Leonid adalah hujan meteor tahunan yang berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle. Fenomena ini termasuk salah satu hujan meteor paling cepat dan paling dikenal dalam astronomi. Fenomena ini dapat menimbulkan badai meteor dengan intensitas tinggi setiap sekitar 33 tahun sekali. Nama Leonid berasal dari lokasi titik pancar yang terletak di rasi bintang Leo. Dari permukaan Bumi, meteor dalam hujan meteori tampak seolah memancar keluar dari satu titik di langit yang bertepatan dengan posisi rasi tersebut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Leonid (/ˈliːənɪdz/ LEE-ə-nidz) adalah hujan meteor tahunan yang berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle. Fenomena ini termasuk salah satu hujan meteor paling cepat dan paling dikenal dalam astronomi. Fenomena ini dapat menimbulkan badai meteor dengan intensitas tinggi setiap sekitar 33 tahun sekali.[1] Nama Leonid berasal dari lokasi titik pancar yang terletak di rasi bintang Leo. Dari permukaan Bumi, meteor dalam hujan meteori tampak seolah memancar keluar dari satu titik di langit yang bertepatan dengan posisi rasi tersebut.[2]
Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi aliran meteoroid yang tersisa dari lintasan komet. Partikel-partikel padat tersebut terbentuk ketika gas beku pada inti komet menguap akibat panas Matahari setelah melewati orbit Jupiter. Karena komet 55P/Tempel–Tuttle memiliki orbit retrograd, meteoroid Leonid bergerak sangat cepat dan memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 70 kilometer per detik, menjadikannya hujan meteor tercepat yang diamati secara tahunan.[3] Meteoroid berukuran sekitar satu sentimeter dapat menghasilkan meteor terang dengan magnitudo semu hingga −1,5,[4] secara keseluruhan Leonid dapat menyebarkan 12 hingga 13 ton partikel ke permukaan Bumi setiap tahunnya.[5]
Jejak partikel yang ditinggalkan oleh komet membentuk jalur meteoroid yang orbitnya menyerupai orbit komet induk, tetapi mengalami perubahan akibat pengaruh gravitasi planet, terutama Jupiter,[6] serta tekanan radiasi dari Matahari melalui efek Poynting-Robertson dan efek Yarkovsky.[7] Ketika Bumi melewati jalur tersebut, hujan meteor terjadi. Jalur yang lebih tua cenderung jarang partikel dan menghasilkan sedikit meteor, sedangkan jalur muda lebih padat dan dapat menimbulkan ledakan aktivitas meteor.[8]
Hujan meteor Leonid biasanya mencapai puncak aktivitas sekitar tanggal 18 November, meskipun waktu puncaknya dapat berubah dari tahun ke tahun. Dalam kondisi biasa, hujan meteor ini menghasilkan beberapa meteor per jam. Namun, pada periode badai meteor yang terjadi setiap tiga dekade lebih, aktivitasnya dapat melebihi 1.000 meteor per jam,[9] bahkan dalam beberapa peristiwa sejarah tercatat lebih dari 100.000 meteor per jam. Fenomena tersebut menjadikan Leonid sebagai salah satu hujan meteor paling penting dan paling banyak dipelajari dalam bidang astronomi.[10]
| Ukuran | Magnitudo semu | Tingkat kecerahan yang sebanding |
|---|---|---|
| 2 mm (1⁄16 in; 0,2 cm) | +3.7 (pengamatan visual) | Delta Ursae Majoris |
| 1 cm (3⁄8 in) | −1.5 (Meteor sangat terang) | Sirius |
| 2 cm (3⁄4 in) | −3.8 (Fireball) | Venus |