Putri Mandalika adalah sosok tokoh legenda yang berasal dari Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Legenda ini mengisahkan tentang pengorbanan seorang putri raja yang cantik jelita demi menjaga perdamaian dan persatuan di negerinya. Sosoknya dipercaya bertransformasi menjadi nyale yang muncul setahun sekali di pantai selatan Lombok.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Putri Mandalika adalah sosok tokoh legenda yang berasal dari Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Legenda ini mengisahkan tentang pengorbanan seorang putri raja yang cantik jelita demi menjaga perdamaian dan persatuan di negerinya. Sosoknya dipercaya bertransformasi menjadi nyale (cacing laut berwarna-warni) yang muncul setahun sekali di pantai selatan Lombok.[1][2]
Alkisah, terdapat sebuah kerajaan makmur di Pulau Lombok yang dipimpin oleh Raja Tonjang Beru dan Ratu Seranting. Mereka memiliki seorang putri bernama Putri Mandalika yang dikenal tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tetapi juga karena kebaikan hati dan kecerdasannya.
Ketika Putri Mandalika beranjak dewasa, berita tentang kecantikannya tersebar luas hingga ke berbagai negeri. Banyak pangeran dari berbagai kerajaan datang untuk melamarnya. Persaingan antar pangeran tersebut menjadi sangat sengit dan mulai mengancam stabilitas perdamaian di Pulau Lombok. Para pangeran tersebut mengancam akan berperang jika lamaran mereka ditolak oleh sang putri.
Menghadapi situasi tersebut, Putri Mandalika merasa tertekan karena ia tidak ingin keputusannya memicu pertumpahan darah di antara rakyatnya. Setelah melakukan semadi untuk meminta petunjuk, ia mengundang seluruh pangeran dan rakyat untuk berkumpul di Pantai Seger pada tanggal 20 bulan ke-10 menurut penanggalan Sasak.
Pada waktu yang ditentukan, saat fajar menyingsing, Putri Mandalika berdiri di atas bukit di tepi pantai. Di hadapan massa yang berkumpul, ia menyatakan bahwa dirinya tidak bisa memilih salah satu pangeran karena ia ingin menjadi milik semua orang dan menjaga kedamaian. Tak lama kemudian, ia menceburkan diri ke dalam laut dan menghilang ditelan gelombang.
Rakyat yang mencoba menolongnya tidak berhasil menemukan jasad sang putri. Namun, tak lama setelah itu, muncul kerumunan cacing laut berwarna-warni dalam jumlah yang sangat banyak di permukaan air. Masyarakat meyakini bahwa cacing-cacing tersebut, yang kemudian disebut nyale, merupakan jelmaan dari rambut dan sosok Putri Mandalika.
Legenda ini menjadi dasar utama pelaksanaan upacara adat Bau Nyale yang diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat Sasak. Festival ini dilakukan antara bulan Februari dan Maret, di mana ribuan orang berkumpul di pesisir pantai selatan Lombok untuk menangkap nyale. Bagi masyarakat setempat, munculnya nyale dianggap sebagai berkah dan simbol kehadiran sang putri yang membawa kesejahteraan.
Legenda Putri Mandalika mengandung nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh masyarakat Lombok:
Nama Putri Mandalika kini semakin dikenal secara internasional setelah digunakan sebagai nama sirkuit balap motor kelas dunia, yaitu Sirkuit Internasional Mandalika, yang terletak di kawasan yang sama dengan latar tempat legenda ini.