Li Shuxian (Hanzi: 李淑賢; Pinyin: Lǐ Shūxían; Wade–Giles: Li3 Shu1-hsien2; 4 September 1924 – 9 Juni 1997) adalah istri kelima dan terakhir dari Puyi, Kaisar terakhir Tiongkok dari Dinasti Qing.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Li Shuxian | |
|---|---|
Li Shuxian (kiri) dan suaminya, Puyi (kanan) | |
| Kelahiran | (1924-09-04)4 September 1924 Republik Tiongkok |
| Kematian | 9 Juni 1997(1997-06-09) (umur 72) Republik Rakyat Tiongkok |
| Pasangan | |
Li Shuxian (Hanzi: 李淑賢; Pinyin: Lǐ Shūxían; Wade–Giles: Li3 Shu1-hsien2; 4 September 1924 – 9 Juni 1997) adalah istri kelima dan terakhir dari Puyi, Kaisar terakhir Tiongkok dari Dinasti Qing.[1]
Li merupakan seorang etnis Han dan menjadi yatim piatu pada 14 tahun. Setelah 3 tahun dibesarkan melalui pengasuhan, ibu asuhnya mencoba menikahkannya sebagai selir untuk seorang pria kaya. Li menolak dan melarikan diri ke Beijing untuk menjadi perawat rumah sakit.[2] Pada 1959, Puyi yang sudah dikurung di penjara setelah 10 tahun akibat kejahatan perang sebagai kepala negara boneka Manchukuo diberikan grasi. Keduanya dikenalkan melalui seorang teman pada 1962 dan menikah pada tahun yang sama.[1] Pernikahan ini direstui oleh Perdana Menteri Zhou Enlai. Ini merupakan pernikahan ketiga untuk Li, sementara bagi Puyi, pernikahan kelima.[3] Keduanya tidak memiliki anak. Li tetap berada di sisi Puyi sampai akhir hayatnya.[4]

Setelah Puyi meninggal dunia, Li pensiun dari kehidupan publik. Ia bukan bekerja sebagai seorang perawat rumah sakit reguler, namun ia menambah penghasilannya dengan tunjangan khusus dari pemerintah yang memberinya stabilitas keuangan sampai batas tertentu.[5] Pada awal dekade ke-80, ia mencoba dan menerima kepemilikan sah atas royalti dari otobiografi Puyi yang berada di tangan pemerintah Tiongkok.[6]
Dibawah persetujuan pemerintah, Li memindahkan abu jasad Puyi lebih dekat menuju ke pemakaman leluhurnya di Makam Qing Barat (清西陵) dari Pemakaman Revolusioner Babaoshan, pada akhirnya membiarkan Puyi beristirahat di dekat pendahulunya. Li sendiri meninggal akibat kanker paru-paru pada usia 72 tahun. Puyi berniat untuk dikubur dengannya beserta selir pertamanya, Tan Yuling (潭玉齡). Li Shuxian menolak karena merasa ia sudah memberikan Puyi cukup waktu dan energinya untuk mencintainya.[3] Secara terhormat, keluarga besar Aisin Gioro menghormati Li Shuxian sebagai seorang Permaisuri dengan gelar "Permaisuri Xiaoruimin", membuatnya setara dengan Wanrong.
Memoar Li diterbitkan secara anumerta dengan judul Modai Huangdi Puyi yu wo (末代皇帝溥仪与我; ''Kaisar Terakhir Puyi dan Saya''). Penulisnya, Wang Qingxiang (王慶祥), mengumpulkan wawancara lisan dengan Li Shuxian, bersama dengan orang-orang lain yang dekat dengan Puyi di tahun-tahun terakhirnya, untuk menceritakan kembali kehidupan pernikahan dan keluarga mereka. Li terkadang disebut sebagai salah satu penulis buku tersebut.[7]