phone dan snubbing, pertama kali dijelaskan oleh Direktur Akun McCann Group, Adrian Mills, yang bekerja dengan David Astle.[2] Istilah ini telah muncul di media seluruh dunia dan dipopulerkan oleh kampanye "Hentikan Mabuk Gawai" yang dibuat oleh McCann.[3]
Bentuk-bentuk seseorang melakukan Phubbing terhadap lawan bicaranya diantaranya terlalu konsentrasi pada smartphone-nya pada saat melalukan interaksi dengan lawan bicaranya (kecanduan smartphone). Hal ini disebabkan sebagai berikut:
Kampanye ini diambil oleh berbagai saluran media, terutama yang ada di Britania Raya, Meksiko, dan Jerman. Pers melaporkan survei yang menunjukkan statistik jumlah orang yang "mabuk gawai" dan panduan etiket diterbitkan.[4][5]
Pada Oktober 2015, saluran media (seperti TODAY[6] dan Digital Trends[7]) melaporkan sebuah kajian oleh James A. Roberts, profesor pemasaran Sekolah Bisnis Hankamer Universitas Baylor, yang diterbitkan dalam jurnal "Computers In Human Behavior". Kajian ini terdiri dari dua tinjauan terpisah terhadap lebih dari 450 orang dewasa AS untuk mempelajari efek hubungan "mabuk gawai" atau mabuk gawai pasangan. Tinjauan tersebut mendapati bahwa 46,3 persen responden mengatakan pasangan mereka mabuk gawai dan 22,6 persen mengatakan hal tersebut menyebabkan masalah dalam hubungan mereka.[6] Dalam wawancara dengan Yahoo! Health, Roberts berkata, "Kami mendapati bahwa mereka yang melaporkan mabuk gawai pasangan lebih banyak bertengkar dengan pasangan mereka dan kurang puas dengan hubungan mereka dibandingkan mereka yang melaporkan mabuk gawai lebih sedikit.".[7]
Mabuk gawai telah dikaitkan dengan jenis penggunaan media sosial yang bermasalah, serta penggunaan internet patologis.[8][9] Penelitian ini menunjukkan bahwa mabuk gawai mungkin merupakan mekanisme koping untuk membantu orang menghadapi emosi negatif mereka.[8][10] Oleh sebab itu, mabuk gawai bersifat candu dan merusak berdasarkan penggunaan yang berulang dan terus-menerus.[11][8]
Beberapa tanda umum phubbing antara lain kebiasaan memegang ponsel saat berinteraksi, memeriksa notifikasi di tengah percakapan, atau refleks membuka ponsel ketika bergetar. Kebiasaan ini membuat komunikasi tatap muka menjadi kurang efektif dan dapat menimbulkan kesan tidak menghargai lawan bicara.
Dengan adanya telepon genggam dapat mempermudah seseorang dalam berbagai hal. Seperti contohnya adalah telepon genggam dalam dunia pendidikan yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mencari informasi yang mendukung suatu bidang dalam waktu sebentar. Namun sayangnya banyak orang juga yang masih kurang bijak dalam menggunakan telepon genggam. Yang malah berujung terganggunya kehidupan sehari-hari dan begitu juga dengan interaksinya, sehingga hal ini berakhir dengan mabuk gawai.[12]
Suatu perilaku seseorang yang menggunakan media sosial secara berlebihan, sehingga lupa dengan waktu dan mengabaikan lingkungan di sekitarnya.
Perilaku seseorang dengan kecenderungan untuk merasa bosan, karena kurangnya stimulasi yang memadai dalam lingkungan dan sosial. Sikap ini membuat seseorang merasa tidak puas dan gelisah ketika menghadapi situasi yang tidak menarik atau monoton baginya.
Ketidakmampuannya seseorang dalam mengontrol diri dalam menggunakan telepon genggam atau media sosial yang menyebabkan seseorang dapat mengalami kecanduan internet.
Konformitas sendiri adalah pengaruh sosial yang di mana individu mengubah sikap dan perilaku sesuai dengan kelompok sosial atau lingkungan di sekitarnya. Sehingga ketika suatu lingkungan cenderung melakukan perilaku mabuk gawai, maka individu yang sebelumnya tidak pernah melakukan mabuk gawai menjadi terbawa oleh arus dari kelompok sosial tersebut dengan berakhir melakukan perilaku mabuk gawai.[13]
Partner Phubbing atau mabuk gawai kepada pasangan didefinisikan sebagai mana pasangan romantis menggunakan atau terdistraksi oleh telepon genggamnya ketika sedang bersama. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Roberts dan David (2016) menunjukkan bahwa mabuk gawai kepada pasangan merupakan perilaku yang umum terjadi dalam hubungan romantis modern dan memiliki dampak yang signifikan terhadap kepuasan hubungan. Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa penggunaan gawai di hadapan pasangan secara berlebihan memicu konflik terkait penggunaan gawai (cell phone conflict), yang kemudian menurunkan kepuasan hubungan (relationship satisfaction). Konflik ini muncul karena individu yang menjadi korban mabuk gawai merasa prioritasnya kalah dibandingkan notifikasi dan pesan yang diterima pasangan. [14]
Dalam konteks keluarga, anak-anak yang sering melihat orang tuanya sibuk dengan telepon genggamnya cenderung melemahkan self-esteem anak tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Xiao dan Zhang. (2022) berjudul “The Effect of Parental Phubbing on Depression in Chinese Junior High School Students: The Mediating Roles of Basic Psychological Needs Satisfaction and Self-Esteem” meneliti bagaimana perilaku mabuk gawai dari orang tua berpengaruh terhadap kecemasan sosial pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parental phubbing memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap hubungan interpersonal antara orang tua dan anak. Ketika orang tua sering menggunakan gawai di hadapan anak, kualitas kelekatan emosional mereka menurun, yang kemudian menyebabkan anak merasa kurang diperhatikan dan tidak dipedulikan. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan munculnya kecemasan sosial pada remaja, yaitu perasaan canggung, tidak nyaman, dan takut dinilai negatif oleh orang lain dalam situasi sosial.[15]